Arsip | Islami RSS for this section

Berlemah Lembutlah Karena Lawan Diskusi Kita Bukan Fir’aun


AirOleh: Fuad Al Hazimi

Majelis Syariah JAT

Allah Azza Wa Jalla Berfirman :

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

“Pergilah kamu berdua (Musa dan Harus) kepada Fir’aun, Sesungguhnya Dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”.

(QS Thaha 43 – 44)

Sungguh sangat menyedihkan menyaksikan diskusi di wall-wall Facebook antara mereka yang sudah sama-sama memahami ketinggian akhlak dan adab Islam.

Tetapi kenyataannya, kata-kata song*#@, tol*&^, bang*#@, dan bahkan vonis mur*#@, Kaf***, dengan mudahnya terlepas dari para aktifis Islam ini. Seakan-akan ayat-ayat ini sudah mansukh (dihapus) :

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (QS Al Fath 29)

“Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir.” (QS Al MAidah 54)

Padahal kita tidak seshalih dan sezuhud Harun atau sebersih tauhidnya Musa alaihimas salaam, dan teman diskusi kita tidak sejahat, sesombong dan seingkar Fir’aun.

Amirul Mukminin Umar bin Khattab -radhiyallohu ‘anhu- setiap berbeda pendapat dengan seseorang, beliau selalu berkata :

ما حاججت أحداً إلا وتمنيت أن يكون الحق على لسانه

“Tidaklah aku menyampaikan hujjahku kepada seseorang kecuali aku berharap agar kebenaran (al hak) ada pada lisannya (hujjahnya).”

Beginilah tawadhu’ nya seseorang yang Rasulullah berkata tentangnya :

“Sesungguhnya Allah telah meletakkan kebenaran (al Haq) pada lisan Umar dan hatinya” (Hadits shahih)

Setiap kali Imam Syafi’i berbeda pendapat dengan orang lain, beliau selalu mengatakan :

ما جادلت أحداً إلا تمنّيت أن يظهِر الله الحق على لسانه دوني

“Tidaklah Aku Mendebat Seseorang Kecuali Aku Berharapa Agar Allah Menunjukkan Kebenaran (Al Haq) Di Atas Lisannya, Bukan Lisanku.”

Seorang Ulama berkata :

لم أر غروراً أشد من غرور المتدين الذي يعتبر نفسه يتكلم بإسم الشرع بينما الامام الشافعي يقول: ما جادلت أحدا إلا وتمنيت أن يكون الحق على لسانه

“Aku tidak pernah melihat kesembronoan melebihi sembrononya seorang yang mengaku memegang teguh Dien nya yang merasa -hanya- dirinya saja yang berpegang teguh dan berbicara atas nama Syari’ah Islam.”

Sedangkan Imam Syafi’i berkata :

“Tidaklah Aku Mendebat Seseorang Kecuali Aku Berharap Agar Allah Menunjukkan Kebenaran (Al Haq) Di Atas Lisannya, Bukan Lisanku.”

Diriwayatkan bahwa Shahabat Zaid bin Tsabit -penulis wahyu Rasulullah- suatu hari hendak menaiki untanya, melihat hal tersebut, shahabat Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthallib -saudara sepupu Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam- segera bergegas mendekati beliau dan memegangi kekang unta beliau.

Zaid bin Tsabit sangat terkejut seraya berkata :

“Lepaskan tanganmu dan biarkan aku melakukannya sendiri wahai anak paman Nabi.”

Spontan Abdullah bin Abbas menjawab :

“Demikianlah Kami Diajari Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam Untuk Menghormati Ahli Ilmu (Ulama) Kami.”

(seperti tak mau kalah) Zaid bin Tsabit pun menjawab :

“Ulurkan tanganmu, perlihatkan padaku.”

Abdullah bin Abbas segera menjulurkan tangannya ke arah Zaid bin Tsabit. Seketika Zaid bin Tsabit menarik tangan Abdullah bin Abbas dan menciumnya seraya berkata :

Demikian Kami Diajari Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam Untuk Menghormati Ahlul Bayt (Keluarga) Nabi Kami.”

(Shuwar Min Hayat Ash Shohabah jilid 3/11),

Iklan

Doa 5 Nabi Dalam Al Qur’an


Doa adalah senjata orang-orang beriman. Dengan memanjatkan doa, orang-orang yang beriman meminta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala apapun yang menjadi hajatnya, baik pertolongan, keselamatan, keberhasilan, kebaikan maupun ampunan. Dan Allah –seperti firmanNya- akan mengabulkan doa-doa hamba-Nya.

Berikut ini Doa 5 Nabi dalam Al Qur’an :

Doa Nabi Adam ‘alaihis salam

رَ‌بَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ‌ لَنَا وَتَرْ‌حَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِ‌ينَ
“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi” (QS. Al A’raf : 23)

Doa Nabi Nuh ‘alaihis salam

رَ‌بِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ‌ لِي وَتَرْ‌حَمْنِي أَكُن مِّنَ الْخَاسِرِ‌ينَ
“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakikat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi” (QS. Huud : 47)

Doa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam

رَ‌بِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
وَاجْعَل لِّي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِ‌ينَ
وَاجْعَلْنِي مِن وَرَ‌ثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ
“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang shalih. Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan” (QS. Asy Syu’ara : 83-85)

Doa Nabi Sulaiman‘alaihis salam

رَ‌بِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ‌ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْ‌ضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَ‌حْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ
“Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih” (QS. An Naml : 19)

Doa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam

رَ‌بَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَ‌ةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ‌
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Al Baqarah : 201)

8 Kemungkaran di Hari Raya


Hari raya ‘Idul Fithri adalah hari yang selalu dinanti-nanti kaum muslimin. Tak ada satu pun di antara kaum muslimin yang ingin kehilangan moment berharga tersebut. Apalagi di negeri kita, selain memeriahkan Idul Fithri atau lebaran, tidak sedikit pula yang berangkat mudik ke kampung halaman. Di antara alasan mudik adalah untuk mengunjungi kerabat dan saling bersilaturahmi. Namun ada beberapa hal yang perlu dikritisi saat itu, yaitu beberapa amalan yang keliru dan mungkar. Satu sisi, amalan tersebut hanyalah tradisi yang memang tidak pernah ada dalil pendukung dalam Islam dan ada pula yang termasuk maksiat.

