Arsip | Kisah Teladan RSS for this section

Belajar Dari Umar Bin Khattab


Umar-Bin-KhattabDikisahkan bahwa seorang dari pedalaman Arab datang ingin menghadap Umar bin Khattab. orang itu berharap Umar akan memberikan nasehat dan jalan keluar atas persoalan rumah tangga yang tengah dihadapinya.sebagai suami ia merasa sudah tidak punya harga diri .selalu saja menjadi objek omelan dan tajamnya lidah sang Istri.

Hingga sampai dimuka pintu rumah khalifah Umar,pria itu ragu dan berdiri didepan pintu menunggu Umar keluar,sebab ia mendengar istri Umar bersuara keras pada suaminya dan membantahnya sedangkan Umar diam tidak membalas ucapan istrinya.

Pria itu lalu berbalik hendak pergi,sambil berkata “Jika begini keadaan Umar dengan sifat keras dan tegasnya dan ia seorang amirul mukminin,maka bagaimana dengan keadaanku..?”

Umar keluar dan ia melihat orang itu hendak berbalik dan pergi dari pintu rumahnya seraya memanggil pria itu dan berkata “Apa keperluanmu wahai pria ?”

Wahai Amirul Mukminin semula aku datang hendak mengadukan kejelekan akhlak istriku dan sikapnya yang membantahku. Lalu aku mendengar istrimu berbuat demikian, maka akupun kembali sambil berkata, ”Jika demikian keadaan Amirul Mukminin bersama istrinya,maka bagaimana dengan keadaanku?”

Wahai saudaraku..sesungguhnya aku bersabar atas sikapnya itu karena hak-haknya padaku demikian kata Umar.

“Dia yang memasakkan makananku, yang mencucikan pakaianku, yang menyusui anak-anaku dan hatiku tenang dengannya dari perkara yang haram. Karena itu aku bersabar atas sikapnya”lanjut Umar.

“Jawaban Umar membuat pria tercenung kemudian berkata :”Wahai Amirul Mukminin,demikian pula istriku” karena itu,bersabarlah atas sikapnya wahai saudaraku…” Umar lalu menasehatinya.

Gagahnya Umar bin Khattab tiada yang menyangkal, demikian pula ketegasannya dalam bersikap.tapi sikap Umar terhadap istri begitu lembut dan penuh keteladanan bagi para suami.

Gagahnya umar tiada yang menyangkal,demikian pula ketegasanya dalam bersikap. tapi kisah Umar terhadap wanita istri yang dibacanya membuatnya seperti laki-laki yang belum mengenal pasangan hidup bahkan dirinya sendiri.

Wahai suami yang penyayang, Ketahuilah tinggalnya seorang istri dirumah tidak memberikan kesempatan beristirahat dan menikmati ketenangan, karena di sisinya ada anak-anak yang harus diasuhnya dan dididiknya agar mereka tumbuh dengan baik. Semua itu membutuhkan kesungguhan diri. hati dan jasmani darinya yang lebih besar dari kesungguhan yang harus anda curahkan di kantormu atau di ladang kerjamu.

Andai anda bergantian tugas dengannya, anda tidak akan mampu mengembannya walau hanya sesaat disiang hari.

Sujarwo

Sumber : http://cimanggu.wordpress.com/2010/08/28/belajar-dari-umar-bin-khattab/#more-578

Nabi Muhammad SAW. bersabda,

“Barang siapa yang bertambah ilmunya namun tiada bertambah amalnya Tiada bertambah baginya dengan Allah kecuali bertambah jauh “ (HR. Dailami dari Ali).

Nabi Muhammad SAW. juga bersabda,

“Orang yang paling pedih siksaannya pada hari kiamat ialah seorang alim yang Allah menjadikan ilmunya tidak bermanfaat.”  (HR. Al Baihaqi)

Wallahu a’lam bish-shawabi… (hanya Allah yang Mahatahu Kebenarannya)
Catatan ini kami tujukan untuk kami pada khususnya…
dan untuk semua pembaca pada umumnya…
Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini…
Itu hanyalah dari kami…
dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan…

Semoga Allah SWT. memberi kekuatan untuk kita amalkan… Amin
Wassalam

(http://pribadimanfaat.blogspot.com/2013/09/belajar-dari-umar-bin-khattab.html)

AMALAN WANITA PERTAMA PENGHUNI SURGA


Islamedia – Faathimah putri Rosulullah SAW mendapatkan kabar dari Ayahanda tercinta bahwa ada seorang wanita yang nanti akan menjadi wanita pertama memasuki Surga, seketika itu juga Fathimah merasa penasaran, apakah sejatinya amalan sang wanita tersebut. Berikut kisahnya, semoga kita semuanya dapat memetik Ibrohnya, terkhusus bagi mara Umahat yang mengabdikan
seluruh kehidupanya bagi Suami tercinta.

————————————————————————–

“Siapa di luar?”
“Aku Faathimah, putri Rasulullah.”
“Ada keperluan apa?”
“Aku ingin bersilaturahim saja.”
“Anda seorang diri atau bersama orang lain.”
“Aku datang bersama dengan putraku, Hasan.”

Kira-kira seperti itulah gambaran percakapan yang terjadi antara Faathimah dan Mutiah, di suatu hari di pinggiran kota Madinah. Faathimah hendak menemui Mutiah dengan membawa rasa penasaran karena Ayahnya menyatakan bahwa wanita tersebut adalah wanita yang pertama kali akan memasuki surga.
Faathimah kaget, kenapa bukan ia yang dijanjikan pertama kali masuk surga, padahal ia putri kesayangan Rasulullah SAW. Rasa penasaran inilah yang mengantarkan Faathimah mencari-cari rumah Mutiah untuk mengetahui seperti apa sosok wanita tersebut.

“Maaf Faathimah, “ Mutiah melanjutkan perkataannya dari dalam rumah, “Aku belum mendapat izin dari suami untuk menerima tamu laki-laki.”.

“Tapi, Hasan kan masih anak-anak.” Faathimah heran atas penolakan kunjungannya tersebut.

“Meskipun dia masih anak-anak, dia tetap laki-laki, yang aku harus meminta izin pada suamiku terlebih dahulu untuk menerima kunjungannya. Kembalilah esok hari setelah suamiku mengizinkannya.” Tersentaklah Faatimah mendengar argumentasi Mutiah. Namun, ia tak bisa menolak. Faatimah pun kembali pulang dan berencana datang lagi ke rumah Mutiah keesokan harinya.
Pada hari berikutnya, Faathimah datang kembali mengunjungi rumah Mutiah. Namun kali ini ia tidak hanya berdua bersama Hasan, Faathimah juga mengajak Husein yang merengek untuk ikut bersamanya.

Ketika tiba di kediaman Mutiah, terjadi lagi dialog seperti hari pertama, Faathmah mengetuk pintu dan ia mengatakan bahwa kedatangannya kali ini bersama dua orang putranya, Hasan dan Husein.

“Maaf Faathimah, aku belum bisa mengizinkanmu masuk. Suamiku hanya mengizinkan engkau dan Hasan saja yang boleh masuk, sedangkan Hussein, aku belum mendapati izinnya.”
Lagi-lagi, Faathimah takjub atas kesetiaan Mutiah pada suaminya. Ia begitu patuh dan menjaga diri hingga tak ada seorang pun laki-laki yang boleh ditemuinya saat sang suami tidak ada di rumah. Faathimah pun kembali pulang sambil menunggu izin Mutiah untuk bertamu di rumahnya.

