Arsip | Artikel Lepas RSS for this section

Belatung, Si Penyingkap Tabir Kematian


Tubuh laki-laki itu terbujur kaku di kamarnya. Tidak seorangpun yang tahu apalagi menyaksikan kematiannya, sampai-sampai bau busuk dari sang mayat menyeruak keluar jendela dan pintu.

Para petugas semuanya mengenakan masker untuk menghindari terhisapnya bau racun tersebut. Kapan, mengapa dan bagaimana ia meninggal tak ada satu orangpun yang bisa menjelaskan, hanya ditemukan ribuan belatung menggeliat di tubuh mayat tersebut.

Dapatkah makhluk kecil tersebut menyingkap tabir dibalik misteri kematiannnya?

Keberadaan belatung dimayat dapat membantu mengungkapkan banyak hal seperti waktu kematian, penyebab kematian bahkan identitas mayat dan pelaku pembunuhan. Ternyata hewan kecil yang menjijikkan bagi sebagian orang tersebut berperan besar dalam penyelidikan forensik, dalam ilmu entomologi forensik, belatung dianggap sebagai “amazing insect”.

Mengenal Lebih Dekat Belatung

Belatung sebenarnya adalah larva lalat, kutu dan kumbang. Umumnya larva hidup sebagai parasit dan merusak jaringan makhluk lain, dan kebanyakan belatung yang terdapat pada mayat yang terpapar berasal dari larva lalat.

Kenapa belatung sering ditemukan pada mayat?

Karena mayat mengeluarkan bau busuk terutama ketika terpapar udara bebas, maka lalat, kutu atau kumbang sebagai makhluk yang paling doyan dengan bau-bau busuk merasa terpanggil untuk mendekat dan melekat kemudian meletakkan telurnya pada bagian tubuh mayat, nah telur tersebut menetas dan mengeluarkan larva yang lazim disebut belatung.

Bukan hanya mayat yang digemari para larva ini, mahkluk yang masih hiduppun bisa menjadi rumah favorit bagi belatung, sebagai contoh kisah diawal tahun 2010 seorang bocah, Ummi Darmiati di daerah Mamuju yang berjuang melawan rasa sakit akibat serangan belatung-belatung ganas yang bersarang di tubuhnya.

Kerjasama Tim Forensik Dengan Belatung

1. Saat menghembuskan nafas terakhir.

Memastikan waktu kematian tanpa ada saksi tentu sangat sulit, paling tidak memperkirakan dengan melihat keadaan mayat. Misal kekakuan mayat, lebam pada mayat dll. Belatung dapat memberikan kontribusi untuk perkiraan waktu kematian.

Caranya : memeriksa alat pernafasan belatung, sebab alat pernafasan ini terus mengalami perubahan sejalan dengan waktu. Tentu saja yang bisa mengetahuinya adalah para ahli forensik.

2. Perpindahan mayat

Belatung dapat membantu menentukan apakah lokasi ditemukannya mayat sama dengan lokasi kematian.
Caranya : mencocokkan jenis belatung atau serangga lain yang ditemukan di tubuh mayat dengan tipe lalat atau serangga lain yang hidup di sekitar lokasi ditemukannya mayat.

3. Identitas mayat

Seringkali ditemukan tubuh mayat sudah tak berbentuk, sulit dikenal atau tanpa petunjuk identitas yang jelas. Sebagai contoh, mayat yang harus digali dari kuburan untuk sebuah visum. Untuk memastikan identitas mayat tersebut, belatung sangat berperan.

Caranya : karena kebisaan belatung yang mencerna jaringan tubuh mayat, maka saluran cerna belatung diperiksa melalui tes DNA untuk proses identifikasi. Selain itu belatung juga memakan cairan sperma atau cairan vagina, sehingga selain identifikasi korban belatung dapat juga digunakan untuk mencari identitas pelaku dalam kasus kekerasan seksual.

4. Mencari Penyebab Kematian

Untuk yang satu ini, belatung benar-benar unjuk gigi, sebab mengungkap misteri penyebab kematian bukanlah hal yang mudah.

Caranya : Bagian tubuh mayat yang menjadi tempat paling favorit berkumpulnya belatung merupakan sebuah petunjuk penting. Belatung umumnya paling menyukai hidup dibagian mata, hidung, telinga, mulut. Intinya bagian berlobang dari tubuh, karena belatung suka kegelapan di lobang

Bagaimana jika belatung ditemukan pada bagian tubuh yang lain? Nah ini dia petunjuknya.

* Apabila belatung ditemukan di lengan misalnya, maka diidentifikasi ada luka di lengan, sebab luka yang mengeluarkan darah merupakan hal yang amat menarik dan disukai para belatung sehingga mereka berkumpul dibagian luka tersebut.

* Demikian juga bila belatung ditemukan di bagian kemaluan dan anus, padahal bagian ini termasuk tempat yang tidak disukai belatung (tahu diri juga nih makhluk), tetapi jika ada bau-bau khusus yang menarik mereka untuk berkumpul disana (misal bau cairan sperma dan vagina) maka belatung akan banyak ditemukan didaerah ini, jadi dapat diidentifikasi bahwa sebelum kematian terjadi kekerasan seksual.

* Bahkan, jika ada kecurigaan keracunan pun, dapat diketahui melalui belatung yaitu belatung di ekstraksi dan dilakukan uji racun ( toksikologi).

Mahkluk kecil ini ternyata sangat bermanfaat dalam usaha mencari kebenaran, tapi sepertinya dalam aplikasi penyelidikan di Indonesia belum terlalu dimanfaatkan.

Sumber : http://www.beritaunik.net/unik-aneh/belatung-si-penyingkap-tabir-kematian.html

Iklan

10 IRONI DEMOKRASI


BELAKANGAN ini umat Islam tersulut perasaan iman dan kehormatannya setelah sejumlah orang-orang licik yang tak bertanggungjawab mefilmkan sosok sakral di hatinya, Nabi Muhammad SAW. Belum reda permasalahan ini kini muncul karikatur Nabi di sebuah tabloid asal negeri anggur, Prancis.

Sam Bacile, pembuat film “Innocence of Muslim”, menggambarkan Nabi Muhammad sebagai orang yang haus seks dan pengidap pedofilia. Setelah kontroversi film, hinaan datang dari majalah Charlie Hebdo yang memuat kartun Nabi Muhammad. Bahkan redaktur majalah tersebut berjanji akan terus mengolok-olok Nabi Muhammad hingga suatu saat menjadi suatu yang lumrah seperti diolok-oloknya Yesus atau Paus.

Sejauh ini, sudah hampir 50 orang tewas di seluruh Negara Muslim dalam demo menentang penghinaan atas sosok Nabi. Setiap orang yang masih berada dalam koridor iman wajar apabila marah dan tidak bisa menerima begitu saja sikap yang sangat menyayat hati ini. Dengan dalih demokrasi, kebebasan berekspresi, kebebasan mengeluarkan pendapat dan suara, mereka mati-matian dengan gigih dan kuat pula membela sikap nyinyirnya.

Direktur Penerbit Imtiyaz Surabaya, Rijal Mumazziq Zionis, menulis dalam akun Facebook-nya, “Di Stadion, jika kita meneriakkan suara monyet saat Didier Drogba, Michael Essien dan Eric Abidal menggiring bola, kita akan dihukum karena rasisme! Jika Youssi Benayun menggiring bola dan kita teriakkan Fucking Jewish, kita ditangkap para Steward, diserahkan ke polisi atas tuduhan anti-semit! Tapi jika memparodikan sosok suci dalam sebuah agama, itu namanya “kebebasan berekspresi.””

Demokrasi telah menjadi dewa yang diagungkan. Dengannya, seseorang, sekelompok, atau sebuah negara, boleh-boleh saja mencaci, memaki, menjatuhkan harkat dan martabat. Atas namanya, kebenaran dan kebebasan berekspresi telah termanipulasi.

Betapa demokrasi menjadi senjata ampuh untuk dapat menjatuhkan martabat seorang tokoh dunia yang diakui jasanya dalam perdamaian dunia, tanpa mau mendengar dan mengerti perasaan umatnya. Itulah demokrasi yang konon menjadi sistem terbaik di dunia ini. Padahal, demokrasi merupakan produk pemikiran manusia yang nisbi.

Demokrasi hanya menjadi hiasan bibir semata untuk kepentingan politik dan syahwat ekonomi segelintir negara.

