Arsip | Ekonomi Syariah RSS for this section

Solusi Dari Balik Gunung…


Oleh: Muhaimin Iqbal

KARENA dari kecil kita diajari ‘ayo menabung…’, maka dana yang sangat besar dari mayoritas umat ini terbesarnya adalah tersimpan di tabungan-tabungan dari berbagai bank. Tetapi apakah menabung ini memang langkah terbaik untuk meraih keberuntungan bagi masyarakat? Bukankan hasil tabungan rata-rata lebih rendah dari inflasi? Siapa pula yang menjamin bahwa uang Anda di tabungan tidak malah tersalurkan ke konglomerasi yang dengan jaringan retail-nya mengambil pasar rakyat kecil? Yang dengan bisnis property-nya menggusur tanah rakyat? Yang dengan mal-mal megahnya membuat hanya yang kaya yang bisa berdagang?

Dua kelemahan mendasar dari sistem tabungan ini yang seharusnya disadari oleh umat ini, kemudian dicari solusinya. Kelemahan pertama adalah rendahnya hasil, yaitu lebih rendah dari rata-rata inflasi terutama inflasi kebutuhan pokok seperti makanan.

Kedua para penabung benar-benar tidak tahu siapa yang akhirnya akan menggunakan uang tabungan mereka ini. Bank-lah yang memutuskan kemana uang tabungan tersebut akan mengalir, dan tidak ada jaminan bahwa uang tabungan tersebut tidak mengalir ke kelompok pengusaha hitam seperti tersebut di atas.

Lantas apakah ada solusinya? Tergantung seberapa kuat niat kita untuk mencari solusi tersebut. Meskipun solusi itu ada di depan mata bila kita tidak berniat menggunakannya ya tidak menjadi solusi. Sebaliknya solusi yang masih berada ‘di balik gunung’ sekalipun – kita akan bersedia menaiki gunung menuruni lembah untuk memperolehnya bila kita bener-bener menginginkannya.

Untuk mudahnya dipahami, saya akan berikan dua contoh solusi tersebut yaitu yang sudah di depan mata dan yang masih ‘dibalik gunung’.

Yang di depan mata adalah saudara-saudara atau teman-teman Anda yang punya potensi berdagang atau berusaha, tetapi hanya karena tidak ada modal mereka tidak dapat berusaha. Bila Anda memiliki uang yang lebih, mengapa tidak dipakai untuk memodali mereka? Pertama menambah silaturahim dan kedua juga insyaallah akan dapat memberikan hasil yang lebih baik dari tabungan Anda di bank.

Ok, Anda tidak mau memodali saudara atau teman ini karena ada rasa rikuh menagihnya, takut tidak amanah, takut tidak professional dlsb.dlsb, jadi solusi di depan mata ini tidak Anda gunakan. Maka kita cari solusi yang masih berada ‘di balik gunung’.

Surat yang terpanjang dalam Al-Qur’an adalah surat yang mengamanatkan pentingnya pencatatan dalam hutang-piutang/muamalah yang tidak tunai (QS 2 : 282), dan saya akan menggunakan ayat ini sebagai solusi atas permasalahan tabungan tersebut di atas.

Banyak sekali dari umat ini yang sebenarnya pandai berdagang, pandai berusaha dlsb. Keterbatasan akses modal, akses informasi, akses jaringan dlsb. yang membuatnya banyak yang tidak berkembang. Nah bagaimana kalau profile para pedagang/pengusaha tersebut tersaji dengan baik dan available untuk Anda, maukah Anda membiayai atau berinvestasi pada usaha/perdagangan mereka? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Mungkin iya-nya karena Anda akan melihat potensi bagi hasilnya yang melebihi hasil tabungan Anda, mungkin tidak-nya karena Anda kawatir atas amanah tidaknya, professional tidaknya, kejujuran pembukuannya dlsb.dlsb.

Bagaimana kalau faktor negatif yang membuat Anda ‘mungkin tidak’ mau berinvestasi ke para pedagang dan pengusaha tersebut bisa kita atasi bareng? Maukah Anda berinvestasi kepada mereka? Seharusnya mau karena tidak ada lagi alasan yang menghalanginya.

Bagaimana mengatasi faktor negatif tersebut? Kita gunakan bank (syariah) untuk bertugas sebagai pencatat jaman ini yang diamanatkan dalam ayat tersebut diatas. Mengapa bank?

Pertama karena mereka yang sudah memiliki sistem pencatatan yang baik untuk transaksi keuangan ini, kedua, merekalah yang secara legal formal diijinkan untuk mengumpulkan uang masyarakat di negeri ini, ketiga karena toh selama ini Anda juga sudah mempercayai bank untuk menyimpan dan mencatat uang Anda.

Bedanya dengan tabungan adalah kali ini Anda yang menentukan siapa-siapa yang boleh menggunakan uang Anda – dan Anda berinvestasi langsung pada mereka, bank sekedar mencatatnya.

Sebagai tukang catat atau juru tulis, dimanatkan pula dalam ayat tersebut bank harus ‘…menuliskannya dengan benar…’. Jadi meskipun hanya sekedar ‘tukang catat atau juru tulis’, bank wajib mengetahui seluk-beluk usaha yang Anda danai, kredibilitas orangnya, kelayakan usahanya, kewajaran hasilnya dlsb-dlsb.

Bila bank tidak yakin mengenai hal ini, tentu mereka tidak mau menuliskannya – inilah yang akan ikut menjadi faktor pengaman investasi langsung Anda.

Jadi kalau solusi ini digunakan, nantinya di bank-bank syariah ada semacam daftar pengusaha Muslim yang layak untuk Anda danai, lengkap dengan profile usaha masing-masing. Ketika Anda menaruh uang Anda di bank syariah tersebut, Anda tinggal pilih untuk siapa dana Anda boleh digunakan. Untuk mengurangi resiko, dana Anda bisa saja disebarkan ke sejumlah pengusaha yang Anda pilih sendiri dari daftar yang ada.