Pada hari berikutnya, Faathimah kembali mengunjungi kediaman Mutiah. Kali ini, ia sudah mendapatkan izin untuk masuk ke dalam rumah Mutiah. Faathimah pun bersemangat untuk mengetahui amalan apa saja yang membuat wanita itu disebut-sebut oleh Rasulullah sebagai wanita pertama yang akan memasuki surga.
Selama berkunjung, Faathimah memperhatikan tidak ada aktifitas istimewa yang di lakukan oleh Mutiah selain hanya bolak-balik ruang tamu-dapur. Saat itu, menjelang siang, Mutiah sedang mempersiapkan makan siang untuk suaminya yang bekerja di ladang. Seketika makanan itu telah selesai dimasak, Mutiah kemudian memasukkannya ke dalam wadah. Namun, ada hal aneh yang dilihat oleh Faatimah. Selain, memasukkan makanan ke dalam wadah tersebut, Mutiah juga memasukkan cambuk untuk dibawanya ke ladang saat hendak memberi suaminya makan siang, Karena rasa penasaran itu, Faathimah kemudian bertanya,

“Untuk apa kau bawa cambuk itu, ya Mutiah?”
“Jika suamiku merasakan masakanku kali ini tidak enak, aku ridha dan mengikhlaskan dia untuk mencambuk punggungku.”
“Apakah itu kehendak suamimu?”
“Bukan, itu bukan kehendak suamiku. Suamiku adalah orang yang penuh dengan kasih sayang. Semua ini kulakukan sebagai bentuk baktiku pada suami agar aku tidak menjadi seorang istri yang durhaka padanya. Karena istri yang baik, adalah isti yang setia dan menyenangkan suaminya”

“Ternyata ini rahasianya….” Gumam Faathimah.
“Rahasia apa wahai Faathimah?” Gumaman itu sedikit terdengar di telinga Mutiah.

Faathimah kemudian menjelaskan pada Mutiah terkait ucapan Rasulullah yang mengatakan bahwa Mutiah adalah seorang wanita yang pertama kali akan masuk surga.

Ah, pantas saja kelak Mutiah akan menjadi wanita pertama yang akan memasuki surga, Ia seorang istri yang begitu menjaga kehormatannya serta setia dan peuh kasih sayang pada suami.

Di Bawah Mizab Ka’bah


Seorang ulama Tabi’in Imam Thawus Al-Yamani mengisahkan, “Aku melihat seorang lelaki sholat di Masjidil Haram di bawah mizab Ka’bah. Ia berdoa dengan khusyuk dan menangis. Aku ikuti sampai ia selesai sholat dan berdoa, ternyata ia adalah Ali Zainal Abidin, putra Husein bin Ali bin Abi Thalib, yang tak lain adalah cicit Rasulullah SAW. Aku katakan padanya:

“Wahai cicit Rasulullah, aku lihat kamu dalam keadaan begini dan begini (ibadahnya). Padahal kamu memiliki tiga hal yang aku harap akan membuatmu aman dari ketakutan. Pertama, kamu adalah cicit Rasulullah SAW. Kedua, kamu bisa mendapatkan syafaat kakekmu yaitu Rasulullah SAW. Ketiga, rahmat Allah SWT.”

Ali Zainal Abidin menjawab: “Hai Thawus, bahwa aku adalah cicit dan keturun Rasulullah SAW. Itu tidak menjamin keamananku. Aku mendengar firman Allah SWT: Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasab diantara mereka pada hari itu (QS. 23:10).

Sedangkan syafaat kakekku juga tidak menjadi jaminan bahwa kelak akan kudapatkan, sebab Allah SWT berfirman: Dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang-orang yang diridhai Allah (QS 21:28).

Sedangkan rahmat Allah, sesungguhnya Allah mewahyukan bahwa rahmatNya dekat pada kaum muhsinin, yaitu orang2 yg berbuat kebajikan. Dan aku tidak tahu apakah aku termasuk mereka apa tidak.”

KETAWADHU’AN ABU HANIFAH


dakwatuna.com – Imam Abu Hanifah bercerita: “Aku belajar lima masalah dalam ibadah haji dari seorang pencukur rambut.” Berikut ini kisahnya:

Setelah aku menyelesaikan manasik haji aku pergi ke tukang cukur untuk mencukur rambutku.

Aku bertanya kepada tukang cukur: “Berapa ongkos mencukur rambut?”

Tukang cukur itu berkata: “Ini adalah ibadah, dan ibadah tidak mensyaratkan apa pun. Duduklah!” Aku pun duduk dan membelakangi kiblat.

Dia berkata: “Hadapkan wajahmu ke arah kiblat!”

Ku berikan kepalaku sebelah kiri untuk dicukur terlebih dahulu. Dia kembali berkata: “Putar kepalamu ke arah kanan.”

Maka aku pun memutar kepalaku ke arah kanan. Dia langsung mencukur rambutku dan aku diam saja. Dia berkata lagi: “Bacalah takbir (Allahu akbar)!”

Aku pun terus membaca takbir sampai dia selesai mencukur. Ketika aku berdiri dia berkata: “Mau ke mana kamu?”

Aku menjawab: “Aku ingin meneruskan perjalananku.”

Dia berkata: “Shalatlah dua raka’at dulu, setelah itu pergilah.”

Aku sangat terkejut dengan perkataan tukang cukur itu dari awal dia mencukur rambutku, lalu aku bertanya kepadanya:”Dari mana kamu belajar semua ini?”

Dia berkata: “Aku pernah melihat ‘Atha’ bin Abi Rabbah melakukan ini.”

Di antara ketawadhu’an Imam Abu Hanifah yang lain adalah ketika Abu Hanifah melewati anak-anak yang sedang bermain di jalan, dia berkata kepada salah seorang dari mereka: “Wahai anakku, hati-hati, nanti jatuh ke tanah.”

Anak-anak membalas: “Engkau yang harus hati-hati, agar jangan sampai jatuh, karena terperosoknya orang alim adalah terperosoknya alam.” (Kesalahannya menyebabkan kesalahan orang-orang).

Abu Hanifah berkata: “Demi Allah, sejak saat itu aku tidak mengeluarkan fatwa, kecuali setelah berdiskusi dengan murid-muridku selama 40 hari.”

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/05/19954/ketawadhuan-abu-hanifah/#ixzz1uFrWisYG

Beginilah Pemimpinnya dan Beginilah Penegak Hukumnya


Abdurahman an-Nashir, khalifah Andalus tahun 300H-350H. Hari itu, dia mengumpulkan seluruh jajaran pejabat negeri. Dalam rangka grand opening istana yang baru selesai dibangunnya. Istana Dar ar-Raudhah. Bukan saja besar tetapi teramat megah. Cukuplah disebutkan di sini, bahwa istana itu berlapis emas dan perak hingga atapnya. Pertanyaan khalifah tentang istananya, membuka acara tersebut. Semua pejabat yang bicara memuji sang khalifah.

Hingga sampailan pertanyaan itu kepada sang penegak hukum di negeri itu, al-Mundzir bin Said al-Baluthi. Al-Mundzir yang ditanya malah menangis. Air mata mengalir membasahi jenggotnya. Inilah pernyataan sang penegak hukum,

“Demi Allah wahai amirul mukminin, saya tidak menyangka bahwa syetan telah menyesatkanmu hingga sejauh ini. Dengan semua yang Allah berikan kepadamu berupa nikmat, syetan telah menempatkanmu di rumah orang kafir.”

Bak petir di siang bolong. Khalifah marah, “Bagaimana kamu tempatkan saya sejajar dengan orang kafir?”

Al-Mundzir menjawab, “Bukankah Allah telah berfirman: Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng- loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya…..” (Qs az-Zukhruf: 33)

Khalifah Abdurahman an-Nashir yang tadi marah, kini tertunduk sambil menangis sesenggukan. Kemudian berkata, “Semoga Allah memberimu pahala yang paling agung atas jasamu terhadap kami, dirimu, muslimin dan Islam ini. Semoga Allah memperbanyak orang seperti Anda. Apa yang Anda katakan itu benar.”

Kemudian sang pemimpin tertinggi negeri yang telah merasa bersalah itu memerintahkan agar semua lapisan emas dan perak pada bangunan istananya dihilangkan. (Lihat: al-Andalus al-Tarikh al-Mushawwar, DR. Thariq al-Suwaidan, h. 165)

Begitulah, Andalus mencapai puncak kejayaannya di tangan pemimpin tertinggi yang sangat siap meminta maaf dan memperbaiki kesalahan dan didampingi oleh penegak hukum yang adil dan tidak takut menyampaikan kebenaran di hadapan siapapun

Aku Tak Ingin Ketinggalan


Oleh Saad Saefullah

Salat Subuh berjamaah memang selalu banyak rintangannya. Tapi Ali Bin Abi Thalib berusaha terus dalam kondisi apapun untuk berjamaah di Masjid. Hingga halanganpun dimudahkan oleh Allah swt.

