Arsip | Hadits Palsu RSS for this section

Hadits Tentang Membaca Yasin di Kubur Orang Tua


Islamedia – Dari Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa berziarah kubur kedua orang tuanya atau salah satunya pada setiap hari Jumat, kemudian membaca surat Yasin, maka dia akan diampuni sebanyak ayat dan huruf surat itu.” (HR. Ad Dailami)

Ustadz, hadits Ad Dailami termasuk dhaif? (Hafizh Nashir)

Jawaban:

Bismillah wal hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa ba’d:

Bunyi hadits tersebut adalah sebagai berikut:

من زار قبر والديه كل جمعة ، فقرأ عندهما أو عنده ( يس ) غفر له بعدد كل آية أو حرف ”
Barangsiapa menziarahi kubur kedua orang tuanya, lalu dia membaca di sisi keduanya atau salah satunya surat Yasin, maka dia akan diampuni sebanyak ayat atau huruf surat itu.

Hadits ini diriwayatkan oleh:

– Imam Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbahan No. 2026
– Imam Abdul Ghani Al Maqdisi dalam As Sunan, 2/91
– Imam Ibnu ‘Adil dalam Al Kamil, 5/152

Sanad hadits ini:

Abu Muhammad bin Hayyan berkata kepadaku Abu Ali bin Ibrahim, berkata kepadaku Abu Mas’ud Yazid bin Khalid, berkata kepadaku ‘Amru bin Ziyad Al Baqal Al Khurasani, berkata kepadaku Yahya bin Sulaiman, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, dari ayahnya, lalu disebut hadits di atas.

Hadits ini palsu dan tidak ada dasarnya menurut umumnya para ulama.

Imam Ibnu ‘Adi Rahimahullah berkata:

وهذا الحديث بهذا الإسناد باطل ليس له أصل

Hadits ini, dengan isnad seperti ini adalah batil, dan tidak ada dasarnya. (Al Kamil fidh Dhuafa, 5/152)

Beliau mengomentari ‘Amru bin Ziyad Al Baqal sebagai berikut:

ولعمرو بن زياد غير هذا من الحديث منها سرقة يسرقها من الثقات ومنها موضوعات وكان هو يتهم بوضعها

Untuk ‘Amru bin Ziyad, selain pada hadits ini, ada hadits lain yang dicurinya dari orang-orang terpercaya dan diantaranya banyak yang palsu, dan dia dituduh memalsukannya. (Ibid)

Sedangkan Imam Ad Daruquthni berkata: “Yadha’ul hadits – dia memalsukan hadits. (Mizanul I’tidal, 3/261)

Imam Adz Dzahabi berkata tentang ‘Amru bin Ziyad: “Wadhaa’ –pemalsu hadits. (Talkhis Kitab Al Maudhu’at, No. 940)

Oleh karena itu, Imam Ibnul Jauzi memasukan hadits ini sebagai deretan hadits palsu. (Al Maudhu’at, 3/239)

Imam As Suyuthi menguatkan hadits ini, tetapi …

Sementara itu, Imam As Suyuthi nampak membela hadits ini dengan mengatakan: Lahu syaahid – hadits ini memiliki penguat. (Lihat Al La-ali Al Mashnu’ah fil Ahadits Maudhu’ah, 2/365)

Lalu Imam As Suyuthi menyebutkan hadits yang Beliau sebut sebagai syahid (penguat), yakni:

من زار قبر أبويه أو أحدهما كل جمعة غفر له وكتب برا

Barang siapa yang menziarahi kubur kedua orang tuanya atau salah satunya setiap hari Jumat, maka dia diampuni dan dicatat baginya telah berbakti kepadanya. (HR. Ath Thabarani, Al Awsath No. 6114, dari Abu Hurairah)

Tetapi, ternyata hadits ini pun juga cacat dengan cacat yang tidak kalah parahnya, yakni ada tiga orang perawi yang bermasalah:

– Abdul Karim Abu Umayyah, oleh Imam As Suyuthi sendiri dikatakan dhaif.
– Yahya bin Al ‘Ala Al Bajali, seorang yang majhul (tidak dikenal)
– Muhammad bin An Nu’man, juga majhul (Lihat Al La-ali Mashnu’ah, 2/366)