Lantas apa bedanya ini dengan investasi di pasar modal, bursa saham, reksa dana dan sejenisnya? Penentu nilai di bursa saham dan turunannya yang masih penuh gharar, tidak ada hujan – tidak ada angin bisa tiba-tiba nilai investasi Anda melorot gara-gara pemodal besar asing menarik dananya seperti yang terjadi hari-hari ini.

Anda tidak bisa investasi di bursa saham hanya karena melihat profile usaha tertentu bagus, terlalu banyak unknown factors yang bisa mendongkrak harganya atau juga sebaliknya menghancurkannya.

Sebaliknya solusi yang saya tawarkan insyaallah akan baik untuk semua. Anda memiliki kontrol langsung terhadap penggunaan uang Anda ke usaha-usaha yang Anda pilih, bank-bank syariah memiliki sumber dana yang tidak dimiliki pesaingnya bank konvensional, para pengusaha muslim yang amanah dan professional (qowiyyun amin) akan mudah untuk memperoleh pendanaannya.

Bahkan secara makro bila investasi semacam ini boleh dilakukan oleh para investor asing, maka dana investasi yang sesungguhnya (karena masuk sektor riil) akan dapat mengalir ke negeri ini. Sangat beda dengan invesatsi asing yang bersifat ‘hot money’ yang bila ditarik keluar tiba-tiba meruntuhkan pasar modal kita.

Tertarik? Apakah solusi ini sudah ada? Solusi ini memang sudah ada, tetapi masih berada di balik gunung – masih banyak kendalanya. Kita masih perlu menaiki gunung menuruni lembah untuk mengatasinya.

Bank-bank syariah sudah familiar dengan konsep ini dengan produk mereka yang disebut Mudharrabah Muqayyadah, mereka hanya perlu dipacu dan didorong untuk lebih proaktif dan lebih innovative dalam produk yang bagus ini. Para (calon) pengusaha muslim perlu didorong untuk lebih professional dan transparan dalam usahanya. Dan Anda para pemilik uang ‘tabungan’ perlu didorong untuk lebih berfihak terhadap solusi yang insyaallah lebih dekat ke syariah ini.

Bila Anda adalah para pengambil keputusan di bank syariah, bila Anda adalah para (calon) pengusaha Muslim dan bila Anda adalah bagian dari umat ini yang memiliki dana tabungan, insyaallah saya bersedia menaiki gunung menuruni lembah bersama Anda untuk merealisasikan solusi yang satu ini secara bersama-sama. Ada konsep detail di kami yang siap dipresentasikan ke pihak-pihak yang serius ingin mencari solusi sekaligus menangkap peluang yang sangat besar ini – khususnya bagi perbankan syariah. InsyaAllah!

Penulis Direktur Gerai Dinar, kolumnis hidayatullah.com

Apa Hukum Kredit Segitiga?


Assalamu alaikum wa rahmatullah wa barakaatuh,

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum

Ustadz, ada seorang kawan yang ditawari bekerja di sebuah optik, selain menjual secara cash. Pihak optik juga memberikan fasilitas kredit melalui bank tertentu dengan terlebih dahulu menyerahkan uang muka kepada pihak optik.
Apakah transaksi semacam ini dibolehkan? Bolehkah teman saya bekerja di optik tersebut?

Jazzakumullahu khair

Dari: Jumardi

Jawaban:

Wa’alaikumussalam

Ini termasuk transaksi kredit segitiga. Penjelasan selengkapnya bisa Anda dapatkan pada keterangan berikut:

Di masa silam hanya dikenal kredit dua pihak, penjual, dan pembeli. Sistem transaksi ini telah mengalami perubahan, dimana kredit di masa sekarang umumnya melibatkan tiga pihak; pembeli, penjual, dan lembaga pembiayaan. Kredit model seperti ini, kita istilahkan dengan kredit segi tiga.

Hukum Kredit Langsung

Kredit yang dilakukan secara langsung antara pemilik barang dengan pembeli merupakan transaksi perniagaan yang dihalalkan dalam syariat. Bahkan meskipun harga beli kredit lebih tinggi dibandingkan harga harga beli tunai. Inilah pendapat yang paling kuat, yang dipilih oleh mayoritas ulama. Kesimpulan hukum ini berdasarkan beberapa dalil berikut:

Pertama, firman Allah,

“>يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا تَدَايَنتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al-Baqarah: 282)

Akad kredit termasuk salah satu bentuk jual beli utang. Dengan demikian, keumuman ayat ini menjadi dasar bolehnya akad kredit.

Kedua, hadis dari Aisyah radhialahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membeli sebagian bahan makanan dari seorang Yahudi dengan pembayaran diutang, dan beliau menggadaikan perisai beliau kepadanya. (Muttafaqun ‘alaih)

Ketiga, hadis Abdullah bin Amr bin Ash radhiallahu ‘anhu,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku untuk mempersiapkan pasukan, sedangkan kita tidak memiliki tunggangan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan Abdullah bin Amr bin ‘Ash untuk membeli tunggangan dengan pembayaran tertunda, hingga datang saatnya penarikan zakat. Kemudian Abdullah bin Amer bin Ash membeli setiap ekor onta dengan harga dua ekor onta yang akan dibayarkan ketika telah tiba saatnya penarikan zakat.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan dihasankan oleh Al-Albani).

Kisah ini menunjukkan, boleh menaikkan harga barang yang dibayar secara kredit, bahkan meskipun dua kali lipat dari harga normal.

Adapun hadis yang menyatakan, “Barangsiapa yang melakukan jual beli dua kali dalam satu transaksi maka dia hanya boleh mengambil harga yang paling rendah, kalau tidak, maka dia terjatuh ke dalam riba.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan dishahihkan Al-Albani)

Hadis ini shahih, namun tafsir yang tepat adalah sebagaimana yang dijelaskan Ibnul Qayyim dan lainnya, bahwa hadis ini merupakan larangan jual beli dengan cara ‘inah.