PAGI hari itu, Ali bin Abi Thalib bergegas bangun untuk mengerjakan salat Subuh berjamaah di Masjid bersama Rasulullah saw. Rasulullah saw tentulah sudah berada di sana. Rasanya, hampir tidak pernah Rasulullah saw keduluan orang lain dalam berbuat kebaikan. Tidak ada yang istimewa karena memang inilah aktivitas yang sempurna untuk memulai hari, dan bertahun-tahun lamanya Ali bin Abi Thalib sudah sangat terbiasa.

Langit masih gelap, cuaca masihlah dingin dan jalanan masih pula diselimuti kabut pagi yang turun bersama embun. Ali melangkahkan kakinya tergesa-gesa menuju Masjid. Dari kejauhan, lamat-lamat sudah terdengar suara Bilal memanggil-manggil dengan adzannya yang berkumandang merdu ke segenap penjuru dan sudut-sudut kota Madinah.

Namun, belumlah begitu banyak langkahnya, ketika Ali bin Abi Thalib berada di jalan setapak menuju tempat jamaah yang jaraknya masih cukup jauh, ternyata di hadapannya ada sesosok tubuh. Ali mengenalinya sebagai seorang kakek tua yang beragama Yahudi. Kakek tua itu melangkahkan kakinya teramat pelan sekali. Itu mungkin karena usianya yang telah lanjut. Tampak sekali ia sangat berhati-hati dan tergopoh-gopoh menyusuri jalan.

Ali sebenarnya sangat tergesa-gesa. Ia tidak ingin ketinggalan mengerjakan salat tahyatul masjid dan qabliyah Subuh sebelum bersama Rasulullah saw dan para sahabat lainnya melaksanakan salat berjamaah.

Ali paham benar bahwa Rasulullah saw mengajarkan supaya setiap umat Muslim menghormati orang tua. Siapapun itu dan apapun agamanya. Maka, Ali pun terpaksa berjalan di belakang kakek itu. Tapi apa daya, si Kakek berjalan amat lamban, dan karena itu pulalah, langkah Ali pun sangat pelan jua. Kakek itu lemah sekali, dan Ali tidak sampai hati untuk mendahuluinya. Ia khawatir kalau-kalau kakek Yahdui tersebut terjatuh atau kena celaka.

Setelah sekian lamanya berjalan, akhirnya waktu mendekati masjid, langit sudah hampir kuning. Cuacanya pun perlahan-lahan sudah terasa hangat. Kakek itu melanjutkan perjalanannya, melewati masjid dan tidak masuk ke dalamnya sebab tempat ibadah agama Yahudi adalah di Sinagog.

Ketika Ali memasuki Masjid, Ali menyangka salat Subuh berjamaah pastilah sudah usai. Ia bergegas. Tapi ketika melihat apa yang ada di hadapannya, Ali terkejut sekali bercampur gembira. Nabi dan para sahabat masih rukuk pada rakaat yang kedua. Ini berarti Ali pun masih punya kesempatan untuk memperoleh salat berjamaah. Jika masih bisa menjalankan rukuk bersama, berarti masih kebagian satu rakaat-lah ia.

Sesudah Rasulullah saw mengakhiri salatnya dengan salam, lalu melakukan dzikir bersama-sama dan selesai berdoa, Umar bin Khattab yang memang merasa aneh dengan kejadian yang baru lewat, memberanikan diri untuk bertanya kepada Rasulullah saw. Ia pun menghampiri Rasulullah saw.

“Wahai Rasulullah, mengapa hari ini salat Subuhmu tidak seperti biasanya? Ada apakah gerangan?”

Rasulullah saw mengerutkan keningnya, “Kenapakah, ya Umar? Apa yang berbeda?” tanya Rasulullah saw.

“Kurasa sangat lain, ya Rasulullah. Biasanya engaku rukuk dalam rakaat yang kedua tidak sepanjang pagi ini. Tapi tadi itu engkau rukuk lama sekali. Kenapa?”

Rasulullah saw kembali menggelengkan kepalanya beberapa kali. “Aku juga tidak tahu. Hanya tadi, pada saat aku sedang rukuk dalam rakaat yang kedua, Malaikat Jibril tiba-tiba saja turun lalu menekan punggungku sehingga aku tidak dapat bangun iktidal. Dan itu berlangsung lama, seperti yang kau ketahui juga….”

Umar makin heran. “Mengapa Jibril berbuat seperti itu, ya Rasulullah?”

Nabi kembali menggeleng ramah seraya berkata, “Aku juga belum tahu gerangan. Jibril belum menceritakannya kepadaku.”

Dengan perkenan Allah, beberapa waktu kemudian Malaikat Jibril pun turun. Ia berkata kepada Nabi;

“Muhammad, aku tadi diperintahkan oleh Allah untuk menekan punggunmu dalam rakaat yang kedua. Sengaja agar Ali mendapatkan kesempatan salat berjamaah denganmu, karena Allah sangat suka kepadanya bahwa ia telah menjalani ajaran agamaNya secara bertanggung jawab. Ali menghormati seorang kakek tua Yahudi. Dari penghormatannya itu sampai ia terpaksa berjalan pelan sekali karena kakek itupun berjalan pelan pula. Jika punggungmu tidak kutekan tadi, pasti Ali akan terlambat dan tidak akan memperoleh peluang untuk mengerjakan salat Subuh berjamaah denganmu hari ini.”

Mendengar penjelasan Jibril demikian, mengertilah kini Rasulullah saw. Beliau sangat menyukai perbuatan Ali, karena apa yang dilakukannya itu tentunya menunjukkan betapa tinggi penghormatan umat Islam kepada orang lain. Satu hal lagi, bahwa Ali tidak pernah ingin sengaja terlambat atau meninggalkan amalan jamaahnya. Rasulullah saw pun menjelaskan hal itu kepada para sahabat.

(Peri Hidup Nabi dan Para Sahabat; Saad Saefullah)

Ketika Sri Sultan Hamengku Buwono IX Ditilang di Pekalongan


Kota batik Pekalongan di pertengahan tahun 1960an menyambut fajar dengan kabut tipis. Pukul setengah enam pagi polisi muda Royadin yang belum genap seminggu mendapatkan kenaikan pangkat dari agen polisi kepala menjadi Brigadir Polisi sudah berdiri di tepi posnya di kawasan Soko dengan gagahnya. Kudapan nasi megono khas Pekalongan pagi itu menyegarkan tubuhnya yang gagah berbalut seragam polisi dengan pangkat brigadir.

Becak dan delman amat dominan masa itu. Persimpangan Soko mulai riuh dengan bunyi kalung kuda yang terangguk-angguk mengikuti ayunan cemeti sang kusir. Dari arah selatan dan membelok ke barat sebuah sedan hitam berplat AB melaju dari arah yang berlawanan dengan arus becak dan delman. Brigadir Royadin memandang dari kejauhan, sementara sedan hitam itu melaju perlahan menuju kearahnya. Dengan sigap ia menyeberang jalan ditepi posnya, ayunan tangan kedepan dengan posisi membentuk sudut sembilan puluh derajat menghentikan laju sedan hitam itu. Sebuah sedan tahun lima puluhan yang amat jarang berlalu di jalanan Pekalongan berhenti dihadapannya.

Saat mobil menepi , brigadir Royadin menghampiri sisi kanan pengemudi dan memberi hormat.

“Selamat pagi!” Brigadir Royadin memberi hormat dengan sikap sempurna. “Boleh ditunjukan rebuwes!”

Ia meminta surat surat mobil berikut surat ijin mengemudi kepada lelaki di balik kaca , jaman itu surat mobil masih diistilahkan rebuwes.

Perlahan , pria berusia sekitar setengah abad menurunkan kaca samping secara penuh.