Mereka berteriak demokrasi dengan suara lantang dan menggelegar saat melihat kepentingannya terganggu. Tapi mereka diam seribu bahasa pada saat mereka mengenyahkan umat Islam di Afghanistan, Iraq, Somalia, Bosnia, atas nama demokrasi.

Mereka berkoar-berkoar dengan mulut berbusa bahwa Demokrasi menjamin kesetaraan dan keadilan namun tidak menghargai keyakinan Muslimah dalam mengenakan jilbab, sesuai kewajiban dari agamanya. Demokrasi menginjak-injak fitrah manusia dengan melegalkan perkawinan sesama laki dan perempuan, lokalisasi pelacuran, perjudian, dan mengahalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal.

Bagi negara Barat, demokrasi yang benar adalah demokrasi yang sesuai penafsiran mereka. Karikatur Nabi boleh beredar dengan UU produk manusia di Prancis, namun mereka dengan sigap menjerat setiap orang yang menyoal masalah pembantaian orang Yahudi.

Demokrasi hanya ironi yang menjadi senjata untuk menerkam dan dan menginjak-injak umat Islam. Kalangan penggiat demokarasi bersama-sama dengan penganut sekularisme, liberalisme, dan neokomunisme, menjadikan konsep demokrasi sebagai hammer untuk menggebuk umat Islam.

Bagi Habib Rizieq, Islam dan demokrasi seperti minyak dan air, bagai langit dan bumi, dua hal yang tidak akan mungkin dapat disatukan. Setidaknya ada 10 perbedaan paling prinsip antara sistem Islam dan demokrasi, kata Habib Rizieq dalam karyanya Hancurkan “Liberalisme Tegakkan Syariat Islam” (2011 : 153 -155).

Pertama, sistem Islam bersumber dari Allah Dzat yang Maha Sempurna dan Maha Mengetahui apa yang terbaik buat hamba-Nya dan keburukan yang bisa menimpanya.

Sementara sistem demokrasi tak lain merupakan produk karya manusia yang sangat lemah dan penuh dengan kesalahan dan kekurangan.

Kedua, demokrasi menjadikan meniscayakan suara terbanyak sebagai hukum, adapun Islam meniscayakan pelaksanaan syariat Islam dengan panduan Al-Qur`an dan Sunnah.

Ketiga, demokrasi memisahkan antara agama dan Negara sementara dalam Islam tidak ada pemisahan antara keduanya.

Keempat, standar kebenaran dalam Islam memakai patokan syariat, beda dengan demokrasi yang menjadikan hawa nafsu manusia dan akal pendeknya sebagai ukurannya.

Kelima, dalam Islam suara yang diambil sebagai pandangan dan masukan lahir dari orang-orang pilihan yang memiliki integritas dan moral bermutu, namun ia tetap menjadi suara manusia bukan suara Tuhan. Dalam demokrasi, suara yang diambil bisa dari mana saja: pahlawan atau pecundang, ulama atau preman, orang awam atau alim, suara mereka sama, dan semuanya dianggap sebagai “suara tuhan.”

Keenam, sisitem demokrasi dapat melahirkan undang-undang halalisasi perkara yang haram dan haramisasi hal yang halal. Beda halnya dengan Islam yang tetap memastikan sesuatu yang haram dan halal tetap berlaku sebagaimana mestinya.

Ketujuh, system telah teruji oleh sejarah sejak masa Nabi Adam, sementara demokrasi baru muncul di abad 17 pasca Revolusi Prancis tahun 1789. Meski datang belakangan dan menjadi sistem yang dianggap paling unggul saat ini, justeru demokrasi semakin menampakkan kelemahan, ketidakadilan, dan kebobrokannya.

Kedelapan, jika ada persamaa antara sistem Islam dan demokrasi, seperti diklaim oleh beberapa pihak, maka hal tersebut tak lain merupakan imitasi dari sistem Islam, sebab system Islam semakin menemukan bentuk sempurnanya di masa kenabian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam. dan bukan sebaliknya.

Kesembilan, sistem Islam menjadi sistem yang mengantarkan umat kepada kebaikan dan kesejahteraan, seperti tertera dalam Al-Quran Surah Ali Imran ayat 110. Bagaimana dengan demokrasi? Sampai detik ini tak pernah berhasil menjadi sistem terbaik, malah makin terkuak bobrok dan rusaknya.

Kesepuluh, menegakkan system kehidupan berlandaskan Islam merupakan kewajiban agama, sehingga mendapat pahala dan berkah bagi yang melaksanakannya, dan mendatangkan dosa dan murka bagi yang meninggalkannya. Adapun demokrasi tidak termasuk dalam kewajiban agama, bahkan bisa menjerumuskan kepada dosa dan mendatangkan bencana karena banyaknya pertentangangan dengan Islam.*/Penulis adalah Tenaga Edukatif di Pesantren Darut Tauhid Malang.

Telah dekat kiamat, Bulan telah terbelah


Allah berfirman: “Sungguh telah dekat hari qiamat, dan bulan pun telah terbelah (Q.S. Al-Qamar: 1)” Apakah kalian akan membenarkan kisah yang dari ayat Al-Qur’an ini menyebabkan masuk Islamnya pimpinan Hizb Islami Inggris ??Di bawah ini adalah kisahnya:
Dalam temu wicara di televisi bersama pakar Geologi Muslim, Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar, salah seorang warga Inggris mengajukan pertanyaan kepadanya, apakah ayat dari surat Al-Qamar di atas memiliki kandungan mukjizat secara ilmiah ?

Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawabnya sebagai berikut:
Tentang ayat ini, saya akan menceritakan sebuah kisah. Sejak beberapa waktu lalu, saya mempresentasikan di Univ. Cardif, Inggris bagian barat, dan para peserta yang hadir bermacam-macam, ada yang muslim dan ada juga yang bukan muslim. Salah satu tema diskusi waktu itu adalah seputar mukjizat ilmiah dari Al-Qur’an. Salah seorang pemuda yang beragama muslim pun berdiri dan bertanya, “Wahai Tuan, apakah menurut anda ayat yang berbunyi [Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah] mengandung mukjizat secara ilmiah ? Maka saya menjawabnya: Tidak, sebab kehebatan ilmiah diterangkan oleh ilmu pengetahuan, sedangkan mukjizat tidak bisa diterangkan ilmu pengetahuan, sebab ia tidak bisa menjagkaunya.

Dan tentang terbelahnya bulan, maka itu adalah mukjizat yang terjadi pada Rasul terakhir Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam sebagai pembenaran atas kenabian dan kerasulannya, sebagaimana nabi-nabi sebelumnya. Dan mukjizat yang kelihatan, maka itu disaksikan dan dibenarkan oleh setiap orang yang melihatnya. Andai hal itu tidak termaktub di dalam kitab Allah dan hadits-hadits Rasulullah, maka tentulah kami para muslimin di zaman ini tidak akan mengimani hal itu. Akan tetapi hal itu memang benar termaktub di dalam Al-Qur’an dan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Dan memang Allah ta’alaa benar-benar Maha berkuasa atas segala sesuatu.

Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar pun mengutip sebuah kisah Rasulullah membelah bulan. Kisah itu adalah sebelum hijrah dari Mekah Mukarramah ke Madinah. Orang-orang musyrik berkata, “Wahai Muhammad, kalau engkau benar Nabi dan Rasul, coba tunjukkan kepada kami satu kehebatan yang bisa membuktikan kenabian dan kerasulanmu (mengejek dan mengolok-olok)?” Rasulullah bertanya, “Apa yang kalian inginkan ? Mereka menjawab: Coba belah bulan, ..”

Maka Rasulullah pun berdiri dan terdiam, lalu berdoa kepada Allah agar menolongnya. Maka Allah memberitahu Muhammad agar mengarahkan telunjuknya ke bulan. Maka Rasulullah pun mengarahkan telunjuknya ke bulan, dan terbelahlah bulat itu dengan sebenar-benarnya. Maka serta-merta orang-orang musyrik pun berujar, “Muhammad, engkau benar-benar telah menyihir kami!” Akan tetapi para ahli mengatakan bahwa sihir, memang benar bisa saja “menyihir” orang yang ada disampingnya akan tetapi tidak bisa menyihir orang yang tidak ada ditempat itu. Maka mereka pun pada menunggu orang-orang yang akan pulang dari perjalanan. Maka orang-orang Quraisy pun bergegas menuju keluar batas kota Mekkah menanti orang yang baru pulang dari perjalanan. Dan ketika datang rombongan yang pertama kali dari perjalanan menuju Mekkah, maka orang-orang musyrik pun bertanya, “Apakah kalian melihat sesuatu yang aneh dengan bulan?”Mereka menjawab, “Ya, benar. Pada suatu malam yang lalu kami melihat bulan terbelah menjadi dua dansaling menjauh masing-masingnya kemudian bersatu kembali…!!!”