Jual beli ‘Inah adalah si A menjual HP kepada si B seharga Rp 1,2 juta kredit. Kemudian si B menjual kembali HP itu kepada A seharga 1 juta tunai. Kemudian si A menyerahkan uang 1 juta kepada si B dan membawa HP tersebut. Sementara si B wajib membayar cicilan utang 1,2 juta kepada si A.

Hukum Kredit Segitiga

Agar lebih mudah memahami hukum kredit model ini, mari kita simak ilustrasi berikut:

Dalam sebuah showroom dealer sepeda motor, dipajang sebuah motor dengan harga 10 juta tunai dan 17 juta kredit. Datang pak Ahmad hendak membeli motor dengan pembayaran dicicil (kredit). Setelah deal transaksi, beliau akan diminta mengisi formulir plus tanda tangan, dan biasanya dengan menyertakan barang jaminan, serta uang muka.

Setelah akad jual-beli ini selesai dan pembeli-pun membawa pulang motor yang dibeli, selanjutnya beliau berkewajiban menyetorkan uang cicilan motor ke bank atau lembaga pembiayaan, dan bukan ke dealer tempat ia mengadakan transkasi dan menerima motor yang dibeli.

Keberadaan dan peranan pihak ketiga ini menimbulkan pertanyaan besar, mengapa Pak Ahmad harus membayarkan cicilannya ke bank atau lembaga pembiayaan, bukan ke dealer tempat ia bertransaksi dan menerima motornya?

Jawabannya sederhana, karena Bank atau lembaga pembiayaan telah mengadakan kesepakatan bisnis dengan pihak dealer, yang intinya, bila ada pembeli dengan cara kredit, maka pihak bank berkewajiban melunasi harga motor tersebut, konsekwensinya pembeli secara otomatis menjadi nasabah bank, sehingga bank berhak menerima cicilannya. Praktik semacam ini dalam ilmu fiqih disebut dengan hawalah, yaitu memindahkan piutang kepada pihak ketiga dengan ketentuan tertentu.

Pada dasarnya, akad hawalah dibenarkan dalam syariat. Akan tetatpi permasalahannya menjadi lain, tatkala hawalah digabungkan dengan akad jual-beli dalam satu transaksi. Bila kita mencermati kredit segitiga yang dicontohkan di atas, dapat dipahami dari dua sudut pandang:

Pertama, Bank mengutangi pembeli motor tersebut Rp 10 juta, dalam bentuk Bank langsung membayarkannya ke dealer. Kemudian pak Ahmad dituntut untuk melunasi cicilan piutang Rp 17 juta tersebut ke bank.

Bila demikian yang terjadi, maka transaksi ini jelas-jelas riba nasi’ah (riba jahiliyyah). Tujuh juta yang menjadi tambahan adalah riba yang diserahkan ke bank. Hukum transaksi ini terlarang, sebagaimana ancaman dalam hadis dari sahabat Jabir radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknat pemakan riba (rentenir), orang yang memberikan/membayar riba (nasabah), penulisnya (sekretarisnya), dan juga dua orang saksinya. Beliau juga bersabda: “Mereka semua dosanya sama.” (HR. Muslim)

Kedua, Bank membeli motor tersebut dari dealer dan menjualnya kembali kepada pak Ahmad. Hanya saja bank sama sekali tidak menerima motor tersebut. Bank hanya mentransfer sejumlah uang seharga motor tunai, kemudian pembeli membayar cicilan ke bank. Bila realita bank membeli motor ini benar, maka Bank telah menjual motor yang dia beli sebelum menerima motor tersebut. Sehingga Bank atau lembaga pembiayaan telah menjual barang yang belum sepenuhnya menjadi miliknya. Sebagai salah satu buktinya, surat-menyurat motor tersebut semuanya langsung dituliskan atas nama pembeli, dan bukan atas nama bank yang kemudian dibalik nama ke pembeli.

Kesimpulannya
Hakikat perkreditan segitiga ini adalah salah satu bentuk rekasaya riba yang jelas-jelas diharamkan dalam syariat. Larangan menjual barang sebelum menerima dari pembeli pertama, ditunjukkan dalam hadis dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membeli bahan makanan, maka janganlah ia menjualnya kembali hingga ia selesai menerimanya.” Ibnu ‘Abbas berkata, “Dan saya berpendapat bahwa segala sesuatu hukumnya seperti bahan makanan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Pendapat Ibnu ‘Abbas ini selaras dengan pendapat Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhu sebagaimana ditunjukkan dalam hadis berikut,

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu, ia mengisahkan: “Suatu ketika, saya membeli minyak di pasar. Setelah saya membelinya, ada seorang lelaki yang menemuiku dan menawar minyak tersebut. Kemudian ia memberiku keuntungan yang cukup banyak, maka aku pun menerimanya. Tatkala aku hendak menyalami tangannya, tiba-tiba ada seseorang di belakangku yang memegang lenganku. Maka aku pun menoleh, dan ternyata ia adalah Zaid bin Tsabit. Kemudian ia berkata, ‘Janganlah engkau jual minyak itu di tempat engkau membelinya, hingga engkau pindahkan ke tempatmu. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang menjual kembali barang (yang dia beli), di tempat barang tersebut dibeli, hingga barang tersebut dipindahkan ke tempat mereka masing-masing.” (HR. Abu Dawud dan Hakim)

Para ulama menyebutkan beberapa hikmah dari larangan ini, di antaranya, ketika bank membeli barang dari dealer dengan harga 10 juta, sementara dia tidak menerima barang sama sekali, kemudian dia jual ke pembeli seharga 17 juta maka hakikat transaksi ini adalah menukar rupiah 10 juta dengan 17 juta. Alasan ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu ketika muridnya yang bernama Thawus mempertanyakan sebab larangan dalam hadis Ibnu Abbas di atas.