“Ada apa, Pak Polisi?” tanya pria itu.

Brigadir Royadin tersentak kaget, ia mengenali siapa pria itu.

“Ya Allah…, Sinuwun!” kejutnya dalam hati. Gugup bukan main namun itu hanya berlangsung sedetik, naluri polisinya tetap menopang tubuh gagahnya dalam sikap sempurna.

“Bapak melangar verbodden, tidak boleh lewat sini, ini satu arah…”

Ia memandangi pria itu yang tak lain adalah Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Dirinya tak habis pikir, orang sebesar Sultan HB IX mengendarai sendiri mobilnya dari Yogyakarta ke Pekalongan yang jauhnya cukup lumayan, entah tujuannya kemana.

Setelah melihat rebuwes, Brigadir Royadin mempersilahkan Sri Sultan untuk mengecek tanda larangan verboden di ujung jalan, namun Sri Sultan menolak.

“Ya.., saya salah, kamu benar. Saya pasti salah!” Sinuwun turun dari sedannya dan menghampiri Brigadir Royadin yang tetap menggengam rebuwes tanpa tahu harus berbuat apa.

“Jadi…?” Sinuwun bertanya, pertanyaan yang singkat namun sulit bagi Brigadir Royadin menjawabnya.

“Em..emm.., Bapak saya tilang, mohon maaf!” Brigadir Royadin heran, Sinuwun tak kunjung menggunakan kekuasaannya untuk paling tidak bernegosiasi dengannya. Jangankan begitu, mengenalkan dirinya sebagai pejabat negara dan raja pun beliau tidak melakukannya.

“Baik, Brigadir. Kamu buatkan surat itu, nanti saya ikuti aturannya. Saya harus segera ke Tegal,” Sinuwun meminta Brigadir Royadin untuk segera membuatkan surat tilang.

Dengan tangan bergetar ia membuatkan surat tilang, ingin rasanya tidak memberikan surat itu tapi tidak tahu kenapa ia sebagai polisi tidak boleh memandang beda pelanggar kesalahan yang terjadi di depan hidungnya. Yang paling membuatnya sedikit tenang adalah tidak sepatah katapun yang keluar dari mulut Sinuwun menyebutkan bahwa dia berhak mendapatkan dispensasi. “Sungguh orang yang besar…!” begitu gumamnya dalam hati.

Surat tilang berpindah tangan. Rebuwes saat itu dalam genggamannya dan ia menghormat pada sinuwun sebelum sinuwun kembali memacu sedan hitamnya menuju ke arah barat, Tegal.

Beberapa menit kemudian Sinuwun melintas di depan Stasiun Pekalongan. Saat itu, barulah Brigadir Royadin menyadari kebodohannya, kekakuannya, dan segala macam pikiran berkecamuk. Ingin ia memacu sepeda ontelnya mengejar sedan hitam itu, tapi manalah mungkin. Nasi sudah menjadi bubur. Dan ketetapan hatinya untuk tetap menegakkan peraturan pada siapapun berhasil menghibur dirinya.

Saat aplusan di sore hari dan kembali ke markas, ia menyerahkan rebuwes kepada petugas jaga untuk diproses hukum lebih lanjut. Ia lalu kembali kerumah dengan sepeda abu-abu tuanya. Saat apel pagi esok harinya, suara amarah meledak di Markas Polisi Pekalongan. Nama Royadin diteriakkan berkali-kali dari ruang komisaris. Beberapa polisi tergopoh-gopoh menghampirinya dan memintanya menghadap Komisaris Polisi selaku kepala kantor.

“Royadin, apa yang kamu lakukan? Sak enake dhewe! Ora mikir! iki sing mbok tangkep sapa, heh? Ngawur..ngawur!”

Komisaris mengumpat dalam Bahasa Jawa. Di tangannya, rebuwes milik Sinuwun Sultan HB IX pindah dari telapak kanan ke kiri bolak-balik.

“Sekarang aku mau tanya. Kenapa kamu tidak lepas saja Sinuwun HB IX? Biarkan lewat, wong kamu tahu siapa beliau! Ngerti nggak kowe sapa Sinuwun?” Komisaris tak menurunkan nada bicaranya.

“Siap, Pak! Beliau tidak bilang beliau itu siapa. Beliau mengaku salah dan memang salah!” Brigadir Royadin menjawab tegas.

“Ya, tapi kan kamu mestinya ngerti siapa beliau . Aja kaku-kaku, kok malah mbok tilang? Ngawur, jan ngawur…. Ini bisa panjang , bisa sampai menteri!” derai komisaris. Saat itu kepala polisi dijabat oleh Menteri Kepolisian Negara.

Brigadir Royadin pasrah , apapun yang dia lakukan dasarnya adalah posisinya sebagai polisi, yang disumpah untuk menegakkan peraturan pada siapa saja. Memang koppeg (keras kepala) kedengarannya.

Kepala Polisi Pekalongan berusaha mencari tahu dimana gerangan Sinuwun Sultan HB IX, masih di Tegal-kah atau sudah ditempat lain? Tujuannya cuma satu , mengembalikan rebuwes. Namun, tidak seperti saat ini yang demikian mudahnya bertukar kabar, keberadaa Sinuwun Sultan HB IX tak kunjung diketahui hingga beberapa hari.

Pada akhirnya Kepala Polisi Pekalongan mengutus beberapa petugas ke Yogyakarta untuk mengembalikan rebuwes tanpa mengikutsertakan Brigadir Royadin.

Usai mendapat marah, Brigadir Royadin bertugas seperti biasa. Satu minggu setelah kejadian penilangan, banyak teman-temannya yang mentertawakan. Bahkan ada isu yang ia dengar dirinya akan dimutasi ke pinggiran kota Pekalongan Selatan.

Suatu sore, saat belum habis jam dinas, seorang kurir datang menghampirinya di Persimpangan Soko yang memintanya untuk segera kembali ke kantor. Sesampai di kantor, beberapa polisi menggiringnya ke ruang Komisaris yang saat itu tengah menggengam selembar surat.

“Royadin, minggu depan kamu diminta pindah!” lemas tubuh Royadin. Ia membayangkan harus menempuh jalan menanjak dipinggir kota Pekalongan setiap hari, karena mutasi ini. Karena ketegasan sikapnya di Persimpangan Soko.

“Siap, Pak..,” Royadin menjawab datar.

“Bersama keluargamu semua, dibawa!”

Pernyataan Komisaris mengejutkan Royadin, untuk apa bawa keluarga ke tepi Pekalongan Selatan. Ini hanya merepotkan diri saja.

“Saya sanggup setiap hari pakai sepeda, Pak Komandan. Semua keluarga biar tetap di rumah sekarang,” Brigadir Royadin menawar.

“Ngawur! Kamu sanggup bersepeda Pekalongan–Jogja? Pindahmu itu ke Jogja, bukan disini. Sinuwun Sultan HB IX yang minta kamu pindah tugas kesana. Pangkatmu mau dinaikkan satu tingkat!” cetus Pak Komisaris, disodorkan surat yang ada digengamannya kepada Brigadir Royadin.

Surat itu berisi permintaan bertuliskan tangan yang intinya, “Mohon dipindahkan Brigadir Royadin ke Jogja sebagai polisi yang tegas. Saya selaku pemimpin Jogjakarta akan menempatkannya di wilayah Jogjakarta bersama keluarganya dengan meminta kepolisian untuk menaikkan pangkatnya satu tingkat.” Ditandatangani Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Tangan Brigadir Royadin bergetar, namun ia segera menemukan jawabannya. Ia tak sanggup menolak permntaan orang besar seperti Sultan HB IX. Namun, dia juga harus mempertimbangkan seluruh hidupnya di Kota Pekalongan. Ia cinta Pekalongan dan tak ingin meninggalkan kota ini.

“Mohon Bapak sampaikan ke Sinuwun, saya berterima kasih, saya tidak bisa pindah dari Pekalongan. Ini tanah kelahiran saya, rumah saya. Sampaikan hormat saya pada beliau, dan sampaikan permintaan maaf saya pada beliau atas kelancangan saya…,” Brigadir Royadin bergetar, ia tak memahami betapa luasnya hati Sinuwun Sultan HB IX. Amarah hanya diperolehnya dari Sang Komisaris, namun penghargaan tinggi justru datang dari orang yang menjadi korban ketegasannya.