Maka sebagian mereka pun beriman, dan sebagian lainnya lagi tetap kafir (ingkar). Oleh karena itu, Allah menurunkan ayat-Nya:
اقتربت الساعة وانشق القمر، وإن يروا آية يعرضوا ويقولوا سحر مستمر، وكذبوا واتبعوا أهوائهم، وكل أمر مستقر …
Sungguh, telah dekat hari qiamat, dan telah terbelah bulan, dan ketika melihat tanda-tanda kebesaran Kami, merekapun ingkar lagi berpaling seraya berkata, “Ini adalah sihir yang terus-menerus”, dan mereka mendustakannya, bahkan mengikuti hawa nafsu mereka. Dan setiap urusan benar-benar telah tetap ….sampai akhir surat Al-Qamar.

Ini adalah kisah nyata, demikian kata Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar. Dan setelah selesainya Prof. Dr. Zaghlul menyampaikan hadits nabi tersebut, berdiri seorang muslim warga Inggris dan memperkenalkan diri seraya berkata, “Aku Daud Musa Pitkhok, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris. Wahai tuan, bolehkah aku menambahkan??”

Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawab: Dipersilahkan dengan senang hati.”
Daud Musa Pitkhok berkata, “Aku pernah meneliti agama-agama (sebelum menjadi muslim), maka salah seorang mahasiswa muslim menunjukiku sebuah terjemah makna-makna Al-Qur’an yang mulia. Maka, aku pun berterima kasih kepadanya dan aku membawa terjemah itu pulang ke rumah. Dan ketika aku membuka-buka terjemahan Al-Qur’an itu di rumah, maka surat yang pertama aku buka ternyata Al-Qamar. Dan aku pun membacanya: Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah…

Maka aku pun bergumam: Apakah kalimat ini masuk akal?? Apakah mungkin bulan bisa terbelah kemudian bersatu kembali?? Andai benar, kekuatan macam apa yang bisa melakukan hal itu??? Maka, aku pun menghentikan dari membaca ayat-ayat selanjutnya dan aku menyibukkan diri dengan urusan kehidupan sehari-hari. Akan tetapi Allah Yang Maha Tahu tentang tingkat keikhlasam hamba-Nya dalam pencarian kebenaran. Maka aku pun suatu hari duduk di depan televisi Inggris. Saat itu ada sebuah diskusi diantara presenter seorang Inggris dan 3 orang pakar ruang angkasa AS.

Ketiga pakar antariksa tersebut pun menceritakan tentang dana yang begitu besardalam rangka melakukan perjalanan ke antariksa, padahal saat yang sama dunia sedang mengalami masalah kelaparan, kemiskinan, sakit dan perselisihan. Presenter pun berkata, ” Andai dana itu digunakan untuk memakmurkan bumi, tentulah lebih banyak berguna”. Ketiga pakar itu pun membela diri dengan proyek antariksanya dan berkata, “Proyek antariksa ini akan membawa dampak yang sangat positif pada banyak segmen kehidupan manusia, baik segi kedokteran, industri, dan pertanian. Jadi pendanaan tersebut bukanlah hal yang sia-sia, akan tetapi hal itu dalam rangka pengembangan kehidupan manusia.

Dan diantara diskusi tersebut adalah tentang turunnya astronot menjejakkan kakiknya di bulan, dimana perjalanan antariksa ke bulan tersebut telah menghabiskan dana tidak kurang dari 100 juta dollar. Mendengar hal itu, presenter terperangah kaget danberkata, “Kebodohan macam apalagi ini, dana begitu besar dibuang oleh AS hanya untuk bisa mendarat di bulan?” Mereka pun menjawab, “Tidak, ..!!! Tujuannya tidak semata menancapkan ilmu pengetahuan AS di bulan, akan tetapi kami mempelajari kandungan yang ada di dalam bulan itu sendiri, maka kami pun telah mendapat hakikat tentang bulan itu, yang jika kita berikan dana lebih dari 100 juta dollar untuk kesenangan manusia, maka kami tidak akan memberikan dana itu kepada siapapun. Maka presenter itu pun bertanya, “Hakikat apa yang kalian telah capai sehingga demikian mahal taruhannya. Mereka menjawab,

“Ternyata bulan pernah mengalami pembelahan di suatu hari dahulu kala, kemudian menyatu kembali.!!! Presenter pun bertanya, “Bagaimana kalian bisa yakin akanhal itu?” Mereka menjawab, “Kami mendapati secara pasti dari batuan-batuan yang terpisah terpotong di permukaan bulan sampai di dalam (perut) bulan. Maka kami pun meminta para pakar geologi untuk menelitinya, dan mereka mengatakan, “Hal ini tidak mungkin telah terjadi kecuali jika memang bulan pernah terbelah lalu bersatu kembali”.

Mendengar paparan itu, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris mengatakan, “Maka aku pun turun dari kursi dan berkata, “Mukjizat (kehebatan) benar-benar telah terjadi pada diri Muhammad sallallahu alaihi wassallam 1400-an tahun yang lalu. Allah benar-benar telah mengolok-olok AS untuk mengeluarkan dana yang begitu besar, 100 juta dollar lebih, hanya untuk menetapkan akan kebenaran muslimin !!!! Maka, agama Islam ini tidak mungkin salah … Maka aku pun berguman, “Maka, aku pun membuka kembali Mushhaf Al-Qur’an dan aku baca surat Al-Qamar, dan … saat itu adalah awal aku menerima dan masuk Islam.

Diterjemahkan oleh: Abu Muhammad ibn Shadiq
Read more at http://pembinaanpribadi.blogspot.com/2011/11/telah-dekat-qiamat-bulan-telah-terbelah.html#DcgvMAJ5TSSbYoxC.99

Kata-Kata Bijak Yang Koplak


Hal yang paling sulit dari banjir informasi di abad informasi, adalah menyaringnya…

Kemampuan yang paling hebat, dan juga paling mengerikan dari para filsuf, sastrawan, dan penulis amatiran (seperti saya), adalah merangkai kata-kata. Kemampuan persuasi, yang bisa membuat hal-hal yang sebenarnya koplak, terlihat bijak. Suatu hal-hal yang jelas salah pun, akan bisa terlihat luar biasa benar, luar biasa masuk akal, lengkap dengan argumen yang indah dan berbunga-bunga, yang kedengarannya muncul dari seorang bijak berjanggut yang sedang bersemedi di bawah pohon, lengkap dengan kicauan burung di latar belakang.

Kata-kata bijak berikut ini, saat pertama anda membacanya, anda mungkin akan manggut-manggut setuju, hati anda tersentuh, bahkan mata anda akan berkaca-kaca sambil menghela napas panjang sambil membatin: ‘iya juga yaa..’ Benarkah itu bijak? Yuk kita kritisi..

“Kita tidak perlu menghakimi keburukan orang lain. Biarlah itu urusan dia dengan Tuhannya. Hanya Tuhan yang tahu mana yang paling benar. Hanya Tuhan lah yang berhak menghakimi, di akhirat kelak..”

Wow, wow, wow, tunggu dulu.. Jika saja hanya Tuhan yang berhak menghakimi, mari kita bubarkan semua lembaga peradilan, karena manusia tidak berhak menghakimi bukan? Mau orang korupsi, mencuri, menjadi gay dan lesbian, menghina agama, bahkan membunuh orang lain, biarkan saja. Toh kita tidak berhak menghakimi orang lain kan? Hanya Tuhan yang berhak. Jadi jika ada polisi yang coba mendenda kita karena buang sampah atau merokok sembarangan di Singapura, tampar saja si sok tahu itu, dan katakan: “hanya Tuhan yang berhak menghakimi saya!!” Jika kita hanya membiarkan Tuhan yang mengadili semua keburukan-keburukan manusia di dunia, kita tidak perlu hukum lagi, dan mari kita kembali ke zaman batu (bahkan manusia zaman batu pun punya peraturan). Atau kita ikuti saja kata-kata teman saya: “Lemah teles, Gusti Alloh seng mbales..”

“Kenapa kita ribut-ribut masalah yang sepele sih? Pornografi diributin, penulis buku yang mempromosikan lesbi dihalangin.. Lady Gaga diributin.. Mendingan urusin tuh koruptor, mereka yang lebih berbahaya bagi bangsa kita ini..”