Thawus mengatakan, “Saya bertanya kepada Ibnu ‘Abbas, ‘Bagaimana kok demikian?’ Beliau menjawab, ‘Itu karena sebenarnya yang terjadi adalah menjual dirham dengan dirham, sedangkan bahan makanannya ditunda’.” (Muttafaq ‘alaihi)

Ibnu Hajar menjelaskan perkatan Ibnu ‘Abbas di atas dengan berkata, “Bila si A membeli bahan makanan seharga 100 dinar –misalnya- dan ia telah membayarkan uang tersebut kepada penjual (si B), sedangkan ia belum menerima bahan makanan yang ia beli, kemudian ia menjualnya kembali kepada si C seharga 120 dinar dan ia langsung menerima uang pembayaran tersebut dari C, padahal bahan makanan yang ia jual masih tetap berada di si B, maka seakan-akan si A telah menjual/menukar (mengutangkan) uang 100 dinar dengan pembayaran/harga 120 dinar. Sebagai konsekwensi penafsiran ini, maka larangan ini tidak hanya berlaku pada bahan makanan saja, (akan tetapi berlaku juga pada komoditi perniagaan lainnya pen.).” (Fathul Bari, oleh Ibnu Hajar Al-Asqalany 4:348-349)

Berdasarkan penjelasan ini, dapat kita simpulkan bahwa pembelian rumah atau kendaraan, dengan kredit segi tiga baik melalui lembaga leasing atau lembaga keuangan, yang biasa dipraktikkan masyarakat, hukumnya terlarang karena merupakan salah satu bentuk perniagaan riba.

Untuk mempermudah memahaminya, silahkan lihat ilustrasi gambar di bawah ini:

1. Kredit segitiga halal

Kredit Segitiga yang Halal

2. Kredit segitiga haram
Kredit Segitiga yang Haram

Keterangan di atas merupakan sinopsis dari artikel yang ditulis oleh Dr. Muhammad Arifin Baderi di Majalah Pengusaha Muslim edisi 26. Pada edisi 26 ini, majalah pengusaha muslim secara khusus memaparkan konsep dan aturan main untuk sebuah lembaga keuangan yang murni syariah. Edisi 26 hakikatnya adalah melengkapi dua edisi sebelumnya yang mengupas studi kritis praktik riba di bank syariah.

* Abu Bakar Rieger: Bank Islam Bisa Jadi Sama Dengan Wiski Islam!


Abu Bakr Rieger adalah seorang pengacara dan pendiri jaringan “Pengacara Muslim.” Ia juga , presiden Emu Foundation, sebuah organisasi yang menginformasikan dan mempromosikan Islam di Eropa. Ia tinggal di Jerman. Berikut adalah petikan wawancaranya dengan globalmagazine.
Mr Rieger, apa pendapat Anda tentang krisis keuangan yang parah dan sedang kita alami sekarang ini?
Saya harus katakan bahwa krisis ekonomi ini, untuk diri saya sendiri sebagai seorang Muslim, tidak mengejutkan barang sedikit pun! Ini bukan kesalahan dari beberapa orang manajer yang serakah, melainkan adalah krisis sistemik. Model ekonomi hari ini didasarkan pada reproduksi uang, yang berarti kita memproduksi segunung uang yang tidak lagi memiliki fungsi apa pun, dan pada saat yang sama kita membuat utang yang sistematis, baik secara nasional dan global. Siapa pun bahkan dengan hanya sedikit pengetahuan saja, akan menyadari bahwa sistem “contra naturum” ini sudah tidak dapat berfungsi lagi. (Contra naturum berarti melawan sistem alam, RED.)

Apa artinya bagi situasi politik?

Apakah politik masih memiliki kekuasaan untuk membatasi keuangan tak terbatas dan kekuatan untuk melaksanakan reformasi? Dapatkah parlemen nasional mengendalikan kekuatan modal global? Ada banyak hal yang membuat kita ragu. Melihat kejadian-kejadian di induk semua bursa saham dunia, Wall Street, seseorang harus bertanya pada diri sendiri; sebenarnya siapa yang mengatur bank rakyat, atau orang-orang bank?

Sejauh mana perbankan modern bermasalah secara moral?

Ini adalah masalah moral yang telah menggerogoti standar kita. Masyarakat Eropa telah disusupi oleh “ekonomi yang kasar,” sebagaimana penulis Italia, Napoleoni menyebutnya, yaitu struktur yang mafioso, dari prostitusi, obat-obatan, sampai kasino telah terhubungan ke internet. Kemiskinan global dan jutaan orang mati terlilit utang saat ini. Tapi di sisi lain, penilaian moral tidak cukup untuk memahami fenomena tersebut sepenuhnya. Dalam istilah filsafat yang kita alami, di zaman kita sekarang ini, penggabungan teknik dan modal diciptakan untuk memperkuat teknologi keuangan. Tujuan manusia dalam hidup disetir hanya untuk kerja, bukannya untuk beribadah kepada Allah swt. Fakta bahwa modal sekarang ini tanpa batas bisa membuat planet ini menuju bencana ekologis.

Lantas, bagaimana peran Islam dalam hal ini?

Pertama, kita harus ingat bahwa ada begitu banyak referensi ekonomi dan perdagangan dalam Al Qur’an, dalam syariat Islam, dan dalam cara hidup Nabi. Nabi Muhammad mendirikan sebuah masjid dan sebuah pasar di Madinah, sehingga meletakkan cetak biru untuk hal-hal spiritual dan material. Pedagang, pengusaha dan kepentingan mereka selalu sangat penting bagi umat Islam. Kebebasan pasar dan kebebasan rute perdagangan, dan penghapusan pajak tidak sah, selalu menjadi agenda ekonomi Islam. Islam tentu saja mengizinkan kepemilikan properti, tapi setelah kewajiban zakat terpenuhi dan Islam menolak reproduksi yang tak punya modal. Islam adalah jalan-tengah antara monolitik, ajaran murni materialistik komunisme dan kapitalisme.

Jadi apa yang membuat Islam penting untuk ekonomi kita sekarang?