Pertama: Tasyabbuh (meniru-niru) orang kafir dalam berpakaian. Terutama kita lihat bagaimana model pakaian muda-mudi saat ini ketika hari raya, tidak mencerminkan bahwa mereka muslim ataukah bukan. Sulit membedakan ketika melihat pakaian yang mereka kenakan. Sungguh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”[1] Menyerupai orang kafir (tasyabbuh) ini terjadi dalam hal pakaian, penampilan dan kebiasaan. Tasyabbuh di sini diharamkan berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah dan kesepakatan para ulama (ijma’).[2]

Kedua: Mendengarkan dan memainkan musik/nyanyian/nasyid di hari raya. Imam Al Bukhari membawakan dalam Bab “Siapa yang menghalalkan khomr dengan selain namanya” sebuah riwayat dari Abu ‘Amir atau Abu Malik Al Asy’ari telah menceritakan bahwa dia tidak berdusta, lalu beliau menyampaikan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِى أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ ، وَلَيَنْزِلَنَّ أَقْوَامٌ إِلَى جَنْبِ عَلَمٍ يَرُوحُ عَلَيْهِمْ بِسَارِحَةٍ لَهُمْ ، يَأْتِيهِمْ – يَعْنِى الْفَقِيرَ – لِحَاجَةٍ فَيَقُولُوا ارْجِعْ إِلَيْنَا غَدًا . فَيُبَيِّتُهُمُ اللَّهُ وَيَضَعُ الْعَلَمَ ، وَيَمْسَخُ آخَرِينَ قِرَدَةً وَخَنَازِيرَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Sungguh, benar-benar akan ada di kalangan umatku sekelompok orang yang menghalalkan zina, sutera, khamr, dan alat musik. Dan beberapa kelompok orang akan singgah di lereng gunung dengan binatang ternak mereka. Seorang yang fakir mendatangi mereka untuk suatu keperluan, lalu mereka berkata, ‘Kembalilah kepada kami esok hari.’ Kemudian Allah mendatangkan siksaan kepada mereka dan menimpakan gunung kepada mereka serta Allah mengubah sebagian mereka menjadi kera dan babi hingga hari kiamat.”[3] Jika dikatakan menghalalkan musik, berarti musik itu haram.[4]

Ibnu Mas’ud mengatakan, “Nyanyian menumbuhkan kemunafikan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan sayuran.” Fudhail bin Iyadh mengatakan, “Nyanyian adalah mantera-mantera zina.” Adh Dhohak mengatakan, “Nyanyian itu akan merusak hati dan akan mendatangkan kemurkaan Allah.”[5]

Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata, “Nyanyian adalah suatu hal yang sia-sia yang tidak kusukai karena nyanyian itu adalah seperti kebatilan. Siapa saja yang sudah kecanduan mendengarkan nyanyian, maka persaksiannya tertolak.”[6] Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Tidak ada satu pun dari empat ulama madzhab yang berselisih pendapat mengenai haramnya alat musik.”[7]

Ketiga: Wanita berhias diri ketika keluar rumah. Padahal seperti ini diharamkan di dalam agama ini berdasarkan firman Allah,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyyah pertama.” (QS. Al Ahzab: 33). Abu ‘Ubaidah mengatakan, “Tabarruj adalah menampakkan kecantikan dirinya.” Az Zujaj mengatakan, “Tabarruj adalah menampakkan perhiasaan dan setiap hal yang dapat mendorong syahwat (godaan) bagi kaum pria.”[8] Seharusnya berhias diri menjadi penampilan istimewa si istri di hadapan suami dan ketika di rumah saja, dan bukan di hadapan khalayak ramai.

Keempat: Berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahrom. Fenomena ini merupakan musibah di tengah kaum muslimin apalagi di hari raya. Tidak ada yang selamat dari musibah ini kecuali yang dirahmati oleh Allah. Perbuatan ini terlarang berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,

كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.”[9] Jika kita melihat pada hadits di atas, menyentuh lawan jenis -yang bukan istri atau bukan mahrom- diistilahkan dengan zina. Hal ini berarti menyentuh lawan jenis adalah perbuatan yang haram karena berdasarkan kaedah ushul ‘apabila sesuatu dinamakan dengan sesuatu lain yang haram, maka menunjukkan bahwa perbuatan tersebut juga haram’.”[10]

Lihat pula bagaimana contoh dari suri tauladan kita sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنِّي لَا أُصَافِحُ النِّسَاءَ إِنَّمَا قَوْلِي لِمِائَةِ امْرَأَةٍ كَقَوْلِي لِامْرَأَةٍ وَاحِدَةٍ أَوْ مِثْلِ قَوْلِي لِامْرَأَةٍ وَاحِدَةٍ

“Sesungguhnya aku tidak akan bersalaman dengan wanita. Perkataanku terhadap seratus wanita adalah seperti perkataanku terhadap seorang wanita, atau seperti perkataanku untuk satu wanita.“[11]

Kelima: Mengkhususkan ziarah kubur pada hari raya ‘ied. Kita memang diperintahkan untuk ziarah kubur sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ

“Sekarang ziarah kuburlah karena itu akan lebih mengingatkan kematian.”[12] Namun tidaklah tepat diyakini bahwa setelah Ramadhan adalah waktu terbaik untuk menziarahi kubur orang tua atau kerabat (yang dikenal dengan “nyadran”). Kita boleh setiap saat melakukan ziarah kubur agar hati kita semakin lembut karena mengingat kematian. Masalahnya, jika seseorang mengkhususkan ziarah kubur pada waktu tertentu dan meyakini bahwa setelah Ramadhan (saat Idul Fithri) adalah waktu utama untuk nyadran atau nyekar. Ini sungguh suatu kekeliruan karena tidak ada dasar dari ajaran Islam yang menuntunkan hal ini.

Keenam: Tidak sedikit dari yang memeriahkan Idul Fithri meninggalkan shalat lima waktu karena sibuk bersilaturahmi. Kaum pria pun tidak memperhatikan shalat berjama’ah di masjid. Demi Allah, sesungguhnya ini adalah salah satu bencana yang amat besar. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah mengenai shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.”[13]

‘Umar bin Khottob rahimahullah pernah mengatakan di akhir-akhir hidupnya,

لاَ إِسْلاَمَ لِمَنْ تَرَكَ الصَّلاَةَ

“Tidaklah disebut muslim orang yang meninggalkan shalat.”[14]

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kaum muslimin tidaklah berselisih pendapat (sepakat) bahwa meninggalkan shalat wajib (shalat lima waktu) dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.”[15]

Adapun mengenai hukum shalat jama’ah, menurut pendapat yang kuat adalah wajib bagi kaum pria. Di antara yang menunjukkan bahwa shalat jama’ah itu wajib adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْطَبَ ، ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلاَةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا ، ثُمَّ آمُرَ رَجُلاً فَيَؤُمَّ النَّاسَ ، ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ

”Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, ingin kiranya aku memerintahkan orang-orang untuk mengumpulkan kayu bakar, kemudian aku perintahkan mereka untuk menegakkan shalat yang telah dikumandangkan adzannya, lalu aku memerintahkan salah seorang untuk menjadi imam, lalu aku menuju orang-orang yang tidak mengikuti sholat jama’ah, kemudian aku bakar rumah-rumah mereka”.[16]

Imam Asy Syafi’i rahimahullah mengatakan,

وَأَمَّا الجَمَاعَةُ فَلاَ اُرَخِّصُ فِي تَرْكِهَا إِلاَّ مِنْ عُذْرٍ

“Adapun shalat jama’ah, aku tidaklah memberi keringanan bagi seorang pun untuk meninggalkannya kecuali bila ada udzur.”[17]

Ketujuh: Begadang saat malam ‘Idul Fitri untuk takbiran hingga pagi sehingga kadang tidak mengerjakan shalat shubuh dan shalat ‘ied di pagi harinya. Diriwayatkan dari Abi Barzah, beliau berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَ الْعِشَاءِ وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci tidur sebelum shalat ‘Isya dan ngobrol-ngobrol setelahnya.”[18]

Ibnu Baththol menjelaskan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka begadang setelah shalat ‘Isya karena beliau sangat ingin melaksanakan shalat malam dan khawatir jika sampai luput dari shalat shubuh berjama’ah. ‘Umar bin Al Khottob sampai-sampai pernah memukul orang yang begadang setelah shalat Isya, beliau mengatakan, “Apakah kalian sekarang begadang di awal malam, nanti di akhir malam tertidur lelap?!”[19]

Takbiran yang dilakukan juga sering mengganggu kaum muslimin yang hendak beristirahat padahal hukum mengganggu sesama muslim adalah terlarang. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Muslim (yang baik) adalah yang tidak mengganggu muslim lainnya dengan lisan dan tangannya.”[20] Ibnu Baththol mengatakan, “Yang dimaksud dengan hadits ini adalah dorongan agar seorang muslim tidak menyakiti kaum muslimin lainnya dengan lisan, tangan dan seluruh bentuk menyakiti lainnya. Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Orang yang baik adalah orang yang tidak menyakiti walaupun itu hanya menyakiti seekor semut”.”[21] Perhatikanlah perkataan yang sangat bagus dari Al Hasan Al Basri. Seekor semut kecil saja dilarang disakiti, lantas bagaimana dengan manusia yang punya akal dan perasaan disakiti dengan suara bising atau mungkin lebih dari itu?!

Kedelapan: Memeriahkan ‘Idul Fithri dengan petasan. Selain mengganggu kaum muslimin lain sebagaimana dijelaskan di atas, petasan juga adalah suatu bentuk pemborosan. Karena pemborosan kata Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas adalah menginfakkan sesuatu bukan pada jalan yang benar. Qotadah mengatakan, “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.”[22] Allah Ta’ala berfirman,

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’: 26-27). Ibnu Katsir mengatakan, “Allah ingin membuat manusia menjauhi sikap boros dengan mengatakan: “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan”. Dikatakan demikian karena orang yang bersikap boros menyerupai setan dalam hal ini.[23]

Akhir kata: “Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS. Hud: 88)

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel http://www.muslim.or.id

Referensi:
[1] HR. Ahmad dan Abu Daud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ (1/269) mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Irwa’ul Gholil no. 1269.

[2] Lihat penukilan ijma’ (kesepakatan ulama) yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidho’ Ash Shirotil Mustaqim, Wazarotu Asy Syu-un Al Islamiyah, cetakan ketujuh, tahun 1417 H, 1/363.

[3] Diriwayatkan oleh Bukhari secara mu’allaq dengan lafazh jazm/ tegas.

[4] Hadits di atas dinilai shahih oleh banyak ulama, di antaranya adalah: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Al Istiqomah (1/294) dan Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan (1/259). Penilaian senada disampaikan An Nawawi, Ibnu Rajab Al Hambali, Ibnu Hajar dan Asy Syaukani –rahimahumullah-.

[5] Lihat Talbis Iblis, Ibnul Jauzi, Darul Kutub Al ‘Arobi, cetakan pertama, 1405 H, hal. 289.

[6] Lihat Talbis Iblis, 283.

[7] Majmu’ Al Fatawa, 11/576-577.

[8] Lihat Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, Al Maktab Al Islami, 6/379-380.

[9] HR. Muslim no. 6925

[10] Lihat Taysir Ilmi Ushul Fiqh, Abdullah bin Yusuf Al Judai, Muassasah Ar Royan, cetakan ketiga, 1425 H, hal. 41.

[11] HR. Malik 2/982. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[12] HR. Muslim no. 976.

[13] HR. An Nasa’i no. 463, Tirmidzi no. 2621, Ibnu Majah no. 1079 dan Ahmad 5/346. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[14] Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, Ibnul Qayyim, Dar Al Imam Ahmad, cetakan pertama, 1426 H, hal. 41.

[15] Ash Sholah, hal. 7.

[16] HR. Bukhari no. 644 dan Muslim no. 651, dari Abu Hurairah.

[17] Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 107

[18] HR. Bukhari no. 568

[19] Syarh Al Bukhari, Ibnu Baththol, Asy Syamilah, 3/278.

[20] HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40

[21] Syarh Al Bukhari, 1/38.

[22] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Muassasah Qurthubah, 8/474-475.

[23] Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 8/474.

SUMBER:http://ayotobat.com/2012/08/20/8-kemungkaran-di-hari-raya/

10 IRONI DEMOKRASI


BELAKANGAN ini umat Islam tersulut perasaan iman dan kehormatannya setelah sejumlah orang-orang licik yang tak bertanggungjawab mefilmkan sosok sakral di hatinya, Nabi Muhammad SAW. Belum reda permasalahan ini kini muncul karikatur Nabi di sebuah tabloid asal negeri anggur, Prancis.

Sam Bacile, pembuat film “Innocence of Muslim”, menggambarkan Nabi Muhammad sebagai orang yang haus seks dan pengidap pedofilia. Setelah kontroversi film, hinaan datang dari majalah Charlie Hebdo yang memuat kartun Nabi Muhammad. Bahkan redaktur majalah tersebut berjanji akan terus mengolok-olok Nabi Muhammad hingga suatu saat menjadi suatu yang lumrah seperti diolok-oloknya Yesus atau Paus.