Weks.. Ini sih sama saja dengan: “Ngapain kita tangkap orang yang nyolong sandal, tuh yang maling motor aja dikejar..”. Lha perbuatan buruk, besar atau kecil, tetap harus dihalangi. Jika orang tersebut menentang pornografi, bukan berarti dia diam saja terhadap koruptor kan? Bukankah lebih baik kita menjaga dari keduanya. Katakan: say no to pornografi dan korupsi! Dua-duanya, menurut saya, cepat atau lambat, akan menghancurkan negara ini. bahkan masyarakat barat sendiri pun cukup resah dengan pornografi, koq malah kita mendukungnya?

“Tuhan itu maha kuasa, maha agung, maha besar. Jadi ga perlu dibela. Jika kalian membentuk gerakan untuk membela agama, itu sama saja dengan kalian melecehkan kekuasaan dan kekuatan Tuhan. Tuhan ga perlu dibela..”

Weleh, tunggu sebentar. Organisasi-organisasi agama yang dibentuk selama ini, dari agama manapun, didirikan untuk membela Tuhan, atau untuk kepentingan para pemeluk agama? Organisasi tersebut dibentuk untuk mengurusi, menyuarakan, dan mengakomodasi kepentingan para penganutnya. Jika organisasi tersebut bertujuan melindungi kepentingan para anggotanya, kenapa dituduh sedang berusaha membela Tuhan? Saya koq tidak ingat ada organisasi agama yang visi dan misi organisasinya adalah: “untuk membela Tuhan di muka bumi..”

“Kenapa sih anti banget dengan seks bebas? Anti banget dengan rok mini? Padahal diam-diam toh suka nonton film porno, doyan seks juga, suka melototin paha juga.. Dasar otaknya aja yang kotor.. Bersihin tuh otaknya, jangan urusin pakaian orang lain.. Kalau otaknya bersih dan imannya kuat, mau ada yang telanjang di depannya juga ga akan tergoda.. Gak usah munafik dan sok suci deh..”

Lhaaa… Sebentar… Kelompok yang anti seks bebas bukan berarti mereka ga doyan seks ya.. Yang menjadi penentu adalah bagaimana cara kami menyalurkan hasrat kami.. Kami tentu saja suka seks, menikmati seks, tapi dengan pasangan kami, dengan cara yang bertanggung jawab.. Seks merupakan rahmat Tuhan, tapi nikmatilah secara bertanggung jawab.. Jika kami memang maniak seks yang suka meniduri semua makhluk yang berkaki dua, tentu saja kami dengan senang hati mendukung seks bebas.. Itu berarti kami makin bebas meniduri berbagai macam wanita tanpa harus pusing mikirin pampers dan susu, karena, dengan menyebarnya paham seks bebas, makin banyak wanita yang bersedia kami manfaatkan (dan kami tiduri), kemudian kami tinggalkan setelah puas..

Otak kami yang kotor? Ayolah, jika saja para lelaki diciptakan tanpa nafsu, maka sudah lama manusia punah.. Sudah kodratnya laki-laki akan tergerak nafsunya jika melihat paha wanita.. Jika ada lelaki yang dengan gagah berani bilang tidak tergerak nafsunya saat melihat paha wanita cantik, itu hanya omong kosong agar semakin banyak wanita yang memamerkan pahanya dengan senang hati.. Rok mini, memang diciptakan untuk memancing perhatian (dan nafsu) para lelaki.. Jika kami memang berfikiran kotor dan tak bisa menahan iman, tentu kami akan turun ke jalan untuk mendukung semua wanita memakai rok mini.. Makin banyak wanita yang bisa memuaskan nafsu kotor kami.. Jadi, siapakah yang berfikiran kotor dan tidak bisa menahan iman? Para lelaki yang menentang rok mini, atau pendukungnya? Para penentang seks bebas, atau pendukungnya?

Propaganda, seringkali seperti pelacur, menggunakan riasan tebal dan indah untuk menutupi kebusukan di baliknya..

Saya pernah tinggal di kos-kosan di Yogya, yang anak-anaknya terdiri dari berbagai macam aliran: agnostik, atheis, kejawen, liberal, penyembah keris, bahkan ada begitu bingung, sehingga akhirnya mengaku sebagai komunis relijius…

Dengan beragamnya fikiran yang pernah kami perdebatkan, diiringi menyeruput kopi dan menghisap rokok, fikiran saya dijejali dengan berbagai macam aliran lengkap dengan argumen yang luar biasa indah.. Mungkin itu yang membuat saya jadi terlatih mengasah logika, sambil garuk-garuk kepala, dan selalu mencoba melihat jauh ke balik kata-kata nan indah itu.. Nih, kata-kata bijak yang lagi trend saat ini:

“Lady Gaga koq diributin.. Apa bedanya dengan yang sudah ada di Indonesia? Penyanyi Indonesia juga banyak tuh yang seronok. Tuh penyanyi dangdut seronok masuk sampai ke kampung-kampung, ditonton anak-anak. Jika mau adil, yang seperti itu juga dilarang dong..”

Lha para pendukung kebebasan itu memangnya selama ini mendukung pelarangan pornografi sampai ke kampung-kampung? Dulu saat Inul banyak yang menentang, kaum liberalis juga menggunakan dalil yang sama: ‘yang lain juga dilarang doong’. Protes soal chef Sarah Quin (betul ga ya namanya?), juga ditentang dengan alasan: ‘dia ga sengaja tampil seronok koq’. Jika tempat-tempat maksiat digerebek, katanya menghalangi orang cari nafkah. Jika penyanyi dangdut seronok itu diprotes masyarakat sekitar, dijawab: urus dosa masing-masing, kalau ga suka ya ga usah nonton.. Bahkan di saat semua itu berusaha dikurangi dengan UU Anti Pornografi dan Pornoaksi, banyak yang menjerit-jerit: “jangan memasung kebebasan berekspresi!” Intinya kan sebenarnya: “Jangan larang kami melakukan pornografi dan pornoaksi, di tingkat manapun! Mau kami menari bugil sambil mutar-mutarin baju di atas kepala di genteng rumah kami, yo jangan protes!” Jadi, kenapa membanding-bandingkan Lady Gaga ama Keyboard Mak Lampir? (julukan para pedangdut seronok di daerah kami..). Toh dua-duanya sebenarnya kalian dukung, atas nama kebebasan berekspresi? Kami, malah sedang berusaha menentang dua-duanya..

“Kita hidup dlm masyarakat yg sangat plural, sehingga setiap individu hendaknya bebas memilih & menjalankan apapun prinsip hidupnya (termasuk mendukung Irshad Manji atau Lady Gaga), lalu semuanya saling menghormati dlm segala perbedaan pilihan tsb”

Hmm.. Bijak dalam teori, kacau balau dalam praktek. Jika saja semua individu bebas menjalankan prinsip hidupnya, maka kita ga perlu nunggu suku Maya meramalkan akhir dunia. Bisa dibayangkan, jika banyak orang yang mendukung Sumanto, lalu menjalankan prinsip hidupnya sebagai kanibal, maka ayam goreng Kentucky ga bakal laris lagi, dan banyak orang yang nenteng-nenteng pisau daging dan botol merica di jalanan.. Atau, jika banyak orang yang mendukung Amrozi, kemudian menjalankan prinsip hidupnya sebagai pelaku bom bunuh diri, maka terminal bus way yang paling sesak pun akan bubar dalam 5 detik (termasuk penjaga tiketnya) begitu ada lelaki menyandang ransel datang mendekat..

Ya, ya saya tahu.. Argumen saya di atas pasti akan berusaha dimentahkan dengan argumen: “yang penting kan ga merugikan kalian” dalam bentuk kata-kata bijak nan koplak berikut:

“Apa salahnya dengan pornografi? Atau lesbi? Atau perbuatan-perbuatan maksiat lainnya? Toh ga merugikan anda. Jika anda tidak suka, ya ga usah ditonton, ga usah diikuti. Jika takut anak anda terpengaruh, ya perkuat pendidikan iman anak-anak anda. Kalau iman sudah kuat, mau 1000 Lady Gaga datang ke Indonesia, iman kita (dan anak-anak kita) tidak akan terpengaruh..”

Hellooo.. Kita memang makhluk individu, tapi kita juga makhluk sosial. Setiap tindakan kita, sekecil apapun, akan berpengaruh terhadap lingkungan kita. Contoh gampangnya, kenapa kita protes sama tetangga kita yang buang sampah ke kali? “Toh sampahnya sampah dia sendiri (ya mana mungkin dia dengan ikhlas buangin sampahnya ente), kalinya bukan milik mbahmu, lantas kenapa ente yang sewot?” Lha memangnya kalo banjir, banjirnya muter-muter dulu cari siapa bajingan yang membuang sampah, lalu terus menyerbu menggenangi rumah tetangga anda saja sampai setinggi kepala?