Saya pikir setelah kegilaan terorisme dan sinisme mengerikan dan serangan bunuh diri, yang tentu saja merupakan kemunduran besar bagi kami sebagai umat Muslim, Eropa kini sibuk menemukan dimensi yang berbeda dan jauh lebih menarik, yaitu Islam yang benar. “Allah telah membolehkan perdagangan dan mengharamkan riba.” Ini adalah wahyu Alquran yang pada dasarnya menjelaskan seluruh sikap praktis dan rasional kita terhadap krisis keuangan. Apakah Anda lihat bagaimana sistem sekarang ini terbalik-balik? Di sisi lain, bunga diperbolehkan, sementara perdagangan telah membusuk menjadi distribusi yang dimonopoli. Eropa bangga akan Rennaissance-nya, tapi sekarang kita harus bertanya: “Itu semua baik dan bagus, tapi mengapa tidak ada perbaikan di bidang ekonomi?”

Saat ini, terutama di Eropa Barat, bank-bank telah runtuh. Mengapa?

Ada semacam ketergantungan sistematis yang luas pada bank bahwa tekanan politik bisa menyelamatkan bank. Hanya dengan sistem bank dan bank sentral tingkat yang lebih tinggi akan memungkinkan untuk selalu menciptakan lebih banyak dan lebih banyak uang baru lagi. Masyarakat sekarang ini terkejut melihat betapa sedikitnya modal yang nyata dari bank-bank itu sendiri. Setiap bank tunggal meminjamkan beberapa ratus kali lebih banyak uang daripada apa yang dimilikinya. Ini adalah proses dasar dalam ilmu ekonomi Barat yang membuat kemakmuran utang berbasis massa dan mendorong perluasan global Barat. Itu seperti sebuah skema piramida.

Bagaimana Anda melihat peran Bank Islam?

Kami masih ragu apakah sebuah bank benar-benar bisa menjadi “Islami” atau tidak, itu mungkin akan sama dengan gagasan “bir Islam.” Faktanya adalah bahwa semua bank merupakan bagian dari sistem uang kertas, suka ataupun tidak. Secara konkret, bank-bank Islam yang terkenal, dikritik karena beberapa teknik pembiayaan mereka untuk menghindari riba sangat meragukan. Itu merupakan tema yang berdiri sendiri. Hal ini juga sangat penting tidak hanya untuk mengurangi ekonomi Islam terhadap masalah bank-bank Islam. Kaum muslimin memiliki lebih banyak cara, kami memiliki model pembiayaan kami sendiri seperti kontrak Qirad, dan kami memiliki filosofi sendiri tentang kebebasan pasar dan keaslian uang kami.

Dan arti uang dalam Islam?

Dunia Barat praktis memaksa kita untuk menggunakan mata uang tertentu. Imam Malik, di sisi lain, menyatakan bahwa uang adalah setiap hal yang diakui oleh publik sebagai alat pembayaran. Ini berarti bahwa Islam memberikan kebebasan dan pilihan dalam cara pembayaran. Ketika membayar zakat saja ada batasan penting: zakat tidak dapat dibayarkan dengan janji pembayaran (dayn), seperti uang kertas misalnya. Itu sebabnya, selama beberapa dekade sekarang, pemikir Muslim terkemuka seperti mantan Perdana Menteri Malaysia, Dr Mahathir telah menuntut pengenalan mata uang Islam. Selama krisis keuangan Asia pada 1990-an, Mahathir menyadari bahwa dolar adalah alat yang sebenarnya dari invasi AS. Mahathir menjadi musuh model mata uang spekulatif dan berakibat fatal bagi mereka, dan ia juga menjadi politisi pertama di dunia yang memberi peringatan tentang kolapsnya sistem mata uang dunia. Jika dapat diterima untuk pembayaran zakat dan untuk transaksi perdagangan, mata uang Islam harus 100% emas. Dinar Islam ini sekarang digunakan di Malaysia bersamaan dengan mata uang nasional oleh semua kelompok etnis dan agama di negara ini.

Bagaimana Anda melihat situasi Bosnia dan Balkan dalam krisis ini?

Beberapa tahun yang lalu ketika saya bertemu dengan almarhum Presiden Bosnia, Izetbegovic, saya bertanya kepadanya apa yang telah memotivasinya untuk memasuki dunia politik. Ia menjawab bahwa ia tidak pernah benar-benar ingin sebenarnya. Sebaliknya ia telah terpesona oleh jawaban ekonomi Islam akan komunisme, dan itulah yang memotivasi dirinya. Hari ini, pertanyaannya; apakah Islam juga memiliki jawaban untuk kapitalisme? Setelah beberapa tahun terakhir ekonomi mafiosi di Eropa, orang-orang tidak lagi mencari ideologi baru, tetapi mereka mencari ukuran dan arti bagi kehidupan mereka. Tapi sekali lagi mungkin kita semua mencari definisi baru tentang kekayaan dan kemiskinan. Saya percaya bahwa pentingnya praktik kehidupan dan tradisi Islam akan sekali lagi terjadi di masa depan, terutama dari segi ekonomi. (sa/globalmagazine)

Jihad Melawan Kapitalisme


Banyak orang enggan memikirkan sistem kehidupan yang melingkupi dirinya. Kesibukan mengejar kesejahteraan hidup telah membuat kita tidak peduli menggugat sistem ekonomi kapitalisme yang terus menjerat kita kepada perbudakan. Tapi tidak dengan Umar Ibrahim Vadillo. Muslim asal Spanyol ini gigih memperjuangkan ide antikapitalisme yang telah membuat umat Islam terpuruk.

“Kapitalisme dan para pelakunya adalah anti-Islam. Makin lama menerapkan sistem kapitalisme dalam kehidupan, kita akan makin menjauh meninggalkan Islam,” paparnya kepada Ahmad Taufiq Abdurrahman dan Fathurroji dari Majalah Gontor beberapa waktu lalu di sela-sela kunjungannya ke Indonesia. Berikut petikan wawancara dengan penulis buku The End of Economic itu:

Anda seorang insinyur, mengapa tertarik menekuni ekonomi Islam?
Ilmu ekonomi adalah ilmu yang paling simpel. Dalam ilmu ekonomi tidak ada hal yang sifatnya ilmiah. Walau ada beberapa bagian yang menuntut kajian ilmiah, tapi itupun hanya kepura-puraan untuk dianggap ilmiah. Seperti andai saya menggali ilmu logika, ilmu ekonomi hanya menjadi bagian paling dasar. Bahkan, ilmu ekonomi dapat dinggap sebagai ilmu yang tidak berlogika, tidak rasional, cenderung salah, atau dalam aspek lain menjadi ortodoks layaknya sebuah agama, seperti saat mereka menggunakan dokumen. Dan ini sangat bertentangan dengan metodologi ilmiah.