Sejauh ini, sudah hampir 50 orang tewas di seluruh Negara Muslim dalam demo menentang penghinaan atas sosok Nabi. Setiap orang yang masih berada dalam koridor iman wajar apabila marah dan tidak bisa menerima begitu saja sikap yang sangat menyayat hati ini. Dengan dalih demokrasi, kebebasan berekspresi, kebebasan mengeluarkan pendapat dan suara, mereka mati-matian dengan gigih dan kuat pula membela sikap nyinyirnya.

Direktur Penerbit Imtiyaz Surabaya, Rijal Mumazziq Zionis, menulis dalam akun Facebook-nya, “Di Stadion, jika kita meneriakkan suara monyet saat Didier Drogba, Michael Essien dan Eric Abidal menggiring bola, kita akan dihukum karena rasisme! Jika Youssi Benayun menggiring bola dan kita teriakkan Fucking Jewish, kita ditangkap para Steward, diserahkan ke polisi atas tuduhan anti-semit! Tapi jika memparodikan sosok suci dalam sebuah agama, itu namanya “kebebasan berekspresi.””

Demokrasi telah menjadi dewa yang diagungkan. Dengannya, seseorang, sekelompok, atau sebuah negara, boleh-boleh saja mencaci, memaki, menjatuhkan harkat dan martabat. Atas namanya, kebenaran dan kebebasan berekspresi telah termanipulasi.

Betapa demokrasi menjadi senjata ampuh untuk dapat menjatuhkan martabat seorang tokoh dunia yang diakui jasanya dalam perdamaian dunia, tanpa mau mendengar dan mengerti perasaan umatnya. Itulah demokrasi yang konon menjadi sistem terbaik di dunia ini. Padahal, demokrasi merupakan produk pemikiran manusia yang nisbi.

Demokrasi hanya menjadi hiasan bibir semata untuk kepentingan politik dan syahwat ekonomi segelintir negara.

Mereka berteriak demokrasi dengan suara lantang dan menggelegar saat melihat kepentingannya terganggu. Tapi mereka diam seribu bahasa pada saat mereka mengenyahkan umat Islam di Afghanistan, Iraq, Somalia, Bosnia, atas nama demokrasi.

Mereka berkoar-berkoar dengan mulut berbusa bahwa Demokrasi menjamin kesetaraan dan keadilan namun tidak menghargai keyakinan Muslimah dalam mengenakan jilbab, sesuai kewajiban dari agamanya. Demokrasi menginjak-injak fitrah manusia dengan melegalkan perkawinan sesama laki dan perempuan, lokalisasi pelacuran, perjudian, dan mengahalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal.

Bagi negara Barat, demokrasi yang benar adalah demokrasi yang sesuai penafsiran mereka. Karikatur Nabi boleh beredar dengan UU produk manusia di Prancis, namun mereka dengan sigap menjerat setiap orang yang menyoal masalah pembantaian orang Yahudi.

Demokrasi hanya ironi yang menjadi senjata untuk menerkam dan dan menginjak-injak umat Islam. Kalangan penggiat demokarasi bersama-sama dengan penganut sekularisme, liberalisme, dan neokomunisme, menjadikan konsep demokrasi sebagai hammer untuk menggebuk umat Islam.

Bagi Habib Rizieq, Islam dan demokrasi seperti minyak dan air, bagai langit dan bumi, dua hal yang tidak akan mungkin dapat disatukan. Setidaknya ada 10 perbedaan paling prinsip antara sistem Islam dan demokrasi, kata Habib Rizieq dalam karyanya Hancurkan “Liberalisme Tegakkan Syariat Islam” (2011 : 153 -155).

Pertama, sistem Islam bersumber dari Allah Dzat yang Maha Sempurna dan Maha Mengetahui apa yang terbaik buat hamba-Nya dan keburukan yang bisa menimpanya.

Sementara sistem demokrasi tak lain merupakan produk karya manusia yang sangat lemah dan penuh dengan kesalahan dan kekurangan.

Kedua, demokrasi menjadikan meniscayakan suara terbanyak sebagai hukum, adapun Islam meniscayakan pelaksanaan syariat Islam dengan panduan Al-Qur`an dan Sunnah.

Ketiga, demokrasi memisahkan antara agama dan Negara sementara dalam Islam tidak ada pemisahan antara keduanya.

Keempat, standar kebenaran dalam Islam memakai patokan syariat, beda dengan demokrasi yang menjadikan hawa nafsu manusia dan akal pendeknya sebagai ukurannya.

Kelima, dalam Islam suara yang diambil sebagai pandangan dan masukan lahir dari orang-orang pilihan yang memiliki integritas dan moral bermutu, namun ia tetap menjadi suara manusia bukan suara Tuhan. Dalam demokrasi, suara yang diambil bisa dari mana saja: pahlawan atau pecundang, ulama atau preman, orang awam atau alim, suara mereka sama, dan semuanya dianggap sebagai “suara tuhan.”

Keenam, sisitem demokrasi dapat melahirkan undang-undang halalisasi perkara yang haram dan haramisasi hal yang halal. Beda halnya dengan Islam yang tetap memastikan sesuatu yang haram dan halal tetap berlaku sebagaimana mestinya.

Ketujuh, system telah teruji oleh sejarah sejak masa Nabi Adam, sementara demokrasi baru muncul di abad 17 pasca Revolusi Prancis tahun 1789. Meski datang belakangan dan menjadi sistem yang dianggap paling unggul saat ini, justeru demokrasi semakin menampakkan kelemahan, ketidakadilan, dan kebobrokannya.

Kedelapan, jika ada persamaa antara sistem Islam dan demokrasi, seperti diklaim oleh beberapa pihak, maka hal tersebut tak lain merupakan imitasi dari sistem Islam, sebab system Islam semakin menemukan bentuk sempurnanya di masa kenabian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam. dan bukan sebaliknya.

Kesembilan, sistem Islam menjadi sistem yang mengantarkan umat kepada kebaikan dan kesejahteraan, seperti tertera dalam Al-Quran Surah Ali Imran ayat 110. Bagaimana dengan demokrasi? Sampai detik ini tak pernah berhasil menjadi sistem terbaik, malah makin terkuak bobrok dan rusaknya.

Kesepuluh, menegakkan system kehidupan berlandaskan Islam merupakan kewajiban agama, sehingga mendapat pahala dan berkah bagi yang melaksanakannya, dan mendatangkan dosa dan murka bagi yang meninggalkannya. Adapun demokrasi tidak termasuk dalam kewajiban agama, bahkan bisa menjerumuskan kepada dosa dan mendatangkan bencana karena banyaknya pertentangangan dengan Islam.*/Penulis adalah Tenaga Edukatif di Pesantren Darut Tauhid Malang.