Ok kita tidak suka perbuatan-perbuatan maksiat, dan kita berhasil menghindarinya. Lalu kita juga menanamkan iman yang kuat ke anak-anak kita, dan juga berhasil. Dan kita teriak ke luar sana: “Maree seneee Lady Gaga, Freddy Mercury, Jhon Kei dan Mak Lampir jadi satu!! Iman saya dan keluarga saya dah kuat koq!” Tapi sekian tahun ke depan, tiba-tiba ada anak tetangga kita yang kecanduan pornografi, lalu tidak tahan, dan akhirnya memperkosa anak perempuan kita.. Atau ada orang yang mabuk karena alkohol dan narkoba, lalu menabrak seluruh keluarga kita yang sedang jalan-jalan di trotoar.. Atau anak perempuan kita hilang, diculik sindikat yang menjualnya ke prostitusi.. Atau anak lelaki anda disodomi keluarga jauh anda.. Atau seorang pecandu merampok dan membunuh anda karena butuh uang untuk beli sabu.. Sama seperti banjir, ekses negatif dari perbuatan maksiat, tidak akan pernah pilih-pilih siapa korbannya, baik anda berbuat maksiat atau tidak..

Benar, bahwa kita tidak salah 100%, tapi, sebenarnya, kita tetap punya andil dalam hal itu. Kita sukses memperkuat iman keluarga kita, tapi kita abai dengan lingkungan kita. Itulah kenapa dalam Islam ada seruan: “amar makruf, nahi munkar”. Menyeru kepada kebajikan, mencegah kemungkaran. Jika kita mengabaikan kemunkaran di lingkungan kita, dengan prinsip: “urus dosa masing-masing”, yakinlah, cepat atau lambat, kita akan memetik hasilnya…

Masih enggan untuk amar makruf nahi munkar?

“Beri saya 10 media massa, maka saya akan merubah dunia..”

Saat ini, sungguh naif jika kita percaya media mainstream akan memberikan opini yang netral dan berimbang terhadap semua hal. Mereka akan memberikan opini yang sesuai dengan kepentingan sang pemilik (gimana kalo pemiliknya adalah Ryan Jagal?). Sungguh sangat berbahaya jika kita menganggap semua yang diberitakan media adalah berita yang 100% benar, tanpa berusaha mengkritisi dan mencari berita dari sudut pandang lain sebagai penyeimbang. Yuk, kita kritisi kata-kata bijak penutup ini.

“Menonton atau membaca pornografi, kekerasan, atau apapun tidak akan mempengaruhi saya. Toh semua manusia dibekali filter untuk menyaring, dan otak untuk berfikir. Jadi mau saya baca atau tonton ribuan kali pun , tidak akan merubah pendirian saya.. Satu kali nonton konser lady Gaga tidak akan membuat yg nonton jd pemuja setan dan lesbian kan?”

Hohohoho.. Yuk kita bandingkan keadaan sekarang dan keadaan 20 tahun yang lalu, tahun 80-90an. Zaman dulu, seks bebas di Indonesia masih sangat sedikit jumlahnya. Untuk kaum remaja saat itu, bergandengan tangan di depan umum saja, sudah menimbulkan ledekan yang membuat sang pelaku ingin menceburkan diri ke selokan terdekat. Lihat anak-anak sekarang? Mungkin anda sendiri yang dengan sukarela akan menceburkan diri ke selokan terdekat saat melihat gaya mereka berpacaran. Bahkan sekarang mereka dengan senang hati menyebarkan prilaku mereka dalam bentuk video yang jumlahnya mulai menyaingi produksi film porno Amerika dalam setahun.. Kenapa bisa bergeser? Apa anda kira para orang tua dan guru lah yang menanamkan dogma: “Anakku, kamu harus rajin-rajin seks bebas yaa, biar dapat rangking.. Yuk kita memasyarakatkan seks bebas dan menseks bebaskan masyarakat..”?

Jadi, siapa yang mengajari mereka? Jawabannya sederhana: media massa. Selama berpuluh-puluh tahun mereka menggempur otak bawah sadar kita dengan berbagai film, buku, berita, cerita, sinetron, dan lain-lain yang secara sangat halus menyiratkan: “Seks bebas itu hal yang biasa aja cooy.. Anak gaul, malu dong jika masih perawan di usia 18. Tuh, banyak artis idola kamu yang melakukannya.” Memang benar 1000 kali membaca, atau 1x nonton Lady Gaga belum tentu merubah kita.. Tapi, pesan-pesan itu ditanamkan selama berpuluh-puluh tahun, dalam bentuk jutaan pesan per tahun, dari berbagai arah, terhadap anda dan keluarga anda. Yakin anda dan keluarga anda tidak terpengaruh sedikitpun?

Siapa yang paling mudah bobol? Tentu saja anak anda. Anda kira, kenapa iklan McDonald dan rokok mengarah kepada anak-anak dan remaja? Karena merekalah berada dalam fase yang labil dan paling mudah dipengaruhi, dibandingkan orang tuanya. Saat mereka menjadi dewasa dan lebih bijaksana, rokok, junkfood dan seks bebas itu sudah menjadi kebiasaan mereka, candu mereka, sehingga mereka akan sangat sulit meninggalkannya, walau akhirnya paham kerusakan macam apa yang ada dibaliknya.

“Tetap ngga ngaruh maaas, iman gue kan KW1″ Mungkin. Tapi, sedikit banyak, anda akan terpengaruh. Anda akan menjadi permisif: “Biar ajalah orang lain melakukannya, yang penting aku tidak.. Toh banyak yang melakukan, dan itu bukan urusanku”. Itulah yang menjadi target selanjutnya: menanggalkan kontrol sosial anda.. Jika laju ‘cuci otak’ ini terus berlanjut, sepuluh tahun ke depan, jangan heran jika akhirnya kitalah yang mengekspor video porno ke Amerika dan masyarakat Amerika lah yang nonton konser Iwak Peyek Tour 2022.

“Jangan melihat siapa yang mengatakan dong. Kalau mau mengkritisi, kritisi gagasannya, kata-katanya, fikirannya. Jangan kritisi pribadi dan kelakuannya (bahasa alaynya: ad hominem).”

Oalaaah.. Saya beri contoh kasus ringan. Misalnya, kata-kata ini diucapkan dua orang yang berbeda: “Saya akan memajukan bangsa Indonesia. Saya akan berjuang menciptakan budaya bebas korupsi, pola hidup sederhana, dan mengikis habis kebohongan birokrat dan legislatif” Yang pertama, diucapkan oleh Buya Hamka. Satu lagi, diucapkan Angelina Sondakh. Saya rasa, yang pertama membuat anda manggut-manggut percaya, dan yang kedua membuat anda setengah mati menggigit bibir, lalu terguling karena tertawa terbahak-bahak.. Kenapa kata-kata yang sama persis, dengan nada sama persis, tapi diucapkan oleh dua orang yang berbeda, hasilnya bisa berbeda? Setiap kata-kata, sebijak apapun, selalu ada motif dibaliknya. Dan motif itu, sangat terkait dengan pribadi orang yang mengucapkannya. Jadi, kenapa kita tidak boleh mengkritisi pribadi yang mengucapkannya?

Jika anda ingin minta pendapat tentang gaya rambut, anda bertanya kepada penata rambut, atau ke tukang las? Jika saya bilang “lha masa tukang las mengerti soal gaya rambut”, apa itu ad hominem?

Kasus Irshad Manji adalah contoh lain yang gamblang tentang hal itu. Dia dibesar-besarkan media sebagai seorang reformis muslim yang berusaha mencerahkan umat Islam. Tapi di dalam bukunya, ia membantah prinsip-prinsip Islam sendiri dengan cara mempromosikan lesbian, gay dan transgender, menghina jilbab, bahkan meragukan kesempurnaan Al Quran.. Jika kita mengkritisi pribadinya yang lesbian (dan tentu saja ia akan berjuang keras agar lesbian dihalalkan dalam Islam) dan mengkritisi sikapnya yang meragukan Al Quran, di mana salahnya? Bukankah kita memang selalu menilai siapa yang berbicara, bukan hanya apa yang ia ucapkan? Bagaimana mungkin dia seorang muslim, jika ia meragukan Al Quran? Itu kan sama saja dgn ia mengaku lesbian, sambil menyatakan lagi jatuh cinta dgn Rhoma Irama.. Lha kenapa jika kami meragukan keislamannya, tiba-tiba muncul teriak-teriak histeris “Ad hominem! Ad hominem!?”