Ilmu ekonomi Islam banyak disalahtafsirkan, seperti layaknya menafsirkan komunisme Islam. Kita tidak dapat meletakkan Islam berpaduan dengan ideologi lain untuk diyakini. Yang harus kita lakukan adalah mencari model yang tepat untuk isu ini. Kita harus bisa mencari tahu tentang pemikiran Islam sesungguhnya, baru kemudian kita coba ciptakan model perdagangan dan ekonomi yang dikehendaki Islam. Inilah yang saya lakukan. Saya tidak ingin generasi mendatang mempraktikkan islamisasi kapitalisme, seperti islamisasi perbankan, asuransi, kartu kredit, atau bursa saham untuk menjadi Islam.

Apakah ide ini menghendaki perubahan seluruh sistem yang sudah mapan saat ini?
Ide ini seperti layaknya islamisasi yang telah banyak dilakukan oleh beberapa kalangan kaum modernis, seperti Ikhwanul Muslimin atau Jamaah Islamiah yang saya anggap modernis dalam hal ini. Islamisasi yang dilakukan para praktisi perbankan bukanlah berarti ingin mereformasi kapitalisme dan mendekatkannya kepada Islam. Islamisasi yang mereka maksud adalah justru ingin mereformasi Islam agar dapat didekatkan kepada kapitalisme. Karena baik secara lembaga maupun sistem, dunia perbankan tetaplah kapitalistik. Mereka tidak pernah berusaha menciptakan model ekonomi Islam. Bahkan, menurut mereka, ekonomi Islam itu sebenarnya tidak pernah ada.

Isu tentang dinar, dirham, syirkah tidak pernah didengar oleh generasi kita karena para praktisi perbankan hanya berusaha mengislamkan perbankan, maupun mengislamkan asuransi hanya untuk mencegah ancaman inflasi. Ironisnya, para ulama besar dan tokoh Muslim malah menarik umat Islam ke dalam jerat kapitalisme, seperti Yusuf Qaradhawi, Hasan Al Banna, atau beberapa ulama yang dianggap sebagai modernis sekalipun. Mereka menganggap diri sebagai reformis dan petinggi perubahan dalam Islam, dan apa yang kami lakukan dianggap sebagai gerakan mundur bagi Islam. Tapi sesungguhnya yang mereka lakukan adalah membuat kehancuran Islam hingga akarnya.

Padahal yang seharusnya diterapkan adalah muamalat. Karena muamalat merupakan perilaku ekonomi Islam sesungguhnya dan sudah menjadi patron dalam berbagai aspek ekonomi Islam. Baik dalam jual beli, wakaf, zakat, dan berbagai aspek kehidupan lainnya.

Hal yang saya lakukan, malah justru dianggap tradisional, dan benar-benar terhancurkan. Seperti di sini (Jakarta), Anda memiliki supermarket, semua orang dapat begitu mudah menerima kehadiran Carrefour, dan berlapang menerima dolar serta menolak dinar maupun dirham. Semua hal-hal dasar dalam eonomi Islam kini benar-benar telah terlupakan. Bukankah yang diterapkan semua ini adalah kapitalisme, dan para kapitalis adalah kaum kafir? Tapi, merekalah yang mengelola ini semua.

Kalau begitu kita sulit mengubahnya?
Bagaimana dapat dianggap sulit? Memulainya adalah dengan mengembalikan semuanya kepada penggunaan dinar. Saya ingat cerita tentang Jalaluddin Ar-Rumi yang pernah didatangi seseorang dan mengatakan bahwa segala yang halal adalah tidak mungkin (sulit) didapat. Rumi memperhatikan lelaki itu yang dirasanya seperti seorang hipokrit. Rumi lantas menjawab: “Bagaimana mungkin Allah menciptakan sesuatu yang halal lalu tidak mungkin engkau wujudkan?” Jadi, Allah telah menciptakan sesuatu yang halal untuk menjadi sesuatu yang mudah diwujudkan dan dicapai.

Saya rasa lelaki itu tidak mengerti akan makna sesuatu yang halal. Lihatlah ini [Vadillo memperlihatkan uang rupiah logam dan kertas], sebenarnya ini hanyalah ilusi. Begitu banyak orang berlomba meraih kertas dan ilusi ini. Mereka seperti terhipnotis untuk meraih secarik kertas yang tidak berguna ini. Kita seperti bertindak untuk menggapai sesuatu yang tidak ada (nyata). Bahkan, kita rela mengorbankan hidup, kehormatan dan tujuan hidup kita hanya untuk lembaran kertas yang tidak berharga ini, lantas membiarkan kaum kafir mengontrol kita dengannya.

Apakah itu Islam? Bukankah Islam adalah agama pencerah dan telah mengajarkan kita untuk mengerti banyak hal? Lantas bagaimana para ulama dan cendekiawan menyikapi ini? Andai mereka terus mendorong dan membiarkan tindakan kriminal terhadap alam seperti yang mereka lakukan ini, maka Allah dengan segala kuasa-Nya akan murka. Karena Dia telah mengharamkan riba, sedangkan para ulama dan cendekiawan malah membiarkannya?

Lalu bagaimana membangun kesadaran masyarakat bahwa apa yang telah mereka makan dan gunakan selama ini adalah riba?
Mengapa kita tidak tahu? Itulah inti pemikiran saya. Kita menjadi tidak tahu karena kita telah dibuat bisu.