Kisah Juru Damai


Oleh: Dr Muhammad Hariyadi, MA

Dikisahkan bahwa orang-orang Yahudi yang menjadi musuh kaum Muslimin dan bangsa Arab sejak permulaan sejarah merasa terancam pasca bersatunya kaum Aus dan Khazraj di Madinah sejak kedatangan Rasulullah SAW.

Sebagian mereka bahkan menyatakan marabahaya telah dekat jika kedua kaum tersebut bersatu dalam kedamaian. Sebagian yang lain menyatakan tidak akan bisa hidup jika bangsa Arab bersatu.

Hal tersebut karena peperangan antara kaum Aus dan Khazraj telah berlangsung sekitar 120 tahun, hingga kemudian Allah melunakkan hati mereka dengan juru damai Islam, Rasulullah SAW.

Mereka berada di ujung api neraka disebabkan kemusyrikan dan kekufuran serta perselisihan di antara mereka, sampai kemudian Allah SWT menyelamatkan mereka dengan memberikan petunjuk keimanan.

Hingga suatu ketika, salah seorang Yahudi duduk dalam satu majelis yang di dalamnya terdapat kaum Aus dan Khazraj, seraya mengingatkan mereka pada peristiwa Bu’ats (hari terjadinya perang sengit antara Bani Aus dan Bani Khazraj pada masa jahiliyah). Yahudi tersebut melantunkan syair-syair dengan maksud membangkitkan kedengkian dan dendam di antara kedua kaum tersebut.

Dan tidak berselang lama, syair-syair tersebut telah berhasil memengaruhi jiwa kedua kaum, sehingga keduanya mulai saling melakukan provokasi. Kedua kaum di Majelis tersebut bahkan sempat mengundang anggotanya untuk bersiap-siap perang lengkap dengan senjatanya, sebagaimana yang terjadi pada masa jahiliyah.

Kemudian Rasulullah mendatangi mereka dan berkata, “Apakah kalian akan kembali ke zaman jahiliyah, sedangkan aku berada di antara kalian?” Rasulullah SAW mengingatkan mereka bahwa orang-orang Yahudi tidak senang melihat bangsa Arab bersatu.

Mereka menyebarkan fitnah agar bangsa Arab kembali kepada kekafiran dan berselisih sebagaimana yang terjadi pada masa jahiliyah, sehingga kemuliaan dan kekuasaan tetap berada di tangan bangsa Yahudi.

Apa yang disampaikan Rasulullah SAW membuat kaum Aus dan Khazraj sadar dan saling menyesali perbuatan mereka. Mereka meletakkan senjatanya sambil menangis dan berpelukan. Perdamaian antara kaum Aus dan Khazraj tercapai dan lalu turun ayat Al-Qur’an, “Dan berpeganglah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai…” (QS. Ali Imran: 103).

Betapa miripnya tahun ini dengan seribu tahun lalu, dan betapa miripnya masa kini dengan masa lalu. Demikianlah bangsa Yahudi saat ini, tepatnya bangsa Israel atau kaum zionis di dunia, mereka meyakini bahwa tidak ada kehidupan jika umat Islam dan bangsa Arab bersatu.

Persatuan kaum Muslimin membuat mereka tidak dapat tidur nyenyak, sehingga siang dan malam, sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka berupaya untuk menjadikan kaum muslimin berselisih agar mereka mendapatkan keuntungan, kedudukan dan kekuasaan.

Maka lihatlah wahai kaum Muslimin dan bangsa Arab apa yang mereka lakukan dan mari merapatkan barisan untuk selalu bersama dalam kesatuan serta berdoa kepada Allah SWT agar menyatukan barisan kaum Muslimin. Maka setiap orang mukmin yang bertakwa, berpegang teguh pada agama Allah, melakukan perbuatan baik akan menuai kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.

Allah SWT berfirman, “Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97). Wallahu a’lam.

Kini Bukan Zaman Abrahah


Itu judul tidak asing. Dr. Raghib As-Sirjani pernah menulis dalam artikelnya. Penulis “Misteri Shalat Subuh” ini menyimpulkan bahwa ada sunnatullah yang berbeda antara ummat sebelum dan sesudah Muhammad SAW. Dalam menumpas kedhaliman, Allah lebih sering mengirimkan “mukjizat” dan “keajaiban luar biasa” pada era sebelum Rasulullah SAW.

Semua orang pasti tau kisah Abrahah. Allah mengabadikannya dalam surat Al-Fiil. Tekad Abrahah untuk menghancurkan ka’bah begitu membuncah. Raja asal Yaman ini bahkan membawa serta pasukan gajah; simbol kedigdayaan sebuah kekuatan kala itu. Tak lupa, sebelum operasi penghancuran ka’bah diwujudkan, Abrahah nyambi merampas 200 ekor onta milik Abdul Muthallib, yang juga berstatus sebagai penjaga ka’bah.

Sesepuh Mekah itu begitu kharismatik. Ia datang menghadap Abrahah dan raja itu menyambutnya dengan sangat hangat. Ia didudukkan di sebuah singgasana terhormat. “Apa maksud kedatanganmu Tuan?” tanya Abrahah. “Tolong kembalikan kepadaku 200 ekor onta yang Kau rampas!” jawabnya. Betapa kaget Abrahah. Rasa hormatnya seketika luruh. “Semula aku menghargaimu begitu tinggi, saya datang untuk menghancurkan ka’bah, tapi Anda malah sibuk memikirkan onta. Betapa kecil permintaanmu wahai Abdul Muthallib?” Dan terbitlah kalimat Abdul Muthalib yang begitu terkenal: “Sungguh, aku hanya pemilik onta, sedang Baitullah milik Rabb yang akan menjaganya.”

Kepasifan Abdul Muthallib ternyata tidak sendiri. Penduduk Mekkah juga mengosongkan kota; bersembunyi di lorong, gunung dan goa. Tak ada jejak-jejak ikhtiar untuk sebuah perlawanan. Mereka membiarkan Abrahah dan tentara gajahnya melenggang. Dalam kondisi demikian, turunlah burung Ababil membawa batu dari tanah yang terbakar. Gajah-gajah pun menjadi laksana daun-daun yang dimakan ulat. Begitulah Allah meluluhlantakkan kedhaliman dengan mukjizat. Sebuah kejadian luar biasa yang jauh dari jangkauan akal manusia. Tak ada pedang terhunus. Tak ada bubuk mesiu. Tak ada sorak-sorai pertempuran.