Nah, kata bijak terakhir ini, mungkin adalah yang paling masuk akal, dan paling sulit dibantah. Tapi mungkin juga, inilah kata-kata bijak yang paling koplak..

“Di masyarakat yang plural ini, janganlah ada pemaksaan kehendak. Biarlah setiap orang melakukan pilihannya sendiri, tanpa paksaan. Sesuatu yang dipaksa itu pasti tidak baik. Nilai yang dianut setiap orang berbeda, jadi jangan paksakan nilai yang kamu anut terhadap orang lain.. Jangan jadi tirani mayoritas..”

Sulit membantahnya kan?

Pertama-tama, saya tanya dulu: apakah sebagian besar dari kita memang dengan sukarela masuk kerja jam 8 dan pulang jam 5 atau bahkan lembur? Apakah memang kita yang memohon-mohon agar jatah cuti kita setahun cukup dua minggu? Apa anda memang luar biasa ikhlas dengan jumlah gaji anda sekarang? Jika tidak, kenapa anda tidak coba mengatakan kepada atasan anda sekarang:”Maaf pak, sebenarnya saya menganut paham bahwa kerja itu hanya 3 jam sehari, cuti 6 bulan dalam setahun, dengan gaji minimal 30 juta. Jadi, jangan paksakan kehendak bapak..”

Apa anda dulu saat remaja belajar dengan sukarela, ikhlas bin legowo?

Semua hukum dan undang-undang, apalagi dalam alam demokrasi, pada prinsipnya, adalah pemaksaan kehendak, dari sebagian besar masyarakat yang sepakat, kepada masyarakat lainnya yang tidak sepakat. Memangnya semua orang setuju dengan UU tentang Narkotika? Atau UU tentang Korupsi? Atau bahkan UU Pajak? Apa anda kira semua wajib pajak memang sudah gatal setengah mati ingin membayar pajak sebesar itu? Lha kenapa kaum liberal ga pernah menjerit-jerit di jalanan: “Jangan paksakan kehendak! Biarkan mereka bayar pajak seikhlasnya..”

Jadi kenapa, saat ada penduduk di suatu daerah setuju untuk memberlakukan perda anti prostitusi, perjudian dan miras, dengan hukuman cambuk bagi pelakunya, kaum liberal tiba-tiba lantang berteriak “Itu melanggar HAM!”. Anda kira memenjarakan orang itu tidak melanggar HAM nya untuk hidup bebas merdeka? Dan kenapa, ketika RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi berusaha disahkan, tiba-tiba saja prinsip demokrasi berdasar suara terbanyak dianggap sebagai tirani mayoritas? Jika memang begitu, ga ada salahnya dong jika para pecandu narkoba dan miras ramai-ramai naik xenia untuk demo di jalanan dan berteriak “Jangan jadi tirani mayoritas! Kalian sudah melanggar HAM kami untuk ajeb-ajeb sampai pagi..”.

Jika saja setiap undang-undang harus disepakati semua orang dulu baru bisa disahkan, maka kita tidak akan pernah punya undang-undang satu pun. Yang tidak boleh, adalah memaksa dengan kekerasan. Jika sudah banyak yang setuju, dan memang UU itu demi kebaikan bersama (sama seperti kita dipaksa belajar saat remaja), di mana salahnya?

Penutup

Jujur, saya tidak membenci orang-orang liberal. Beberapa teman-teman dekat saya adalah orang liberal. Dan saya tahu, beberapa dari mereka, memang yakin bahwa yang mereka perjuangkan adalah demi kebaikan bangsa.. Tapi, banyak juga di antara mereka yang hanya ingin menciptakan lingkungan yang tepat, untuk melampiaskan nafsu mereka..

Tapi, saya koq sama sekali tidak sreg melihat arah menuju kebebasan yang mulai sangat kebablasan ini. Lihat generasi muda kita. Terus terang, jika melihat gang motor melintas yang membuat saya ngeri, video porno remaja yang terbit seminggu sekali, anak-anak SD di warnet yang saling memaki sambil mendownload lagu “selinting ganja di tangaaan…”, remaja yang membentak ibunya, siswa SMP menjual diri demi beli handphone, dan penjual narkoba yang jauh lebih banyak daripada indomaret, saya kadang-kadang pingin kemas-kemas dan pesan tiket ojek sekali jalan ke Timbuktu. Bukan ini lingkungan yang saya bayangkan bagi saya dan anak-anak saya kelak.. Dan saya bisa bayangkan masa depan negara kita jika para remaja yang seperti ini yang menjadi para pemimpin kita kelak..

Lantas apa yang bisa kita lakukan? Mengharapkan media mainstream untuk mendidik remaja kita, sama saja seperti mengharapkan Lady Gaga mengisi kuliah subuh. Mereka lah yang menolak paling keras dan berjuang menggiring opini masyarakat setiap kali kita ingin negara mengendalikan mereka. Kadang-kadang, saya merasa, mereka lah yang menjadi lembaga superbody. Dan ingatlah: para wartawan media, adalah karyawan, yang tunduk pada kehendak majikan mereka.

Jurnalisme warga seperti kompasiana, forum-forum seperti kaskus, blog-blog, dan media-media online lainnya, mungkin itulah satu-satunya harapan kita di masa depan. Sulit melawan media mainstream? Jelas, jika dilakukan sendirian. Tapi, saya yakin, banyak orang-orang yang memiliki nurani di luar sana yang, saya harap, bersedia menyeimbangkan dan memulihkan cuci otak masyarakat dari pengaruh yang telah media massa berikan. Ingatlah, revolusi raksasa yang merubah bangsa Arab sudah membuktikan, bahwa kekuatan jurnalisme warga yang bersatu bahkan mampu menumbangkan para pemimpin yang didukung salah satu negara terkuat di dunia. Demi hidup kita, dan hidup anak-anak kita, apa itu bukan sesuatu yang pantas diperjuangkan?

“Orang-orang yang mencari kebenaran itu, seperti air. Jika dihadang, ia berbelok. Dibendung, ia akan merembes. Bahkan jika dibendung dengan menggunakan beton dalam bendungan raksasa, ia akan menguap.. Ia tidak akan pernah lelah mencari jalannya…”

Al Qur’an vs Akal


dakwatuna.com – Pernahkah kita mendengar tentang pendapat yang mengatakan bahwa kita tidak boleh menggunakan akal kita untuk memahami agama kita? Pernah pula-kah kita mendengar tentang pendapat yang mengatakan bahwa kita tidak boleh menggunakan akal kita untuk memahami Al-Qur’an?

Pendapat-pendapat ini, mungkin didasari pada argumentasi yang pada awalnya benar, yaitu untuk mencegah agar kita tidak terlalu liar dalam menafsirkan Al-Qur’an. Tapi lama kelamaan pendapat ini berkembang menjadi pendapat yang tidak bisa dibenarkan. Dengan adanya pendapat seperti ini, akhirnya muncullah generasi yang tidak mau membuka Al-Qur’an, lalu malah sibuk dengan hal-hal yang tidak ada di dalam Al-Qur’an, seperti fatwa-fatwa ulama atau pertentangan-pertentangan fiqih, atau mungkin pula tema-tema lain yang tidak ada di dalam Al-Qur’an, misalnya tema bid’ah.

Pernahkah kita melihat orang yang sibuk membahas masalah bid’ah, atau membahas fatwa-fatwa dari ulama tertentu, atau sibuk membahas perbedaan tata cara ibadah dan menyalahkan orang yang berbeda tata cara ibadahnya? Kalau kita sudah pernah melihat orang yang seperti ini, mari kita renungkan, mengapa mereka bisa menjadi seperti itu?

Salah satu sebab mengapa mereka bisa menjadi seperti itu adalah, karena dalam kajian-kajian yang ada, yang dijadikan sebagai tema utama adalah fatwa-fatwa ulama, atau maksimal sekali, hadits-hadits nabi.

Apakah hal ini salah? Tentu saja tidak, karena kita jelas butuh hadits nabi dan fatwa ulama sebagai pelengkap pemahaman kita. Tapi hal ini bisa menjadi salah manakala Al-Qur’annya justru malah ditinggalkan.