Oleh siapa?
Oleh seluruh generasi Islam. Coba perhatikan semua bank Islam, para praktisinya telah melakukan tindak kriminal melebihi yang dilakukan kaum kafir. Bukan hanya karena mereka telah melakukan riba persis seperti bank-bank lainnya, tapi karena mereka malah menghalalkan praktik ini. Ini menandakan mereka telah melakukan dua kejahatan. Dan ironisnya, seluruh negeri Islam menerima tindakan ini.

Bukankah tindakan mereka ini merupakan upaya tranformasi sistem kapitalisme yang ada hingga bisa relevan dengan Islam?
Bukan. Mereka bukan berupaya mentrasformasi kapitalisme ke dalam Islam, tetapi mereka justru mengarahkan Islam ke dalam kapitalisme. Selama bank Islam masih ada, maka kapitalisme pun akan terus ada. Bahkan kini, bank-bank konvensional, seperti City Bank, UBS, dan bank-bank lain sudah memiliki jaringan perbankan Islam.

Lihatlah yang mereka lakukan ini. Pahamkah Anda mengapa mereka menolak menggunakan dinar? Karena dinar dan dunia perbankan layaknya air dan api. Ketika penggunaan dinar diperkenalkan, maka perbankan Islam dan perbankan secara umum akan hancur. Karena itulah mereka berupaya menarik semua orang menuju kapitalisme.

Jadi, yang ada dalam perbankan Islam sebenarnya murni bisnis. Dan pola yang dilakukan adalah anti-Islam, saya istilahkan dengan double haram banking. Ini sulit dibendung karena pemasaran yang begitu kuat.

Lantas bagaimana cara mengenyahkan itu semua?
Kita dapat memulainya dengan menggunakan sesuatu yang halal dulu, lalu akan tumbuh kebutuhan akan sesuatu yang halal itu seperti kebutuhan kita kepada Allah SWT. Ketika hendak mengerjakan shalat, kita pun tidak perlu terlebih dulu bertanya kepada seorang alim dalam bidang agama, karena kita memang telah diwajibkan untuk mengerjakannya.

Untuk menggunakan dinar, kita dapat memulainya dengan membuat komunitas pengguna dinar dan melakukan berbagai transaksi dengan dinar. Ketika menggunakan dinar dalam transaksi, kita hanya berurusan dengan diri kita sendiri, dan tidak tergantung kepada bank sentral atau orang lain.

Banyak orang beranggapan penggunaan dinar justru akan merepotkan karena harus membawa koin ke mana-mana?
Andai itu alasannya, apakah kita harus merasa nyaman melakukan sesuatu yang haram? Isunya bukanlah ide ini layak praktik atau tidak. Yang harus dikaji adalah makna-makna tersirat dari ajaran menggunakan dinar. Kita tidak bisa mempertanyakan mengapa kita harus shalat Maghrib tiga rakaat. Karena andai itu bisa dipertanyakan maka akan muncul keberatan untuk melakukannya, atau ada orang memilih untuk melakukan hanya dua rakaat atau lain sebagainya.

Yang harus dipahami makna di balik penggunaan uang yang justru membuat kaum kafir dapat mengontrol kita. Hanya dengan memproduksi tumpukan kertas (dolar), Amerika dapat membeli banyak hal tanpa perlu bekerja. Yang mereka butuhkan hanya membuat seluruh dunia terhipnotis dengan sistem yang mereka terapkan. Dengan menghipnotis orang-orang maka mereka mampu menutupi wawasan ma’rifah). Jika ini terus terjadi, maka orang-orang tidak akan pernah mencapai wawasan ketuhanan (ma’rifatullah), karena yang mereka takutkan hanyalah urusan dunia.

Mereka ditunjang dengan sosok para pemimpin yang tidak tercerahkan yang menolak membicarakan urusan ini. Kita tidak perlu menunggu untuk mengubah sesuatu yang keliru.

Jadi yang sangat berperan mengubah ini semua adalah penguasa?
Betul.

Apa beda kapitalisme dengan Islam?
Kapitalisme adalah agama yang dianut baik oleh orang-orang Kristen, Hindu, Islam, Yahudi, atau lainnya. Semua orang kini menggunakan sistem transaksi yang sama yakni kapitalisme, walau menggunakan ATM, warna kertas, angka maupun logam yang berbeda. Kapitalisme dianggap sebagai sesuatu yang tidak boleh dipertanyakan, harus dianggap sebagai sesuatu yang ortodoks. Kita tidak dapat pergi ke bank dan berkata: “Maaf saya tidak mau menerima bunga dari Anda karena saya agnostik.” Mungkin selepas itu Anda akan dimasukkan ke dalam bui. Karena itu kapitalisme harus kita perangi.

Memerangi kapitalisme mungkin dapat dikategorikan sebagai jihad?
Saat ini memang hanya ada satu jihad yaitu melawan kapitalisme. Mungkin kaum Muslim tidak mampu membebaskan Palestina selama kapitalisme masih menyelubungi kita.

Indonesia sebenarnya negara merdeka, tapi kenyataannya justru dikontrol oleh “tangan-tangan mahir” kapitalisme. Itulah alasan saya mengunjungi Indonesia, karena kapitalisme telah begitu kuat mencekik Indonesia di berbagai aspeknya. Coba perhatikan mata uang Anda, mungkinkah Anda menyatakan bahwa mata uang itu sebagai sesuatu yang nyata? Terlebih dibandingkan dengan koin emas?

Tiga tahun lalu, dinar emas berada pada kisaran tiga hingga empat ribu rupiah, namun lihat kini, harganya telah mencapai delapan ribu rupiah. Andapun merugi 70% selama tiga tahun ini. Karena, mata uang yang Anda gunakan itu terbuka terhadap inflasi. Begitulah cara kapitalisme mengontrol Anda. Karena itu, kapitalisme adalah bahaya besar layaknya mulut singa yang menganga, bahayanya melebihi gigitan nyamuk di tubuh Anda.

Coba perhatikan lagi, rupiah yang beredar di bank, bukanlah rupiah dalam bentuk kertas, tetapi hanya berbentuk rupiah elektronik. Semuanya berputar dalam sistem perbankan.