Keajaiban serupa juga berlaku pada ummat sebelumnya. Ketika kaum Nuh mendustakan kenabian, Allah mengirimkan topan dan banjir. Ketika kaum Nabi Luth bertindak melampaui batas, Allah membalik bumi mereka. Ketika Fir’aun mengkufuri Musa, Ia dan tentaranya ditenggelamkan di lautan. Sama sekali tak ada pertempuran. Yang ada hanya topan, badai, dan banjir.

Dan di tahun gajah itulah, Junjungan kita dilahirkan. Babak baru dimulai. Muhammad Sang Rasul, bertugas membawa missi baru. Sebuah risalah tauhid yang menghapus syariat agama samawi sebelumnya. Penolakan dakwah dari kaumnya tak bisa dielakkan karena demikian sunnah dakwah para Nabi. Kedhaliman akan selalu ada demikian pula kebenaran. Dan kedhaliman akan ditumpas sebelum atau sesudah era Nabi Muhammad. Yang berbeda hanya methode dan cara.

Sunnatullah yang berlaku bagi ummat Muhmmad ternyata sebagaimana tertera dalam Surat Muhammad ayat 7: “Jika Kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu.” Ya, ada tuntutan untuk lebih dulu powerfull dalam beramal sebelum mengharap pertolongan. “Burung Ababil” agak sulit diharapkan selagi ummat Islam menyaksikan kedhaliman dari kejauhan. Pertolongan tidak diberikan bagi umat Muhammad SAW yang pasif lagi malas. Dan kita menyaksikan babak baru; bahwa Allah menjaga agama-Nya dengan mendatangkan rijal. Ya.., Allah tidak mengirim burung ababil melainkan lebih sering berupa manusia-manusia. Bukankah saat tauhid ditindas, Allah menerbitkan perundangan i’dad dan jihad. Maka lahirlah perang Badar, Uhud, Ahzab, dan perang-perang lain.

Allah yang menurunkan Al-Qur’an dan Allah juga yang berjanji akan menjaganya. Penjagaan yang akan terus dan terus berlangsung hingga hari kiamat. Disini kita mencoba memahami makna di balik hadits-hadits Nabi ihwal Thaifah Manshurah. Bahwa sebagaimana sabda Nabi, eksistensi kelompok yang dicirikan selalu berpegang teguh kepada al-haq (dhahirin); berperang di jalan Allah; dan selalu lestari hingga hari kiamat, adalah deskripsi yang sangat kuat sebagai “penjaga agama Allah”. Merekalah para rijal yang permunculannya mengikuti rencana dan jadwal Allah. Mereka akan selalu ada pada setiap zaman. Itu sebuah janji yang pasti.

Buku “Perjalanan Gerakan Jihad” karya As-Suri memberikan konfirmasi atas hal ini. Bahwa dibalik ragam, dinamika, godaan, kesulitan, dan liku-liku shahwah islamiyah, selalu ada kelompok yang diberi kemudahan konsisten di jalur jihad. Mereka selalu eksis meski permunculannya selalu diiringi dengan operasi pembasmian. “La yadhurruhum man khazalahum” (mereka tidak akan bisa dirusak oleh orang yang menumpas mereka). Maka, segala upaya “pembasmian” atas kelompok ini hanya seumpama hendak menerbitkan matahari dari arah barat. Tulisan As-Suri berhasil membuktikan hal itu. Profile, sejarah, eksperimen yang beliau paparkan, menyuratkan tetap eksisnya kelompok jihadis.

Bukan berarti shahwah islamiyah non-jihadi menjadi tidak penting, atau tidak memiliki peran. Masing-masing memiliki ladang amal karena memang demikian luas cabang-cabang Iman. Juga karena surga bertingkat-tingkat, tiketnya juga bisa dari jalan amal yang berbilang. Hanya, Thaifah Manshurah bisa disebut inti ummat. Sebangsa “cagar alam” yang disiapkan untuk menjaga agama Allah ini dengan resiko yang paling pahit.

Keberadaan Thaifah Manshurah itu pasti. Yang belum pasti, apakah kita merupakan bagian daripadanya; menjadi ababil-ababil penumpas kedhaliman masa kini? Itu yang belum pasti

http://eramuslim.com/berita-kini-bukan-zaman-abrahah.html

Methode Syari’at Mengatur Kehidupan


Gelora untuk memisahkan Islam dari ruang publik, tampak menyala pada komunitas Islam Liberal. Agama di mata mereka adalah wilayah privat, karenanya, “haram” baginya mengintervensi urusan publik. Hal tersebut memang bukan wacana baru, melainkan sekadar ulangan dari paham sekulerisme.

Sekulerisme, sering diidentikkan dengan pemberontakan Marthin Lutter yang protestan, atas naifnya kondisi gereja yang terlampau “merecoki” urusan kehidupan, terutama pada aspek politik. Gereja mengklaim berhak mengampuni dosa, bahkan sampai menjual sertifikat surga, semua dilakukan atas nama Tuhan. Marthin-pun berontak.

Maka, ketika segelintir cendekiawan menjajakan produk sekulerisasi “Islam”, sebagaimana Kristen melakukan, banyak Ummat Islam protes, pasalnya, analogi Islam-Kristen tidaklah adekuat, pula, bagaimana mungkin “Ilham” Marthin Lutter yang protestan dapat dijadikan sandaran dalam kehidupan muslim ?. Singkatnya, logika “awwam” menyatakan, “ilham” itu tidak otoritatif, karenanya, harus dibuang jauh-jauh.

Belakangan, seiring “banjir-bandang” kajian Utan Kayu di mass-media, alasan (baca: dalil) dari ajakan “kenapa harus sekuler ? ” tidak murni lagi menampilkan “manifesto” seorang Marthin, melainkan “membawa-mbawa” dalil Islam. Yang cukup populer adalah hadits Rasulullah SAW, “antum a’lamu biumuuri dunyaakum”, juga beberapa kaidah ushul fiqh.