Inilah yang terjadi di kalangan kita saat ini. Banyak anak muda yang dijejali dengan fatwa-fatwa ulama tentang suatu hal, misalnya tentang bid’ah, tentang isbal, tentang haramnya politik, tentang haramnya musik dan lainnya, padahal tentang hal ini bisa jadi ada perbedaan pendapat di kalangan ulama, dan di saat yang sama anak-anak muda itu tidak diajari untuk menghafal Al-Qur’an, tidak diajari untuk memahaminya, dan tidak diajari pula untuk mengamalkannya.

Mengapa sampai bisa begini?

Salah satu penyebabnya adalah karena ada sudut pandang, yang meskipun mungkin tidak akan diakui, tapi jelas-jelas terlihat, yang seolah-olah mengatakan bahwa diri kita ini terlalu kotor untuk bisa memahami Al-Qur’an. Atau, kita ini bodoh dan tidak pantas membaca Al-Qur’an langsung. Atau, kalau kita ini membaca Al-Qur’an langsung, maka besar kemungkinan kita akan salah dalam memahaminya, jadi bahaya, dan lebih baik tidak membaca Al-Qur’an. Atau, kita ini wajib harus menggunakan tafsir untuk memahami Al-Qur’an, padahal kitab tafsir itu rata-rata tebal-tebal, dan mayoritas kita malah jarang ada yang punya.

Dengan adanya sudut pandang seperti ini, akhirnya lahirlah sudut pandang lain, yaitu sudut pandang yang mengatakan bahwa kita tidak boleh menggunakan akal kita dalam memahami Al-Qur’an. Padahal pada kenyataannya, tidak semua ayat Al-Qur’an butuh penafsiran yang rumit, malah sebagian besar ayat Al-Qur’an adalah ayat-ayat yang tidak butuh penafsiran sama sekali (mudah dipahami). Sayangnya, sudut pandang ini lalu benar-benar digunakan sebagai argumentasi yang pada akhirnya malah menjauhkan manusia dari Al-Qur’an. Alasannya, akal kita tidak akan mampu memahami Al-Qur’an. Atau, akal kita tidak akan mampu memahami Al-Qur’an kalau tidak disertai dengan kitab tafsir yang tebal-tebal, atau lainnya. Pada akhirnya, karena tema Al-Qur’an adalah tema yang dirasa “terlalu berat” bagi akal sebagian umat manusia, maka, tema yang diambil dalam kajian-kajian akhirnya adalah tema yang benar-benar tidak mengacu pada Al-Qur’an lagi. Jadi, muncullah hal-hal yang saat ini mungkin sudah ada banyak di keliling kita, yaitu kajian-kajian yang tidak pernah menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai tema utama, lalu lebih memilih untuk membahas pendapat-pendapat ulama tertentu atau membahas tema-tema tertentu yang tidak ada di dalam Al-Qur’an, misalnya tema bid’ah. Alasannya bisa jadi banyak, di antaranya mungkin adalah keterbatasan ilmu si nara sumber itu sendiri. Tapi alasan lainnya adalah, karena adanya sudut pandang bahwa akal kita tidak akan mampu dan tidak boleh digunakan untuk memahami Al-Qur’an ini.

Yang paling ironis adalah, pada beberapa kajian tertentu, kadang-kadang secara vulgar malah disebutkan dan diajarkan bahwa akal kita adalah racun dalam memahami agama kita ini. Jadi, akal kita harus dikunci mati. Kita harus menerima semua apa kata ustadz apa adanya, lengkap dengan dalil-dalil yang tidak boleh diutak-atik lagi, dan semua itu harus kita telan ke dalam otak kita meskipun kita sendiri tidak memahaminya. Inilah awal dari sebuah doktrin. Dan dengan doktrin seperti ini, akhirnya lahirlah generasi yang menganggap hanya ucapan ustadz-nya saja-lah yang benar, hanya pendapat ulama-nya saja-lah yang benar, lalu sibuk membid’ahkan kelompok yang berbeda pendapat, dan kalau mereka dibantah dengan dalil yang berbeda, mereka akan membantah pula dengan ucapan:

“Ikutilah pendapat ulama kami, jangan ikuti akal-mu, karena akal adalah racun!”.

Ini adalah satu contoh hasil doktrinasi yang pada awalnya dimulai dari sudut pandang yang sederhana, yaitu: Akal kita ini kotor!

Akal menurut Al-Qur’an

Lalu, bagaimana sebenarnya posisi akal kita menurut Al-Qur’an?
Mari kita lihat sendiri bagaimana Al-Qur’an menilai akal kita, misalnya dari ayat-ayat di bawah ini.

1. Orang-orang kafir adalah orang-orang yang tidak mau menggunakan akal mereka.

“Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal.” (QS. Al-Maa’idah, surat 5, ayat 58)

2. Kita diperintahkan untuk menggunakan akal kita dalam merenungi kondisi orang yang sudah tua.

“Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian(nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan?“ (QS. Yaasiin, surat 36, ayat 68)

3. Nabi Musa meminta Fir’aun untuk menggunakan akalnya.

Musa berkata: “Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal.” (QS. Asy-Syu’araa’, surat 26, ayat 28)

4. Allah memerintahkan kita untuk menggunakan akal kita dalam merenungi tanda-tanda kebesaran Allah.

“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Ra’d, surat 13, ayat 4)

5. Allah memerintahkan kita untuk menggunakan akal kita dalam memahami Al-Qur’an.

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf, surat 12, ayat 2)

“Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya).” (QS. Az-Zukhruf, surat 43, ayat 3)

6. Orang yang tidak mau menggunakan akal mereka untuk memahami peringatan yang ada, maka mereka akan masuk ke dalam neraka.

Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Mulk, surat 67, ayat 10)

Dari beberapa ayat di atas, jelas sekali terlihat bahwa sebenarnya akal kita ini adalah satu hal yang positif. Dan kita wajib menggunakan akal kita untuk memahami agama kita ini, termasuk di dalamnya adalah untuk memahami Al-Qur’an. Tentu saja, “mengakali Al-Qur’an” seperti yang dilakukan oleh kelompok Liberal adalah satu hal yang dilarang. Tapi menggunakan akal kita secara wajar untuk memahami agama kita dan memahami Al-Qur’an adalah suatu keharusan.

Jadi, kalau kita masih menjumpai ada orang-orang yang malah melarang kita untuk menggunakan akal kita dalam memahami agama kita ini, mari kita sodorkan ayat-ayat di atas, dan mari kita tanya apa pendapat mereka tentang ayat-ayat tsb.

Akhir kata, sudut pandang yang mengatakan bahwa “akal kita kotor” adalah sudut pandang yang tidak bisa dibenarkan. Dan dari sudut pandang ini, akhirnya muncullah generasi yang tidak mau mempelajari Al-Qur’an, dan malah sibuk mempelajari hal-hal lain yang tidak ada di dalam Al-Qur’an, misalnya tentang bid’ah, yang akhirnya mengakibatkan terjadinya pertentangan di mana-mana, lalu mereka juga pasti akan bersikap “mau menang sendiri” dalam berdebat, karena dari awal udah didoktrin untuk mematikan akal mereka. Jadi, mari kita gunakan akal kita untuk memahami Al-Qur’an dalam batasan yang wajar, tanpa perlu sibuk menafsirkan ayat-ayat yang kita memang tidak bisa memahaminya secara langsung. Jangan ikuti pendapat yang mengatakan bahwa akal kita tidak boleh kita gunakan untuk memahami Al-Qur’an, karena justru ayat Al-Qur’an sendiri-lah yang memerintahkan kita untuk menggunakan akal kita agar bisa memahami ayat-ayat tersebut. Dan jangan pula kita mengikuti pendapat yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu terlalu sulit bagi akal kita, karena Allah sendiri sudah jelas-jelas menyebutkan bahwa Allah sudah membuat Al-Qur’an ini mudah, agar kita mampu mengambil pelajaran darinya.

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar, surat 54, ayat 17, 22, 32, 40)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/06/20949/al-quran-vs-akal/#ixzz1xAOGajUi

Solusi Dari Balik Gunung…


Oleh: Muhaimin Iqbal

KARENA dari kecil kita diajari ‘ayo menabung…’, maka dana yang sangat besar dari mayoritas umat ini terbesarnya adalah tersimpan di tabungan-tabungan dari berbagai bank. Tetapi apakah menabung ini memang langkah terbaik untuk meraih keberuntungan bagi masyarakat? Bukankan hasil tabungan rata-rata lebih rendah dari inflasi? Siapa pula yang menjamin bahwa uang Anda di tabungan tidak malah tersalurkan ke konglomerasi yang dengan jaringan retail-nya mengambil pasar rakyat kecil? Yang dengan bisnis property-nya menggusur tanah rakyat? Yang dengan mal-mal megahnya membuat hanya yang kaya yang bisa berdagang?