Namun, yang benar adalah Yahya bin Al ‘Ala bukan majhul (tidak dikenal), tetapi dia ma’ruf (dikenal), bahkan sebagian imam menyebutnya sebagai pembohong. Berikut ini rinciannya:

Imam Yahya bin Ma’in berkata tentang Yahya bin Al ‘Ala: Laisa bi syai’ – bukan apa-apa.
Imam Amru bin Ali berkata: Matrukul hadits jiddan – haditsnya sangat ditinggalkan.
Imam Abu Zur’ah berkata: fi haditsihi dha’f – pada haditsnya ada kelemahan.
Imam Abu Hatim berkata: Laisa bil qawwi – bukan orang yang kuat. (Lihat Imam Ibnu Abi Hatim, Al Jarh wat Ta’dil, 9/180)

Imam Ahmad berkata: Kadzdzaab yadha’ul hadits – pembohong dan pemalsu hadits. Bahkan Beliau menyebut Yahya bin Al ‘Ala sebagai rafidhi – syiah.
Imam Amru bin Ali, Imam An Nasa’i, Imam Al Azdi berkata: matrukul hadits – haditsnya ditinggalkan.
Imam Ad Daruquthni mengatakan: dhaif – lemah.
Imam Ibnu ‘Adi mengatakan: dhaif, pada hadits terdapat banyak hadits-hadits palsu.
Imam Ibnu Hibban mengatakan: tidak boleh berhujjah dengannya.
(Lihat Imam Ibnul Jauzi, Adh Dhu’afa wal Matrukin, 1/144, 3/200. Juga Imam Ibnul Mubarrad, Bahrud Dam No. 1162)

Imam Ibnu Hajar menyebutkan bahwa Imam Waki’ mengatakan bahwa Yahya bin Al ‘Ala memalsukan hadits tentang cara menanggalkan sandal sampai dua puluhan hadits.
Imam Al Jauzujaani mengatakan: ghairu muqni’ – tidak memuaskan. Pada kesempatan lain mengatakan: Syaikh waahiyun – seorang syaikh yang lemah.
Yusuf bin Sufyan mengenalinya dan mengingkarinya. As Saaji berkata: munkarul hadits – haditsnya munkar. Ad Daulabi berkata: matrukul hadits. (Lihat Imam Ibnu Hajar, Tahdzibut Tahdzib, 11/229)

Oleh karena itu, apa yang disebut Imam As Suyuthi bahwa Yahya bin Al ‘Ala seorang yang tidak dikenal, telah terkoreksi oleh pernyataan para imam yang sedemikian banyaknya tentang dia.

Berkata Syaikh Al Albani Rahimahullah:

وكذلك أخطأ السيوطي في ” اللآليء ” حيث قال ( 2 /234 ) حيث قال : عبد الكريم ضعيف ، ويحيى بن العلاء ومحمد بن النعمان مجهولان فإن يحيى بن العلاء ليس بالمجهول ، بل هو معروف ولكن بالكذب !

Oleh karena itu, As Suyuthi telah membuat kesalahan dalam Al La-ali (2/234), ketika dia berkata: Abdul Karim lemah, Yahya bin Al ‘Ala dan Muhammad bin Nu’man adalah dua orang yang majhul. Ternyata Yahya bin Al ‘Ala bukan orang yang majhul, tetapi ma’ruf (dikenal) tetapi dikenal sebagai pembohong! (As Silsilah Adh Dhaifah, 1/126)

Ada pun tentang Muhammad bin An Nu’man, benar seperti yang dikatakan Imam As Syuthi bahwa dia adalah majhul (tidak dikenal). Ini juga dikatakan Imam Al ‘Uqaili, Imam Adz Dzahabi, dan Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani. (Lihat Al Mughni fidh Dhuafa, 2/640. Mizanul I’tidal, 4/56, Ad Dhu’afa No. 1712, Maghani Al Akhyar No. 558)

Lalu Syaikh Al Albani menambahkan :

وقد علمت أنه حديث موضوع أيضا ! ولوقيل بأنه ضعيف فقط فلا يصلح شاهدا لهذا

Telah saya ketahui bahwa hadits ini palsu juga! Seandainya dikatakan cuma dhaif pun tidak layak dijadikan sebagai syaahid bagi hadits ini. (Ibid, 1/127)

Maka kesimpulannya adalah hadits yang ditanyakan ini adalah palsu, bahkan hadits lain yang dianggap sebagai penguatnya juga palsu.