July 2010, saat saya mendengar kepergian Purnawirawan Polisi Royadin kepada Sang Khaliq dari keluarga di Pekalongan , saya tak memilki waktu cukup untuk menghantar kepergiannya. Suaranya yang lirih saat mendekati akhir hayat masih saja mengiangkan cerita kebanggaannya ini pada semua sanak famili yang berkumpul. Ia pergi meninggalkan kesederhanaan perilaku dan prinsip kepada keturunannya, sekaligus kepada saya selaku keponakannya. Idealismenya di kepolisian Pekalongan tetap ia jaga sampai akhir masa baktinya. Pangkatnya tak banyak bergeser, terbelenggu idealisme yang selalu dipegangnya erat erat yaitu ketegasan dan kejujuran .

Hormat amat sangat kepadamu Pak Royadin, Sang Polisi sejati. Dan juga kepada pahlawan bangsa. Sultan Hamengku Buwono IX yang keluasan hatinya melebihi wilayah negeri ini, dari Sabang sampai Merauke.

Kisah Lima Sahabat Nabi


dakwatuna.com – “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Al-Baqarah: 245)

Suatu ketika Rasulullah saw. membacakan ayat itu kepada para sahabat. Tiba-tiba Abu Darda r.a. berdiri, ia berkata, “Wahai Rasulullah, benarkah Allah meminta pinjaman kepada kita?” Rasulullah saw. menjawab, “Ya, benar.” Abu Darda kembali berkata, “Wahai Rasulullah, apakah Dia akan mengembalikannya kepadaku dengan pengembalian yang berlipat-lipat?” Rasulullah saw. menjawab, “Ya, benar.”

“Wahai Rasulullah, ulurkanlah kedua tangan Anda,” pinta Abu Darda r.a. tiba-tiba. Rasulullah saw. balik bertanya, “Untuk apa?” Lalu Abu Darda menjelaskan, “Aku memiliki kebun, dan tidak ada seorang pun yang memiliki kebun yang menyamai kebunku. Kebun itu akan aku pinjamkan kepada Allah.” “Engkau pasti akan mendapatkan tujuh ratus lipat kebun yang serupa, wahai Abu Darda,” kata Rasulullah saw.

Abu Darda mengucapkan takbir, “Allahu Akbar, Allahu Akbar!” Lantas ia segera pergi ke kebunnya. Ia mendapati istri dan anaknya sedang berada di dalam kebun itu. Saat itu anaknya sedang memegang sebutir kurma yang sedang dimakannya.

“Wahai Ummu Darda, wahai Ummu Darda! Keluarlah dari kebun itu. Cepat. Karena kita telah meminjamkan kebun itu kepada Allah!” teriak Abu Darda.

Istrinya paham betul maksud perkataan suaminya. Maklum, ia seorang muslimah yang dididik langsung oleh Rasulullah saw. Segera ia beranjak dari posisinya. Ia keluarkan kurma yang ada di dalam mulut anaknya. “Muntahkan, muntahkan. Karena kebun ini sudah menjadi milik Allah swt. Ladang ini sudah menjadi milik Allah swt.,” ujarnya kepada sang anak.

Subhanallah! Begitulah Ummu Darda, seorang wanita yang begitu yakin rezki datang dari Allah swt. dan bersuamikan seorang sahabat Nabi yang begitu yakin akan janji Allah swt. Kalau saja para suami zaman ini punya istri seperti Ummu Darda, pasti mereka akan mudah saja berinfak tanpa berpikir dua kali. Kalau saja para istri zaman sekarang punya suami model Abu Darda, pasti mereka akan mendapatkan kemuliaan dari Allah.

Sekarang simaklah kisah kedua ini. Suatu hari Amirul Mukminin, Umar bin Khathab r.a. dikirimi harta yang banyak. Beliau memanggil salah seorang pembatu yang berada di dekatnya. “Ambillah harta ini dan pergilah ke rumah Abu Ubaidah bin Jarrah, lalu berikan uang tersebut. Setelah itu berhentilah sesaat di rumahnya untuk melihat apa yang ia lakukan dengan harta tersebut,” begitu perintah Umar kepadanya.

Rupanya Umar ingin melihat bagaimana Abu Ubaidah menggunakan hartanya. Ketika pembantu Umar sampai di rumah Abu Ubaidah, ia berkata, “Amirul Mukminin mengirimkan harta ini untuk Anda, dan beliau juga berpesan kepada Anda, ‘Silakan pergunakan harta ini untuk memenuhi kebutuhan hidup apa saja yang Anda kehendaki’.”

Abu Ubaidah berkata, “Semoga Allah mengaruniainya keselamatan dan kasih sayang. Semoga Allah membalasnya dengan pahala yang berlipat.” Kemudian ia berdiri dan memanggil hamba sahaya wanitanya. “Kemarilah. Bantu aku membagi-bagikan harta ini!.” Lalu mereka mulai membagi-bagikan harta pemberian Umar itu kepada para fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan dari kaum muslimin, sampai seluruh harta ini habis diinfakkan.

Pembantu Umar pun kembali pulang. Umar pun memberinya uang sebesar empat ratus dirham seraya berkata, “Berikan harta ini kepada Muadz bin Jabal!” Umar ingin melihat apa yang dilakukan Muadz dengan harta itu. Maka, berangkatlah si pembantu menuju rumah Muadz bin Jabal dan berhenti sesaat di rumahnya untuk melihat apa yang dilakukan Muadz terhadap harta tersebut.

Muadz memanggil hamba sahayanya. “Kemarilah, bantu aku membagi-bagikan harta ini!” Lalu Muadz pun membagi-bagikan hartanya kepada fakir miskin dan mereka yang membutuhkan dari kalangan kaum muslimin hingga harta itu habis sama sekali di bagi-bagikan. Ketika itu istri Muadz melihat dari dalam rumah, lalu berkata, “Demi Allah, aku juga miskin.” Muadz berkata, “Ambillah dua dirham saja.”

Pembantu Umar pun pulang. Untuk ketiga kalinya Umar memberi empat ribu dirham, lalu berkata, “Pergilah ke tempat Saad bin Abi Waqqash!” Ternyata Saad pun melakukan apa yang dilakukan oleh dua sahabat sebelumnya. Pulanglah sang pembantu kepada Umar. Kemudian Umar menangis dan berkata, “Alhamdulillah, segala puji syukur bagi Allah.”

Begitulah para sahabat ketika mendapat harta. Tidak sampai sehari harta itu diinfakkan dengan begitu ringannya.

Yang ini kisah ketiga. Munginkah kita bisa mencontohnya?

Suatu hari Thalhah bin Ubaidillah r.a. pulang ke rumah dengan membawa uang sebanyak seratus ribu dirham. Istrinya mendapati raut wajah Thalhah begitu bersedih.

Sang istri bertanya, “Apa yang terjadi padamu, wahai suamiku?” Thalhah menjawab, “Harta yang banyak ini, aku takut jika bertemu dengan Allah, lalu aku ditanya tentang dirham ini satu per satu.”

Istrinya lalu berkata, “Ini masalah yang sangat mudah. Mari kita bagi-bagikan harta ini. Bawalah harta ini dan bagikan kepada para fakir miskin yang ada di Kota Madinah.”

Thalhah pun bersama istrinya meletakkan harta itu di sebuah wadah, lalu membagi-bagikan kepada para fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Setelah itu ia kembali ke rumah dan berkata, “Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menjadikan diriku bertemu dengan-Nya sedangkan aku dalam keadaan bersih dan suci.”