Ulil Abshar misalnya berkata: “Dalam kehidupan publik, Tuhan menyerahkan semua hal pada voting. “Antum a’lamu biumuri dunyakum,” kata Nabi; kalian lebih tahu urusan mundan yang anda hadapi setiap hari. “Fa-ma sakata ‘anhusy syari’u fahuwa ‘afwun,” kata Nabi dalam hadis yang lain; apa-apa yang agama diam, maka itu berarti memang bukan urusan agama, ia urusan duniawi yang menjadi kawasan “mubah” (diperbolehkan)”. 1)

Dalam sebuah diskusi di Utan Kayu Denny JA juga berkata: “Kalau kita konsekuen bahwa Al-Quran itu berlaku sepanjang zaman, menembus batas masa dan ribuan tahun, maka amat mustahil bahwa Al-Qur’an yang sesuai dengan semua zaman itu hanya diterjemahkan dalam satu sistem. Logikanya tidak kena. Artinya, mustahil misalnya satu sistem yang ada pada masa Nabi Muhammad SAW dianggap cocok untuk semua zaman. Sistem itu belum tentu cocok dan baik untuk diterapkan saat ini. Oleh karena itu, raihlah apinya Islam, kata Bung Karno, bukan abunya”. 2)

Dalil yang dinukil Ulil memang demikian adanya, namun kesimpulan Ulil bahwa “Tuhan menyerahkan semua hal (dalam kehidupan publik) pada voting”, tergolong nekad. Karena ia tidak menjelaskan pada aspek apa ?, mengingat, Islam banyak mengatur kehidupan publik. Kehidupan publik yang diserahkan kepada voting -menurut istilah Ulil- adalah pada urusan dunia an sich, seperti akan dijelaskan dibelakang. Kaidah yang dinukil Ulil –..apa-apa yang agama diam, maka itu berarti memang bukan urusan agama, ia urusan duniawi yang menjadi kawasan “mubah” (diperbolehkan )–, adalah normal belaka. Karena itulah, justru ide sekulerisasi menjadi aneh karena Islam jelas tidak diam bahkan mengatur kehidupan dunia.

Pernyataan Denny juga rasanya belum lengkap, Jika yang dimaksud Al Qur’an tidak selalu hadir dengan redaksi yang baku, rinci dan detail pada sebuah sistem, memang demikian adanya, namun semoga tidak diteruskan dengan sebuah kesimpulan – seperti tercermin dalam banyak pernyataan Denny di islib– bahwa sebuah “sistem” menjadi bebas untuk dibuat tanpa perlu menjadikan dasar dan nilai umum syari’at sebagai rujukan ijtihad, karena jika demikian, konsekuensianya akan menghapus sekian banyak ayat Al Qur’an.

Tulisan berikut bermaksud menjelaskan bagaimana ketentuan syari’at mengatur kehidupan manusia, baik yang bersifat privat maupun publik, agar batasan-batasannya menjadi jelas, kekaburan dalam hal ini kadang berdampak pada sikap pemaksaan dalil, untuk sebuah konteks yang seringkali kurang tepat.

Islam, Sempurna dan Lengkap

Adalah bagaian dari Iman, meyakini Dien Islam telah sempurna sekaligus syumul (lengkap, komprehensif). Syumul dalam arti, ia telah lengkap untuk mengatur dan menjawab seluruh persoalan kehidupan manusia yang multi dimensional. Islam adalah syari’at penutup hingga akhir zaman. Allah menegaskan dalam QS Al Maidah:

“Hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian Dien kalian dan telah Aku sempurnakan untukmu nikmatKu dan telah Aku ridhai Islam sebagai dien-mu”.

Sempurna dan lengkap dimaksud, tentu bukan dalam arti setiap persoalan kehidupan telah diterangkan secara detail oleh Al Qur’an dan As Sunnah, karena hal tersebut tidak mungkin, mengingat persoalan kehidupan selalu berkembang dan tak terbilang jumlahnya. Dengan demikian, maksud sempurna dan lengkap adalah, disatu sisi, Islam mengatur kehidupan dengan nash-nash yang detail dan rinci, yang bersifat tidak berubah seriring perubahan waktu, tempat dan kondisi. Disisi lain, terkadang Islam mengatur kehidupan dengan nash-nash global yang ia menjadi inspirasi dan pedoman bagi munculnya istimbath hukum pada persoalan kehidupan yang bersifat “situasional”.

Imam Asy Syatiby berkata: “Jika yang dimaksud ayat —al-yauma akmaltu lakum diinakum— adalah kamal (sempurna) dalam bentuk ketetapan perilaku pada setiap juz’iyyah (bagian/rincian), maka sesungguhnya juz’iyyah itu tidak ada habisnya, …. Akan tetapi, sempurna yang dimaksud adalah, ketetapan global (qoidah kulliyyah) yang dengannya, juz’iyyah yang tidak terbatas itu, berjalan diatasnya…”.3)

Ibnu Taimiyah mengkritik pihak yang mengingkari kesempurnaan Islam, berikut petikan kalimatnya:

“Jumhur Aimmah berpendapat, nash-nash (Al-Qur’an-As Sunnah) cukup sebagai landasan mengatur garis besar kehidupan manusia, sebagian bahkan menyatakan cukup sebagai landasan mengatur seluruh kehidupan manusia, … Akan tetapi, ada sebagian kalangan yang menolak hal tersebut. Hal ini disebabkan ia tidak memahami ma’na nash-nash umum dari Firman Allah dan sabda RasulNya… . Padahal Allah mengutus Muhammad SAW dengan kalimat yang jami’ (komprehensif), Ia berkata dengan kalimat padat ma’na dan bersifat umum yang menjadi “prinsip global” atau “teori umum” yang dapat mencakup banyak persoalan sekaligus meliputi kasus-kasus yang tak terbilang. Dalam konteks semacam inilah nash-nash mencakupi ketetapan-ketetapan kehidupan manusia.4)

Dengan demikian, secara sederhana, “methodologi” Islam mengatur kehidupan dapat kita klasifikasikan sebagai berikut: 5)

1. Tafshiliyah Tsubutiyyah (detail-absolut).

Pada aspek kehidupan yang bersifat statis, tidak berubah seiring perubahan situasi dan kondisi, syari’at datang dengan redaksi hukum yang terinci, detail dan jelas. Semisal, ketentuan pernikahan, ketentuan pidana (hudud), ketentuan ubudiyah (sholat, puasa, haji, dll. ).

Tidak ada “inovasi” dalam wilayah ini, jika Rasulullah bersabda: “shollu kamaa- raitumuuni usholli” –sholatlah sebagaimana engkau melihat aku sholat-, maka tidak boleh neko-neko dengan membikin sholat gaya baru, demikian juga dengan adzan, tidak bisa diterjemah dengan bahasa lokal atas nama pribumisasi. Pembagian waris menurut Islam juga paket yang tidak bisa diutak-atik atas dalih kontekstualisasi ijtihad.

2. Ahkam Mujmalah (ketentuan/nilai umum)

Nash juga tampil dengan ketentuan global (ahkaam mujmalah) atau teori umum (qaidah kulliyah). Secara substansi, nilai dan tujuan dari kaidah umum tersebut jelas, hanyasanya, bentuk dan perwujudanya dalam praktek kekinian lebih bervariasi dan berubah-ubah, seiring tuntutan situasi, kondisi dan tempat. Dalam hal ini, kaidah umum dimaksud, menjadi acuan dan pedoman bagi lahirnya ijtihad baru.