Demikian. Wallahu A’lam

Wa Shallallahu ‘Ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi ajmain.

Ustadz Farid Nu’man Hasan

Iklan

Hadis-hadis Palsu Populer Menurut Ali Mustafa Yaqub 


Hadis palsu ada kalanya populer di masyarakat, bahkan menjadi dasar amalan ibadah mereka yang kurang jeli dan tidak memperhatikan keotentikan suatu hadis. Untuk menyikapi permasalah tersebut, maka Ali Mustafa Yaqub menyusun sebuah buku yang membahas kelemahan-kelemahan yang terdapat pada hadis-hadis palsu populer di masyarakat tetapi setelah diadakan penelitian ternyata hadis tersebut bermasalah, dalam arti lemah bahkan sangat lemah.
Beberapa hadis palsu tersebut, yaitu.
Hadis palsu “Mencari Ilmu di Negeri Cina”
Para ulama hadis menurut Ali seperti yang ia kutip dari al-Albani dalam kitabnya Silsilah al-Ahadis al-Dha’ifah wa al-Maudhu’ah. mereka sepakat bahwa Abu ‘Atikah Tarif bin Sulaiman tidak memiliki kredibilitas sebagai rawi hadis. Imam Ahmad bin Hanbal juga menentang keras hadis itu. Artinya ia tidak mengakui bahwa ungkapan itu sebagai hadis Nabi saw, atau termasuk hadis palsu
Menurut Ali, hadis palsu tersebut juga ditulis kembali oleh Ibn al-Jauzi dalam kitabnya al-Maudhu’at. Kemudian al-Suyuti dalam kitabnya al-La’ali al-Mashnu’ah fi al-Ahadis al-Maudhu’ah mengatakan bahwa di samping sanad di atas, hadis tersebut memiliki tiga sanad lain.
Namun, ternyata tiga sanad yang dimaksud oleh al-Suyuti tersebut tidak mengubah kedudukan hadis yang diteliti ini, karena sanad yang disebutkan al-Suyuti semuanya lemah. Bahkan justeru memperkuat kepalsuannya, seperti yang dikutip Ali dari Muhammad Nashir al-Din al-Bani. Al-Bani mengatakan bahwa catatan al-Suyuti itu laisa bi syai’in (tidak ada artinya).
Sebagai kesimpulan terakhir, Ali mengatakan bahwa ungkapan “carilah ilmu meski di negeri Cina”, adalah hadis palsu, dan boleh jadi hanya semacam kata-kata mutiara, karena konon negeri Cina pada waktu itu sudah dikenal memiliki budaya yang tinggi, kemudian lambat laun ungkapan itu disebut-sebut sebagai hadis.
Hadis palsu “Bekerja Untuk Dunia Seakan Hidup Selamanya”
Hadis ini cukup populer di kalangan masyarakat. Hadis palsu tersebut adalah sebagai berikut:
اعمل لدنيا ك كا نك تعيش ابدا واعمل لأخرتك كانك تموت غدا
Menurut Ali dalam beberapa sumber, hadis tersebut ditemukan sanadnya, dan tidak sampai kepada Nabi saw, tetapi kepada seorang sahabat yang bernama ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash, seperti yang telah ia kutip dari al-Bani. Hadis yang hanya bersumber dari sahabat secara umum tidak bisa dikategorikan sebagai hadis, sebab yang disebut hadis adalah sesuatu yang bersumber dari Nabi saw, baik berupa ucapan, perbuatan, persetujuan maupun sifat-sifat beliau.
Ali mengatakan bahwa, setelah diketahui ungkapan tersebut bukan hadis Nabi saw, maka sebenarnya tidak perlu lagi diteliti apakah ia memiliki otentisitas sebagai hadis Nabi. Menurut Ali, hadis palsu ini tidak perlu dibahas terlalu jauh.
Hadis palsu “Wanita Tiang Negara”
Hadis yang dimaksud, bunyinya sebagai berikut:

المراة عماد البلا د اذا صلحت صلحت البلا د واذا فسدت فسدت البلا د
“wanita adalah tiang Negara, apabila wanita itu baik maka Negara akan baik, dan apabila wanita itu rusak, maka Negara akan rusak pula”

Ali telah mencoba membuka kitab-kitab hadis, khususnya kitab hadis masyhur, seperti al-Maqashid al-Hasanah karya al-Sakhawi (w. 906 H.), al­-Durar al-Muntatsirah karya al-Suyuti (w. 911 H.), al-Ghammaz ‘ala al-Lammaz karya al-Samhudi (w. 911 H.), Tamyiz al-Tayyib min al-Khabits karya Ibn Daiba’ (w. 944 H.), Asna al-Mathalib karya Muhammad Darwisy al-Hut (w. 1276 H.), Kasyf al-Khafa’ wa Muzil al-Ilbas karya al-‘Aljuni (w. 1162 H.) dan lain-lain. Ternyata ia tidak menemukan hadis tersebut. Demikian pula dalam kitab-kitab hadis yang lain, seperti al-Kutub al-Sittah.
Karenanya untuk sementara ia berkesimpulan bahwa ungkapan di atas, adalah hadis palsu. Ia tidak lebih dari sekedar kata-kata hikmah yang diucapkan oleh seorang tokoh atau ulama.
Hadis palsu “Tidurnya Orang Berpuasa Ibadah”
Menurut Ali Mustafa Yaqub, hadis yang disebut-sebut di atas layaknya merupakan hadis populer karena banyak orang mengetahuinya. Namun ternyata hadis tersebut tidak tercantum dalam kitab-kitab hadis populer.
Dalam sanad hadis tersebut terdapat nama-nama seperti Ma’ruf bin Hasan, seorang rawi yang lemah, dan Sulaiman bin Amr al-Nakha’i, seorang rawi yang lebih lemah dari Ma’ruf. Bahkan menurut al-Iraqi, Sulaiman adalah seorang pendusta. Demikian yang dikutip oleh Ali dari Muhammad Abd al-Ra’uf al-Minawi dalam kitabnya Faidh al-Qadir.
Menurut al-Suyuti, kualitas hadis ini adalah dha’if. Bagi orang yang kurang memahami tentang Ilmu Hadis, pernyataan al-Suyuti ini dapat menimbulkan salah paham, sebab menurut Ali, hadis dha’if itu secara umum masih dapat dipertimbangkan untuk pengamalannya. Sedangkan hadis maudhu, matruk dan munkar tidak dapat dijadikan dalil untuk beramal sama sekali, meskipun sekedar motivasi untuk berbuat kebajikan.
Hadis palsu “Siapa Menghendaki Dunia atau Akhirat ia Wajib Berilmu”
Hadis palsu tersebut, terjemahannya adalah:

Siapa yang menghendaki dunia, ia harus berilmu. Siapa yang menghendaki akhirat, ia juga harus berilmu. Dan siapa yang menghendaki dunia dan akhirat ia juga harus berilmu.

Ternyata Ali, tidak menemukan hadis tersebut dalam kitab-kiab hadis. Ungkapan seperti itu justeru ia temukan dalam kitab al-Majmu’ Syarah al-Muhaddzab karya Imam al-Nawawi (w. 676 H.) dalam juz awal halaman 12, dan ternyata ungkapan tersebut bukanlah hadis Nabi saw, melainkan ucapan Imam al-Syafi’I (w. 204 H.). Ungkapan tersebut selengkapnya adalah sebagai berikut:

قا ل رحمه الله طلب العلم افضل من صلاة النا فلة وقال: من اراد الد نيا فعليه بالعم ون اراد الآخرة فعليه بالعلم
Imam Syafi’ rahimahullah berkata”Mencari ilmu itu lebih utama daripada shalat sunnah. Ia juga berkata, siapa yang menghendaki dunia ia harus berilmu, dan siapa yang menghendaki akhirat ia harus berilmu”.