Subhanallah! Sungguh mereka orang-orang langit yang ringan melepas dunia.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2008/03/428/tiga-kisah-lima-sahabat/#ixzz1cZoehnbk

Jihad Akbar Sang Imam


INI bukan kisah ulama yang menyebut dirinya pejuang, namun takut akan aroma kematian. Ini bukan penggalan cerita tentang pembela kebenaran yang ciut di hadapan taji penguasa. Ini bukan dongeng tentang sosok manusia yang menyebut dirinya pejuang umat, tetapi berdiam diri melihat agama diobok-obok, kebenaran dijungkirbalikkan, kebatilan dibiarkan menjadi dasar Negara. Ini tentang istiqomah, kesabaran, dan kecintaan pada negeri akhirat.

Dialah panutan sejuta umat. Mazhabnya menjadi pegangan Arab Saudi saat ini. Ia menghafal 700.000 hadits, kemudian menyeleksi dan merangkumnya menjadi 30.000 hadits dalam kitabnya al-Musnad. Ia mengilhami Ibnu Taimiyah dan Ibnu Abdul Wahhabi pada 4 dan 10 abad setelah wafatnya. Dialah penantang tiga khalifah Abbasiyah sesat demi kebenaran. Tidak ada yang tidak mengenalnya, dialah Imam Ahmad bin Hambali pendiri mazhab Hambali.

Imam Ahmad lahir di Baghdad, pada Rabiul Awal 164 H (Desember 780 M) dalam kondisi yatim dan kemiskinan yang melilit. Masa kecilnya ia habiskan dengan belajar Islam dan menghafal al-Qur’an hingga hafizh pada usia 15 tahun. Minatnya yang tinggi dan daya hafalnya yang kuat mendorongnya untuk bekerja keras menuntut ilmu walaupun harus menjadi kuli.

Setelah menghafal al-Qur’an, Ahmad kecil sangat tertarik mempelajari hadits, maka mengembaralah ia ke kota-kota jauh bertemu dengan ahli hadits di Basrah, Kufah, Yaman, Mekkah, dan Madinah. Awalnya ia belajar ilmu fiqh pada Abu Yusuf, kemudian bertemu dengan Imam Syafi’i dan belajar fiqh kepadanya.

Kecintaan dan konsentrasinya dalam belajar membuat ia tidak terburu-buru untuk membangun rumah tangga. Saat usianya menginjak 40 tahun, barulah ia menikah. Membangun keluarga dan keturunan. Anda mungkin takjub, namun bukan ini yang akan kita buka dari lembaran hidup emas Imam Hambali. Mihnah (cobaan) yang diterima sang Imam inilah yang akan membuat kita tercengang dan mudah-mudahan menjadi pecut untuk kehidupan kita.

“Rumah Abu Abdillah Ahmad bin Hambal sempit dan kecil,” kata seorang ulama, al-Maimuni.

Padahal Imam Hambali telah dikenal di penjuru negeri dan memiliki banyak murid dan pengikut. Realitanya ia wara’ dan zuhud dari kehidupan dunia sehingga ia mengandalkan hasil keringatnya sendiri untuk makan dan kebutuhannya sendiri tanpa meminta dan berharap secuil pun bantuan dari penguasa.

Inilah komentar Imam Syafi’I;

“Ahmad bin Hambal imam dalam delapan hal, Imam dalam hadits, Imam dalam Fiqih, Imam dalam bahasa, Imam dalam Al Qur’an, Imam dalam kefaqiran, Imam dalam kezuhudan, Imam dalam wara’, dan Imam dalam Sunnah.”

Sekarang marilah kita menelisik lebih dalam tentang kadar keimanan yang dimiliki oleh sang Imam. Sinar yang membedakannya dari ulama lain, dari manusia lainnya di zamannya atau bahkan yang membuatnya terus bersinar hingga saat ini jauh lebih benderang dari ulama pejuang yang pernah muncul di muka bumi.

Satu zaman sebelum Imam Hambali, saat khalifah dipegang oleh Harun ar-Rasyid, berbagai macam pemikiran, pemahaman dan aliran dalam Islam mulai berkembang dengan segala bentuknya. Salah satu yang membahayakan akidah Islam saat itu adalah pemikiran Islam liberal yang dikenal sebagai Jahmiyah atau Mu’tazilah. Sebuah pemahaman yang lebih mendahulukan akal dan rasionalitas di atas wahyu Allah. Kontan terjadi perdebatan dan konflik sengit yang tak urung memakan korban jiwa.

Pemikiran sesat liberal saat itu diusung oleh Basyar al-Marisy yang mengklaim bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Syukurlah saat itu khalifah Harun ar-Rasyid berpegang erat dengan al-Qur’an dan Sunnah, sehingga ia melarang tegas pemikiran liberal berkembang bahkan memburu pemimpinnya untuk dihukum mati.

“Sekiranya Allah memberiku usia yang panjang dan aku sempat bertemu Basyar, niscaya ia akan aku hukum bunuh dengan pembunuhan yang tak pernah aku jatuhkan atas orang lain,” kata khalifah berang.

Selama 20 tahun Basyar bersembunyi dan menyebarkan aliran pemikirannya secara diam-diam. Sepeninggal Khalifah Harun, yakni Khalifah al-Amin, kebijakan negara tetap melarang keras pemikiran sesat Basyr. Barulah setelah al-Amin, saat al-Makmun memegang kendali kekuasaaan sebagai khalifah, pemikiran liberal-Mu’tazilah mulai masuk di lingkaran kekuasaan.

Siapa yang mampu mempengaruhi penguasa dialah yang menang di dunia. Selain karena pengaruh Mu’tazilah, khalifah al-Makmun ketika masih muda sangat menyukai belajar filsafat dan pemikiran Yunani. Inilah yang meracuni pemahamannya sehingga ia mengutamakan akalnya di atas wahyu Allah.

Basyar dan pengikutnya berhasil mendekati al-Makmun secara diam-diam dan rupanya melakukan komunikasi intensif sehingga jatuhlah khalifah dalam perangkap kesesatan Mu’tazilah. Akibatnya, pada tahun 212 H, kebijakan Negara pun mendukung pendapat Basyar yang mengatakan al-Qur’an adalah makhluk, bukan wahyu Allah Ta’ala. Ancaman besar mendera Islam. Selain itu beberapa kebijakan al-Makmun cenderung memihak aliran Syi’ah sehingga banyak menimbulkan konflik dan kekisruhan. Siapakah yang berani menentang penguasa?

Jika sebelumnya ‘ulama-ulama’ sesat yang diancam hukuman mati, kini justru sebaliknya, ulama-ulama yang teguh berpegang pada al-Qur’anlah yang mendapat hukuman siksaan tiada tara. Inilah dampak jika kita membiarkan penguasa terpengaruh oleh pemikiran yang sesat, seluruh umat mendapatkan fitnah cobaan iman dan kesabaran.

Pada tahun 218 H barulah pernyataan al-Qur’an sebagai makhluk ditegakkan. Siapa yang menolaknya akan mendapatkan hukuman. Segera dilakukan penangkapan besar-besaran terhadap ulama-ulama yang menentang kebijakan Negara. Mereka di penjara, disiksa, dan diancam hukuman mati. Pada dasarnya terdapat keringanan dalam Islam untuk mengakui atau mengikuti keinginan penguasa demi mempertahankan nyawa. Semua yang disiksa akhirnya memilih keringanan ini, mengakui dengan lisan, namun mengingkari dengan hati. Hanya segelintir ulama yang bertahan, hati dan lidah tetap tegas mengatakan bahwa al-Qur’an adalah wahyu, bukan makhluk, di antaranya dialah Imam Hambali.

Seorang ulama, Maimmun bin al Ashbagh, yang menyaksikan prosesi penyiksaan Imam Hambali bertutur,

“Saya datang menghadiri majelis pengadilan negara yang akan memeriksa perkara Imam Hambali. Dalam majelis pengadilan itu terlihat pedang-pedang telah dihunuskan, tombak-tombak telah ditegakkan, panah-panah telah disiapkan, dan cambuk siap diayunkan untuk Imam Hambali. Khalifah al-Ma’mun lalu duduk di atas kursi yang telah disiapkan di balai persidangan. Imam Hambali dipanggil menghadap kemudian khalifah berkata, “Atas nama saya sebagai kerabat Rasulullah saw saya akan memukul engkau dengan cambuk sampai engkau membenarkan apa yang telah saya benarkan, atau engkau menyatakan seperti apa yang saya katakan.”