Contoh aspek ini antara lain, kurikulum pendidikan, konsep ekonomi bagi sebuah negara, sistem administrasi, peraturan lalu lintas dan lain-lain. Dalam konteks semacam ini syari’at tidak hadir dengan ketentuan-ketentuan yang detail, mengingat persoalan semacam diatas terus berkembang pada setiap tempat dan waktu, karenanya, jika seluruh rincian persoalan telah tercantum dalam ketentuan syari’at, justru hal ini akan mempersempit ruang lingkup Islam sebagai sistem yang paripurna dan komprehensif.

Konsep ekonomi misalnya, syari’at telah meletakkan pijakan umum, baku dan tidak berubah, seperti, harta adalah milik Allah sedang manusia sebagai pengelola, harta tidak boleh beredar hanya pada sekelompok orang kaya, Islam mengakui hak kepemilikan pribadi, tidak boleh memakan harta orang lain dari jalan yang tidak benar, riba diharamkan, Infaq harus digalakkan dan seterusnya.

Pijakan-pijakan umum tersebut menjadi landasan bagi lahirnya ijtihad, baik berupa jawaban, legislasi hukum, atau yang lainnya dalam persoalan ekonomi “modern”. Dengan demikian, segala bentuk konsep, aturan atau ijtihad yang dirumuskan, tidak boleh bertentangan dengan nilai umum yang terkandung.

Ijtihad dimaksud tentu bukan sembarangan, ia musti lahir dari kalangan yang memiliki otoritas dibidangnya. Secara normatif, hal ini telah ditegaskan dalam kaidah ushul, misalnya, seorang mujtahid haruslah orang yang; mengimani kebenaran syari’at, memahami bahasa arab, berwawasan Al Qur’an – As Sunnah, berwawasan turots (warisan karya Ulama’ Mujtahidin masa lalu), memahami persoalan yang dihadapi dan berakhlaq (moral) terpuji. Dengan demikian, ijtihad merupakan persoalan berat yang “secara umum”, tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang.

3. Umuurud Dunya (Urusan Dunia)

Ada aspek kehidupan manusia yang dimensinya murni urusan dunia, tidak ada sangkut pautnya dengan halal-haram, haq-bathil, petunjuk-sesat. Misalnya, budi daya tanaman, industri, dan sejenisnya. Pada wilayah ini, Islam menyerahkan urusannya kepada masing-masing pribadi untuk berkembang, berkreasi, berinovasi, bereksperimen sebatas kemampuan nalar dan kemampuan yang dimiliki.

Status hukum asalnya mubah (diperbolehkan), selama tidak bertentangan dengan tujuan umum hidup manusia, yakni Ibadah. Disinilah letak penerapan dalil, Dari Anas RA, Rasulullah SAW bersabda:

“… Engkau lebih tahu urusan dunia kalian”(HR. Muslim)”

Asbabul wurudl hadits diatas, Rasulullah saw. bersama Sahabat berjalan menghampiri penduduk Madinah yang mengawinkan Kurma, Beliau berkomentar, “menurut pandangan saya, itu tidak bermanfaat”. Penduduk Madinah kemudian meningalkan tradisi tersebut, sampai akhirnya Kurma tidak berbuah, atau buahnya menjadi berkurang. Akhirnya mereka melapor kepada Rasulullah, dan kemudian beliau berkata, “Engkau lebih mengetahui urusan dunia kalian”, 6)

Dalam riwayat yang berbeda, Beliau menyatakan: “Sesungguhnya hal itu hanyalah sangkaan saya, maka janganlah engkau ambil dariku yang bersifat sangkaan, akan tetapi jika saya berbicara kepada kalian sesuatu dari Allah, maka ambillah”.

Para Ulama’ menerangkan, maksud sangkaan (dzann) atau pendapat (ra’yu) pribadi Rasulullah SAW dalam konteks hadits diatas adalah dalam urusan dunia dan kehidupannya, bukan dalam urusan tasyri’. Adapun perkataan dari ijtihad Rasulullah dan pandangan-pandangannya yang syar’I, maka wajib diamalkan. 7)

Penutup

Skema dan uraian ringkas diatas menggambarkan bahwa syari’at mencakup semua cabang hukum pada seluruh aspek kehidupan manusia. Disamping, syari’at juga tetap memberikan ruang bagi pemberdayaan potensi akal dan pikiran manusia. Pada aspek legislasi hukum islam, fungsi akal dan pikiran berperan pada proses ijtihad dengan piranti-piranti yang lazim semisal, takwil (interpretasi, seperti pada ayat-ayat mutasayaabihat), qiyas (deduksi analogi), istihsan (inferensi) dan sejenisnya. Fungsi akal dalam legislasi, namun demikian, tidaklah tampil dengan kemandirian pandangan secara penuh, melainkan harus selaras dengan dasar syari’at dan semangat umumnya (maqoshidusy syar’I). Berbeda dengan pemberdayaan akal dan pikiran pada urusan dunia murni, akal dapat tampil dengan kemandirian pandangan secara penuh.

Siapapun yang mangkaji secara rinci, jujur dan obyektif akan mampu membedakan antara bagian-bagian syari’at yang memiliki sifat baku (absolut, tsawaabit) dan bagian-bagian yang relatif (mutaghoyyirot), yang lentur dan memiliki berbagai kemungkinan untuk memenuhi tuntutan waktu dan zaman yang selalu berubah.

Dengan demikian menjadi jelas bahwa tujuan dan obyek tujuan ijtihad bukanlah untuk menggantikan hukum ilahi dengan kreasi manusia. Atas pandangan semacam ini, maka menjadi aneh ide mentafsir ulang Islam dengan nafsu mencampakkan “otoritas masa silam” seperti menjadi kegemaran komunitas Islam Liberal.

1. islamlib.com

2. ibid

3. Asy Syatiby. Al-I’tishom. II/305, terjemahan beba.

4. (Ibnu Taimiyah. Majmu’ Fatawa XIX/280. terjemahan bebas.

5. diilhami oleh kitab, Al Ilmaniyyah, atsaruha wa tathowwuriha, Syaikh Safar Al Hawaly, dunukil Ad Dumaijy. Al Imamah AL Udzma. Hal.

6. Periksa, Imam Nawawi. Syarhu Shahih Muslim III/118.

7. ibid. hal 116

http://eramuslim.com/berita-methode-syari%E2%80%99at-mengatur–kehidupan–.html?utm_source=dlvr.it&utm_medium=facebook