Perbandingan antara elektronik dan rupiah fisik sekitar 1:40 atau 1:50. Ini berarti kira-kira setiap satu uang kertas yang ada memiliki perputaran 40 atau 50 uang elektronik. Dan semua uang ini sifatnya kredit, yang dibuat oleh sistem perbankan. Setiap kali mereka mengeluarkan tiga triliun rupiah, mereka pun kemudian akan menambah tiga triliun rupiah dalam perputaran uang nasional. Karena itulah setiap kali Anda membeli sesuatu dengan rupiah Anda, maka setiap kali itu pula nilai rupiah Anda menurun.

Makanya, jika makin banyak, maka valuable akan berhenti, dan ketika Anda menggandakan jumlah uang yang bersirkulasi, maka nilai mata uang Anda akan menurun hingga setengahnya. Memperbanyak uang yang beredar, bukan akan membuat Anda menjadi kaya, tetapi justru membuat nilai uang Anda akan kian menurun. Begitulah dalam hitungan matematika dasarnya.

Lalu apakah yang akan terjadi kemudian?
Setelah pemerintah menciptakan kembali uang seharga tiga triliun rupiah, menurut saya itu diambil dari uang kita semua. Ironisnya, tiga triliun yang diciptakan itu justru lari kepada para konglomerat.

Coba lihat, uang yang diambil dari kumpulan uang seluruh masyarakat di Nusantara, lalu kemudian hanya diberikan kepada segelintir orang yang justru memiliki uang. Karena, jika Anda ingin meminjam tiga triliun rupiah, pastilah Anda tidak akan mampu. Sebab Anda harus memiliki uang tiga triliun lain sebagai jaminan pengganti (pailit).

Begitulah yang terjadi berulang-ulang. Dari situlah maka terjadi ketidakstabilan nilai uang. Banyak orang bertanya mengapa ini terjadi. Itu terjadi karena kapitalisme telah menciptakan ketidakstabilan. Di sisi lain, kaum Muslim yang seharusnya mengatakan pola ini adalah pola kriminal, justru malah mengatakan bahwa inilah pola yang islami.

Jika demikian, yang jadi masalah pokok adalah kapitalisme, bukan masalah uang. Jika akan mangubahnya berarti kita harus mengubah sistemnya dulu. Menurut Anda?
Pertama-tama, kita harus menyadari bahwa dalam sistem kapitalisme ini ada sesuatu yang keliru. Namun, selama kita menganggapnya sebagai sesuatu yang islami, maka tentu tidak akan menjadi masalah untuk dibahas. Kita tidak sadar tengah berada di hadapan seekor harimau yang hendak menerkam. Bahkan kita menganggap harimau itu sebagai kawan, walau ia akan memakan tubuh kita.

Islam memiliki model sistem ekonomi sendiri yang hampir 1400 tahun silam telah dipergunakan. Bahkan, secara lembaga pun sistem ekonomi Islam telah pernah ada beserta pilar-pilarnya.

Bisa Anda jelaskan?
Dinar menjadi hal terpenting dalam pilar ini. Lalu pasar (market place) yang bukan seperti mal atau pusat-pusat perbelanjaan. Pasar dalam Islam bentuknya terbuka untuk semua pedagang dari segala kalangan. Bahkan dari luar negeri. Karenanya, dalam pasar ala Islam akan selalu ada lokasi terbuka untuk para pedagang yang datang dari luar negeri guna memasarkan dagangan mereka secara langsung dan bebas.

Pasar adalah fundamental. Problem besar yang dihadapi para petani adalah penjualan atau perdagangan. Tapi yang kini terjadi, para pedagang di pinggir jalan seperti meminta-minta untuk mendapatkan tempat berjualan. Ini terjadi karena model perdagangan ala Islam telah dilupakan, dikubur dan dikunci selama ratusan tahun.

Banyak orang beranggapan, jika kita kembali menggunakan sistem ini, berarti kita mundur dalam melangkah?
Mereka berkata demikian karena ego. Penggunaan dinar akan membuat kita maju. Penggunaan rupiah yang akan membuat kita mundur.

Inilah masa kegelapan kapitalisme. Orang-orang dibutakan untuk menyatakan bahwa menggunakan segala sesuatu (selain kapitalisme) adalah sebuah kemunduran. Inilah propaganda untuk menumbuhkan keyakinan bahwa Islam justru akan membawa kemunduran dan peradaban Barat adalah kemajuan. Padahal sebenarnya, dengan kapitalisme akan membuat kita seperti hidup di neraka. Kita akan menemui banyak ketidakadilan, ketidakstabilan. Karena semua itu melawan kehendak Allah SWT. Kita tidak akan mendapatkan berkah selama menggunakan kapitalisme yang berbaur riba ini.

Ketika Allah menyingkirkan berkah dalam hidup kita, maka kita akan buta akan segalanya. Yang ada dalam diri kita hanya rasa takut. Bahkan kita akan menjadi lebih hina daripada binatang. Kita akan menjadi seperti anjing buta nan bodoh di tengah jalan.n

Umar brahim Vadillo dikenal sebagai “Father of Dinar”. Ia lahir pada 1964 di Spanyol dari keluarga Katolik Ortodoks. Alumnus Abraham Engineering dengan kekhususan Economic Engineering ini tercerahkan memeluk Islam pada 1996. Walau lahir dan tumbuh di tengah-tengah keluarga Kristen, tapi Vadillo mengaku ia hanya penganut Kristen secara budaya dan tidak mengimaninya.

Sebelum memeluk Islam, Vadillo pernah masuk dalam komunitas anarkis berlatar belakang politis yang berslogan “Tidak ada tuhan” atau ibarat “la ilaha” tanpa “Allah”.
Pada 1999, ayah sembilan anak ini menulis buku Islamic Critique of Economic. Dalam buku itu Vadillo menegaskan, upaya umat Islam untuk mengislamkan perbankan sama seperti upaya mengislamkan wiski. Vadillo menganggap mereka telah salah jalan. Inilah yang menginspirasinya menulis buku The End of Economic.