“Cambuk dia!” perintah khalifah pada algojo.

Sang Algojo segera bertindak tanpa ragu. Imam Hambali diseret lalu dicambuk. Cambukkan pertama tepat mengenai punggung beliau.

“Bismillah..”ucap Imam Hambali menahan sakit.

Pada cambukkan yang kedua beliau mengucapkan kalimat, “Laa haula wala quwwata illa billah.”

Pada cambuk yang ketiga dengan lantang beliau berucap, “al-Qur’an kalamullahi ghairu makhluqin!”

Mendaratlah cambuk yang keempat dan kali ini beliau bahkan sempat membacakan ayat al-Qur’an, “Qul lan yushiibanaa illa ma kataballah lana!”

Ucapan-ucapan Imam Hambali tidak menghentikan cambuk sang algojo hingga lebih 20 cambuk menghantam punggungnya. Darah segar pun mengucur dan menetes di lantai. Khalifah tidak merasa iba sedikit pun. Kezaliman mendera kebenaran, kebatilan tertawa-tawa di atas keimanan, inilah ujian Allah yang hanya bisa dihadapi oleh hamba-hamba-Nya tertentu.

Imam Hambali sadar bahwa ia harus bertahan dan menggigit kuat keimanan dengan gigi gerahamnya. Ia sadar ia pegangan umat terakhir. Jika ia mengakui, maka ribuan bahkan ratusan ribu umat di belakangnya akan ikut pula mengakui kesesatan penguasa.

Cambukkan algojo membuat tali sarung sang Imam putus hingga sarungnya hampir melorot. Saat itu yang ada dipikiran Imam Hambali bukan bagaimana bisa mendapat keringanan atau ampunan, yang berkecamuk dalam pikirannya adalah bagaimana jika auratnya terlihat di muka umum. Hanya itu yang dipikirkan beliau. Dalam kondisi terzalimi, doa yang dipanjatkan beliau hanyalah doa agar celananya tidak melorot sehingga auratnya tidak terbuka. Doa itu dikabulkan sehingga sarungnya terjaga tidak turun hingga ia dikembalikan ke dalam penjara dengan kondisi yang memprihatinkan

Banyak sahabat dan orang-orang yang prihatin dengan kondisi Imam Hambali, meminta beliau untuk mengikuti saja keinginan penguasa. Apa jawab beliau?

“Bagaimana kalian menyikapi sabda Rasulullah Saw, ‘Sesungguhnya orang-orang sebelum Khabbab, ada yang digergaji kepalanya namun tidak membuatnya berpaling dari agamanya.’

Aku tidak peduli dengan penjara, bagiku penjara dan rumahku sama saja!”

Keteguhan Imam Hambali seperti dikomentari seorang ulama Ishak bin Ibrahim,

“Aku belum pernah melihat seseorang yang berada di depan penguasa di mana ia lebih tegar dari Imam Ahmad bin Hambal. Kami saat itu di mata penguasa hanya seperti lalat.”

Apa yang membuat sang Imam begitu tegar?

“Semenjak terjadinya fitnah, aku belum pernah mendengar suatu kalimat yang lebih mengesankan dari kalimat yang diucapkan oleh seorang Arab Badui kepadaku,

‘Wahai Ahmad, jika Anda terbunuh karena kebenaran maka Anda mati syahid, dan jika Anda selamat maka anda hidup mulia!’. Mendengarnya membuat hatiku semakin kuat.”

Kesabaran sang Imam tidak mampu digoyang oleh penguasa yang kekuasaannya saat itu telah menaungi negeri Iran di Timur hingga Maroko di Barat. Sampai akhirnya Khalifah al-Makmun wafat dan digantikan oleh al-Mu’tashim. Kebijakan Negara pun belum berubah hingga wafat pula al-Mu’tashim digantikan oleh al-Watsiq sebagai khalifah.

Sepanjang tiga periode kekhalifahan Abbasiyah dari al-Makmun, al-Mu’tahsim, dan al-Watsiq, paham liberalisme begitu kuat mencengkeram pemikiran khalifah sehingga fatwa al-Qur’an adalah makhluk terus berdendang. Padahal sangat besar dampak buruknya jika al-Qur’an dikatakan sebagai makhluk. Tentu al-Qur’an tidak sempurna, bisa salah dan bisa benar, itulah yang difatwakan Mu’tazilah untuk menghancurkan Islam.

Saat kekhalifahan dipegang al-Mu’tashim, kepala ulama pemerintah (semacam MUI) dipegang oleh Ahmad bin Abu Dawud, seorang Mu’tazilah. Terjadi perdebatan sengit antara Imam Hambali dan Ibnu Abu Dawud. Semua argumentasi Ibnu Abu Dawud bisa dipatahkan oleh sang Imam, namun penguasa tetaplah penguasa yang otoriter dan tidak mau mengakui kesalahannya.

“Wahai amirul mu’minin, berikan dan ajukanlah kepadaku suatu alasan yang terang berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah, biar nanti aku sadar dan insaf, lalu aku ikut mengatakan bahwa al-Qur’an itu makhluk. Bagaimana aku harus mengikuti pendapat dan pendirian orang lain yang tidak didasari alasan yang benar?” ungkap Imam Hambali sebelum akhirnya ia meringkuk lagi di penjara.

Pada masa al-Watsiq Imam Hambali tetap terkungkung di penjara. Bahkan seorang ulama Ahmad bin Nashr dipancung dan tubuhnya disalib selama 6 tahun lamanya karena penolakannya terhadap fatwa sesat pemerintah.

“Sebenarnya yang berbohong adalah kamu sendiri!” ungkap Ahmad tegas pada khalifah. Orang-orang Mu’tazilah yang berada di sekitar khalifah lantas menyatakan kehalalan Ahmad untuk dihukum mati. Saat khalifah al-Watsiq wafat barulah jasadnya diturunkan oleh Khalifah Mutawakkil dari tiang salib di Samura.

Selain Ahmad bin Nashr, seorang murid utama Imam Syafi’i yang bernama al-Buwaithi juga wafat dipenjara karena penolakannya terhadap fatwa sesat penguasa. Ia wafat dalam keadaan terikat di dalam penjara. Kini hanya tinggal Imam Hambali yang meringkuk dalam penjara yang kejam. Tidak beberapa lama lagi pertolongan Allah tiba untuk menyudahi ujian-Nya kepada hamba pilihan-Nya.

Khalifah al-Mutawakkil menggantikan al-Watsiq yang wafat pada tahun 232 H. Ia sangat dekat dengan ahlus Sunnah sehingga pada tahun 234 H, ia mencabut fatwa bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Maka bebaslah Imam Ahmad bin Hambali menghirup udara segar di mana jutaan umat telah menanti nasihat dan ilmunya.

Khalifah lantas melakukan tindakan balasan terhadap kaum Mu’tazilah. Semua pejabat sesat yang berkuasa sebelumnya, ia singkirkan dan dihukum keras. Salah satunya seorang Hakim Agung Mesir yang juga gembong Mu’tazilah, Abu Bakar bin al-Laits. Jenggotnya dicukur habis, dipukul kemudian digelandang keliling kota dengan keledai.

Hampir 16 tahun Imam Hambali menjalani fitnah kesesatan yang dilancarkan Mu’tazilah liberal. Betapa dahsyatnya mereka mengobok Islam saat mereka mampu mempengaruhi kekuasaan. Itulah mengapa pentingnya ulama yang lurus harus terlibat dalam kancah politik untuk bisa mempengaruhi penguasa sehingga mengeluarkan kebijaksanaan yang sejalan dengan Islam yang benar.

Kini Imam Hambali bisa tidur kembali di rumahnya yang kecil namun penuh ketenangan dan ketentraman. Benarkah ia mendapatkan ketenangan dan selesai dari ujian Allah. Ternyata tidak. Ujian Allah kembali datang namun dalam bentuk yang lain. Khalifah al-Mutawakkil sangat mencintai ulama dan ia memberikan banyak hadiah dan penghormatan kepada Imam Hambali. Datanglah khalifah membawa 10.000 dinar (ratusan juta rupiah) untuk diberikan kepada sang Imam. Apa tanggapan beliau?