Hadis palsu “Cinta Tanah Air Sebagian dari Iman”
Hadis ini dinilai oleh sementara orang sebagai suatu yang dapat menumbuhkan semangat patriotism dan menyuburkan rasa kebangsaan. Karenanya ia sering disebut-sebut dalam upacara untuk menggugah semangat patriotism dan kebangsaan.
Ungkapan tersebut teksnya adalah sebagai berikut:
حب الوطن من الإيمان
Menurut penelusuran Ali, bahwa al-Suyuti mengomentari hadis tersebut dengan ungkapan lam aqif ‘alaih (saya tidak menemukannya). Begitu pula Imam al-Sakhawi juga mengatakan seperti itu, meskipun menurutnya substansi hadis itu, bukan hadis palsu, melainkan hadis shahih.
Namun pendapat al-Sakhawi ini langsung disanggah oleh Ali al-Qari, yang mengatakan bahwa makna dan substansi hadis itu sebagai hadis shahih, sangat aneh, sebab tidak ada kaitan antara cinta tanah air dengan iman. Dan bagaimanapun juga menurut Ali, sekiranya substansi ungkapan itu shahih, maka hal itu juga tidak akan merubah status ungkapan tersebut menjadi sebuah hadis shahih. Ia tetap saja menjadi hadis palsu apabila dinisbahkan kepada nabi saw. Karenanya ungkapan-ungkapan yang bersubstansi baik atau shahih, seyogyanya disebut saja sebagai kata-kata hikmah atau kata-kata mutiara, agar kita selamat dari ancaman neraka.
Hadis palsu “Orang Yang Mengenal Dirinya Ia Mengenal Tuhannya”
Adapun redaksi dari hadis palsu tersebut adalah sebagai berikut:
من عرف نفسه عرف ربه
Menurut Ali, sumber lain menuturkan bahwa ungkapan itu adalah ucapan Sa’id al-Kharraz. Karenanya, apabila ungkapan itu dinisbahkan kepada Nabi saw, maka ungkapan itu menjadi hadis palsu.
Namun, meskipun para ahli hadis telah menetapkan bahwa hadis tersebut palsu, tetapi sebagian kaum sufi tetap memandang bahwa hadis itu shahih. Ibn al-Ghars menuturkan, bahwa kitab-kitab tasawuf sangat sarat dengan hadis ini. Kaum sufi itu seperti Syekh Muhyi al-Din bin al-‘Araby dan lain-lain memposisikan ungkapan tersebut sebagai hadis. Bahkan ada yang menuturkan, bahwa Syekh Muhyi mengatakan bahwa, meskipun tidak shahih dari segi riwayat, namun bagi mereka hadis itu shahih berdasarkan metode kasyf.
Hadis palsu “Tidak Makan Kecuali Lapar”
Hadis yang dimaksud, teksnya sebagai berikut:
نحن قوم لا نكل حتي نجوع واذا اكلنا لا نشبع
Namun setelah Ali meneliti lagi, ternyata ia menemukannya dalam kitab al-Rahmah fi al-Tibb wa al-Hikmah, karya Imam al-Suyuti. Dan ternyata ungkapan tersebut bukanlah sebuah hadis, melainkan ucapan seorang dokter ahli dari Sudan.
Hadis palsu “Ramadhan Setahun Penuh”
Hadis yang dimaksud teksnya adalah sebagai berikut:

عن ابن عباس رضي الله عنهما انه قال: سمعت رسول الله صلي الله عليه وسلم يقول : لو تعلم امتي ما في رمضان لتمنوا ان تكون السنة كلها رمضان.
Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata:”Saya mendengar Rasulullah saw. Bersabda: “Seandainya umatku mengetahui pahala ibadah bulan Ramadhan, niscaya mereka menginginkan agar satu tahun penuh menjadi Ramadhan semua”.