”Aku telah selamat dari bahaya mereka selama ini, tetapi saat ajal saya sudah hampir datang seperti saat ini, aku diuji oleh mereka dengan harta benda dan dunia mereka.”

Saat khalifah pulang, ia segera membagikan semua pemberian khalifah kepada orang-orang di sekitarnya dan yang membutuhkan tanpa secuil ia ambil. Pakaian kehormatan khalifah dilepaskannya kembali dan digantikannya dengan pakaian lusuh yang biasa ia pakai.

”Ini tidak lain hanyalah fitnah dunia, dan penderitaan pada masa lalu itu adalah fitnah bagi agama.”

Yahya bin Ma’in berkata, “Saya tidak pernah melihat orang yang seperti Imam Ahmad bin Hambal, saya berteman dengannya selama lima puluh tahun dan tidak pernah menjumpai dia membanggakan sedikitpun kebaikan yang ada padanya kepada kami.”

Popularitas Imam Hambali memuncak, sinarnya keimanannya menyilaukan mata, namun apa kata hati beliau?

“Saya ingin bersembunyi di lembah Makkah hingga saya tidak dikenal, saya diuji dengan popularitas.”

Imam Hambali pernah bermuka masam karena ada seseorang yang memujinya dengan mengatakan,

“Semoga Allah membalasmu atas kebaikan dan jasamu kepada Islam.”

“Jangan begitu tetapi katakanlah, semoga Allah membalas kebaikan Islam atas jasanya kepadaku, siapa saya dan apa (jasa) saya?!”

Dialah sang Imam yang tegar dan teguh dalam jihadnya mempertahankan kebenaran sekalipun di depan penguasa. Siapakah yang menyerupainya di zaman ini? Bahkan ulama-ulama saat ini yang mengaku sebagai pengikutnya, sebagai salafush shalih di Arab Saudi, tidak berani sedikit pun mengkritik rajanya yang begitu mesra dengan Amerika dan Israel yang membantai muslimin di berbagai belahan dunia.

Menjelang akhir hayatnya, Imam Hambali sakit keras selama sembilan hari lamanya. Pada pagi hari Jumat tanggal dua belas Rabi’ul Awwal 241 H pada umur 77 tahun beliau menghembuskan nafas terakhirnya menghadap Allah Ta’ala. Jenazah beliau dihantar lebih lima ratus ribu muslimin di Bahgdad. Maha Suci Allah.[nugra, berbagai sumber/hidayatullah.com]

Hanzhalah bin Abi Amir –Radiallahu anhu-


Malam telah menyelimuti kota Madinah Al Munawwarah, bintang -bintang yang bertaburan membawa kedamaian dan ketenangan serta mimpi indah, yang jelas malam itu sebenarnya malam biasa, tapi tidak sama sekali bagi Hanzhalah bin Abi Amir Radiallahuanhu . Hari itu hari dimana mimpinya terwujud, hari yang lama datangnya hari yang lama ditunggunya hari itu Hanzhalah naik ke pelaminan.

Hanzhalah menikah pada suatu malam yang besok paginya terjadi perang di Uhud. Hanzhalah minta izin kepada Nabi Shalallahu alaihi wa salam untuk bermalam bersama isterinya. Sementara dia sendiri tidak tahu dengan pasti apakah malam itu malam pertemuan atau justru malam perpisahan. Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa salam memberinya ijin untuk menginap malam itu bersama pasangan kemantennya.

Manis macam apakah yang ada pada malam itu ? Rahasia apa yang dipendam hari itu dari Hanzhalah? Bersamaan dengan menyembulnya fajar pertama terdengar gemuruh perang, terdengar seorang menyeru dan mengumumkan jihad. Beberapa saat dia timbang-timbang antara kenikmatan dunia dan kenikmatan Akhirat Akhirnya dia memilih akhirat demi kenikmatannya. Untuk kemudian menyongsong panggilan jihad dan meninggalkan dunia dengan segala isinya.

Waktu itu Hanzhalah Radiallahuanhu masih Junub, belum sempat mandi besar, melesat memenuhi seruan kebenaran, serta melayang tidak menginjak bumi, Sepasang penganten malam itu melesat dengan membawa senjatanya untuk bergabung dengan Nabi Shalallahu alaihi was salam yang sedang menyiapkan barisan Muslimin, meyiapkan hati untuk melakukan transaksi dijalan Allah Hanzhalah masuk pasar surga ………… Perang sangat dahsyat berkemilau dengan serunya pada awalnya kemenagan diraih tapi tatkala pasukan pemanah meninggalkan posisi mereka, keadaan berbalik menjadi kacau dan orang-orang musyrik maju.

Akan tetapi beberapa tentara tetap teguh bertahan bersama Rasulullah Shalallahu alihi wa salam, termasuk di dalamnya Hanzhalah Dia terus menunjukkan dan membuktikan kecintaannya terhadap Allah Subhanahu wa ta’ala. Dia maju menghadap Abu Sofyan bin Harb Dengan cepat dia menebas kaki kuda Abu Sofyan dari belakang sehingga Abu Sofyan terjatuh dia menjatuhkannya dari atas kudanya seakan-akan dia menjatuhkan kebathilan yang telah mencuri kebenaran dan kebathilan yang mengacau akidahnya Pada saat itu datanglah Syaddad bin Al Aswad membantu Abu Sofyan melawan Hanzhalah Radiallahuanhu, untuk kemudian salah satu dari dua orang itu bisa membunuh hati yang bersih dengan lemparan lembing yang tembus Abu Sofyan berteriak “ Hanzhalah dengan Hanzhalah yang maksudnya dia telah membalaskan dendam anaknya yang terbunuh dalam perang Badar Hanzhalah Radiallahuanhu meninggalkan kita, tetapi bau wangi misik darinya tetap semerbak menyirami jiwa-jiwa generasi sesudahnya agar jiwa yang sedang tertidur menjadi bangkit dengan harapan suatu ketika akan menunggangi kuda-kuda Syahid.

Tanah menjadi suci dengan kemanten kita tadi lalu perang usai mereka yang telah melakukan transaksi telah menjajakan semua barangnya mereka membawa hati mereka dalam genggaman Untuk diterima atau ditolak oleh Allah Subhanahu wa ta’ala sesuai dengan kehendak-Nya.

Mereka yakin bahwa kesungguhan / kejujuran pada waktu itu adalah kekayaan yang paling berharga. Dan siapa yang sungguh- sungguh jujur dengan Allah tidak akan sia-sia.

Para Sahabat Radiallahuanhu yang masih tersisa mulai mencari saudara-saudara mereka yang masih menanti janji dari langit memilah-milah siapa yang lebih dahulu ke langit. Tangan mereka yang berusaha menyentuh jasad Hanzhalah Radiallahuanhu yang berlumur darah mereka kagum adanya rintik rintik air mengalir dari dahinya seperti butiran-butiran mutiara dan berjatuhan dari sela-sela rambutnya. Ini tentu menjadi misteri Apa maksudnya sampai kemudian para sahabat mendengar suara Nabi Shalallahu alaihi wa salam bersabda : “Sungguh Aku melihat Malaikat memandikan Hanzhalah bin Amir ra antara langit dan bumi dengan air awan dalam bejana terbaut dari perak.

Sesungguhnya Allah telah membeli jiwa dan harta orang-orang yang beriman dengan mendapatkan harga surga Selamat wahai anda Hanzhalah anda telah mendapat surga orang-orang Aus, Suku Hanzhalah sangat bangga dengannya karena dari suku mereka ada yang dimandikan Malaikat

Sesungguhnya Hanzhalah akan tetap menjadi kebanggaan dan terpatri dalam dada kaum muslimin bukan hanya untuk Aus saja! Semoga Allah ridha terhadap Hanzhalah bin Abi Amir Radiallahuanhu. (qiblati/mrg).