Hadis dengan teks seperti ini kata Ali, terdapat antara lain dalam kitab Durrah al-Nashihin karya Utsman al-Khubbani. Sebuah kitab yang berisi petuah-petuah untuk beribadah, namun dituding oleh banyak orang, khususnya ahli hadis, sebagai kitab yang banyak berisi hadis palsu dan kisah-kisah imajinasi.
Menurut Ali, hadis yang dinukil oleh Utsman al-Khubbani itu merupakan penggalan dari hadis yang sangat panjang, yang diriwayatkan oleh antara lain Imam Ibnu Khuzaimah (w. 311 H.) dalam kitabnya Shahih Ibnu Khuzaimah, Imam Abu Ya’la, Imam al-Baihaqy dalam kitabnya Syu’ab al-Iman dan Imam Ibnu al-Najjar. Kemudian juga dinukil oleh Imam al-Mundziri (w. 656 H) dalam kitabnya al-Targhib wa al-Tarhib.
Teks aslinya seperti tertulis dalam kitab Shahih Ibn Khuzaimah adalah sebagai berikut:
عن ابن مسعود عن النبي صلي الله عيه وسلم- وهذا حديثث ابي الخطاب- قال: سمعت رسول الله صلي الله عليه وسلم ذات يوم وقد اهل رمضا ن فقال : لو يعلم العباد ما في رمضان لتمنت امتي ان تكون السنة كلها.فقا ل رجل من خزا عة يا نبي الله حدثنا فقا ل: ان الجنه لتزين لرمضان من راس الحول الي الحول فاذا كان اول يوم من رمضان هبت ريح من تحت العرش فصفقت ورق الجنة فتنظر الحور العين الي ذالك فقلن يا رب اجعل لنا من عبادك في هاذا الشهر ازواجا تقر اعيننا وتقر اعينهم بنا قال: فما من عبد يصوم يوما من رمضان الا زوج زوجة من الحور العين في خيمة من درة مما نعة الله (حور مقصورات في الخيام) علي كل امراة سبعون حلة ليس منها حلة علي لون الاخري تعطي سبعين لونا من الطيب ليس منه لون علي ريح الاخري. لكل امراة منهن سبعون الف وصيفة لحا جتها وسبعون الف وصيف مع كل وصيف مع كل وصيف صفة من ذهب فيها لون طعام تجد لاخري لقمة منها لذة لا تجد لاوله. لكل امرة منهن سبعون سرير سبعون فراشا بطاءنها من استبرق فوق كل فراش سبعون اريكة ويعطي زوجها مثل ذالك علي سرير من ياقوت احمر موشع بالدر عليه سواران من ذهب هذا بكل يوم صامه من رمضان سوي ما عمل من الحسنات.
Setelah diadakan penelitian, ternyata hadis di atas dinyatakan positif hadis palsu. Kepalsuan itu menurut Ali, bukan lantaran adanya kejanggalan makna, karena hal itu hanyalah salah satu tanda saja, melainkan karena adanya rawi yang bernama Jarir bin Ayyub al-Bajali dalam setiap sanadnya, dimana Jarir bin Ayyub ini diklaim oleh para kritikus hadis sebagai pemalsu hadis. Karenanya hadis-hadis yang ia riwayatkan disebut hadis palsu, atau minimal matruk dan munkar.
Referensi Makalah®
Kepustakaan:
Ali Mustafa Yaqub, Hadis-hadis Bermasalah (Cet. VI; Jakarta: P.T. Pustaka Firdaus,2008). M. Syuhudi Ismail, Kaedah Kesahihan Sanad, Telaah Kritis dan Tinjauan dengan Pendekatan Ilmu Sejarah, (Cet. I; Jakarta: P.T. Bulan Bintang, 1988). Ali Mustafa Yaqub, Kritik Hadis, (Cet. I; Jakarta: P.T. Pustaka Firdaus, 1995). Muhammad Najib, Pergolakan Politik Umat Islam dalam Kemunculan Hadis Maudhu, (Cet. I; Bandung: C.V. Pustaka Setia, 2001). Ahmad Umar Hasyim, Qawa’idu Ushul al-Hadits, (Dar al-Fikr, t.t., t. th.,). Iman al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, (Madinah: t.th). Utsman al-Khubbani, Durrah al-Nashihin, (Maktabah Dar al-Ihya al-Kutub al-‘Arabiyah, 1986). Mahmud al-Tahhan, Taisir Musthalah al-Hadis, (Beirut: Dar al-Qur’an al-Karim, 1979).