Dua kelemahan mendasar dari sistem tabungan ini yang seharusnya disadari oleh umat ini, kemudian dicari solusinya. Kelemahan pertama adalah rendahnya hasil, yaitu lebih rendah dari rata-rata inflasi terutama inflasi kebutuhan pokok seperti makanan.

Kedua para penabung benar-benar tidak tahu siapa yang akhirnya akan menggunakan uang tabungan mereka ini. Bank-lah yang memutuskan kemana uang tabungan tersebut akan mengalir, dan tidak ada jaminan bahwa uang tabungan tersebut tidak mengalir ke kelompok pengusaha hitam seperti tersebut di atas.

Lantas apakah ada solusinya? Tergantung seberapa kuat niat kita untuk mencari solusi tersebut. Meskipun solusi itu ada di depan mata bila kita tidak berniat menggunakannya ya tidak menjadi solusi. Sebaliknya solusi yang masih berada ‘di balik gunung’ sekalipun – kita akan bersedia menaiki gunung menuruni lembah untuk memperolehnya bila kita bener-bener menginginkannya.

Untuk mudahnya dipahami, saya akan berikan dua contoh solusi tersebut yaitu yang sudah di depan mata dan yang masih ‘dibalik gunung’.

Yang di depan mata adalah saudara-saudara atau teman-teman Anda yang punya potensi berdagang atau berusaha, tetapi hanya karena tidak ada modal mereka tidak dapat berusaha. Bila Anda memiliki uang yang lebih, mengapa tidak dipakai untuk memodali mereka? Pertama menambah silaturahim dan kedua juga insyaallah akan dapat memberikan hasil yang lebih baik dari tabungan Anda di bank.

Ok, Anda tidak mau memodali saudara atau teman ini karena ada rasa rikuh menagihnya, takut tidak amanah, takut tidak professional dlsb.dlsb, jadi solusi di depan mata ini tidak Anda gunakan. Maka kita cari solusi yang masih berada ‘di balik gunung’.

Surat yang terpanjang dalam Al-Qur’an adalah surat yang mengamanatkan pentingnya pencatatan dalam hutang-piutang/muamalah yang tidak tunai (QS 2 : 282), dan saya akan menggunakan ayat ini sebagai solusi atas permasalahan tabungan tersebut di atas.

Banyak sekali dari umat ini yang sebenarnya pandai berdagang, pandai berusaha dlsb. Keterbatasan akses modal, akses informasi, akses jaringan dlsb. yang membuatnya banyak yang tidak berkembang. Nah bagaimana kalau profile para pedagang/pengusaha tersebut tersaji dengan baik dan available untuk Anda, maukah Anda membiayai atau berinvestasi pada usaha/perdagangan mereka? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Mungkin iya-nya karena Anda akan melihat potensi bagi hasilnya yang melebihi hasil tabungan Anda, mungkin tidak-nya karena Anda kawatir atas amanah tidaknya, professional tidaknya, kejujuran pembukuannya dlsb.dlsb.

Bagaimana kalau faktor negatif yang membuat Anda ‘mungkin tidak’ mau berinvestasi ke para pedagang dan pengusaha tersebut bisa kita atasi bareng? Maukah Anda berinvestasi kepada mereka? Seharusnya mau karena tidak ada lagi alasan yang menghalanginya.

Bagaimana mengatasi faktor negatif tersebut? Kita gunakan bank (syariah) untuk bertugas sebagai pencatat jaman ini yang diamanatkan dalam ayat tersebut diatas. Mengapa bank?

Pertama karena mereka yang sudah memiliki sistem pencatatan yang baik untuk transaksi keuangan ini, kedua, merekalah yang secara legal formal diijinkan untuk mengumpulkan uang masyarakat di negeri ini, ketiga karena toh selama ini Anda juga sudah mempercayai bank untuk menyimpan dan mencatat uang Anda.

Bedanya dengan tabungan adalah kali ini Anda yang menentukan siapa-siapa yang boleh menggunakan uang Anda – dan Anda berinvestasi langsung pada mereka, bank sekedar mencatatnya.

Sebagai tukang catat atau juru tulis, dimanatkan pula dalam ayat tersebut bank harus ‘…menuliskannya dengan benar…’. Jadi meskipun hanya sekedar ‘tukang catat atau juru tulis’, bank wajib mengetahui seluk-beluk usaha yang Anda danai, kredibilitas orangnya, kelayakan usahanya, kewajaran hasilnya dlsb-dlsb.

Bila bank tidak yakin mengenai hal ini, tentu mereka tidak mau menuliskannya – inilah yang akan ikut menjadi faktor pengaman investasi langsung Anda.

Jadi kalau solusi ini digunakan, nantinya di bank-bank syariah ada semacam daftar pengusaha Muslim yang layak untuk Anda danai, lengkap dengan profile usaha masing-masing. Ketika Anda menaruh uang Anda di bank syariah tersebut, Anda tinggal pilih untuk siapa dana Anda boleh digunakan. Untuk mengurangi resiko, dana Anda bisa saja disebarkan ke sejumlah pengusaha yang Anda pilih sendiri dari daftar yang ada.

Lantas apa bedanya ini dengan investasi di pasar modal, bursa saham, reksa dana dan sejenisnya? Penentu nilai di bursa saham dan turunannya yang masih penuh gharar, tidak ada hujan – tidak ada angin bisa tiba-tiba nilai investasi Anda melorot gara-gara pemodal besar asing menarik dananya seperti yang terjadi hari-hari ini.

Anda tidak bisa investasi di bursa saham hanya karena melihat profile usaha tertentu bagus, terlalu banyak unknown factors yang bisa mendongkrak harganya atau juga sebaliknya menghancurkannya.

Sebaliknya solusi yang saya tawarkan insyaallah akan baik untuk semua. Anda memiliki kontrol langsung terhadap penggunaan uang Anda ke usaha-usaha yang Anda pilih, bank-bank syariah memiliki sumber dana yang tidak dimiliki pesaingnya bank konvensional, para pengusaha muslim yang amanah dan professional (qowiyyun amin) akan mudah untuk memperoleh pendanaannya.

Bahkan secara makro bila investasi semacam ini boleh dilakukan oleh para investor asing, maka dana investasi yang sesungguhnya (karena masuk sektor riil) akan dapat mengalir ke negeri ini. Sangat beda dengan invesatsi asing yang bersifat ‘hot money’ yang bila ditarik keluar tiba-tiba meruntuhkan pasar modal kita.

Tertarik? Apakah solusi ini sudah ada? Solusi ini memang sudah ada, tetapi masih berada di balik gunung – masih banyak kendalanya. Kita masih perlu menaiki gunung menuruni lembah untuk mengatasinya.

Bank-bank syariah sudah familiar dengan konsep ini dengan produk mereka yang disebut Mudharrabah Muqayyadah, mereka hanya perlu dipacu dan didorong untuk lebih proaktif dan lebih innovative dalam produk yang bagus ini. Para (calon) pengusaha muslim perlu didorong untuk lebih professional dan transparan dalam usahanya. Dan Anda para pemilik uang ‘tabungan’ perlu didorong untuk lebih berfihak terhadap solusi yang insyaallah lebih dekat ke syariah ini.

Bila Anda adalah para pengambil keputusan di bank syariah, bila Anda adalah para (calon) pengusaha Muslim dan bila Anda adalah bagian dari umat ini yang memiliki dana tabungan, insyaallah saya bersedia menaiki gunung menuruni lembah bersama Anda untuk merealisasikan solusi yang satu ini secara bersama-sama. Ada konsep detail di kami yang siap dipresentasikan ke pihak-pihak yang serius ingin mencari solusi sekaligus menangkap peluang yang sangat besar ini – khususnya bagi perbankan syariah. InsyaAllah!

Penulis Direktur Gerai Dinar, kolumnis hidayatullah.com

Berayah tapi tak berBapak


dakwatuna.com – Satu hari, di dua kota berbeda, dua wanita berhati mulia tak sanggup menahan tetes air mata setelah mendapat kabar dari putri tercintanya.

Wanita pertama adalah seorang ibu yang sudah memasuki usia senja. Yang kedua juga seorang ibu, namun belasan tahun lebih muda dari wanita pertama.

Bukan hanya usia dan tempat tinggal mereka yang beda, tapi makna dari tangisan merekapun jauh berbeda.

Wanita pertama tak sanggup menahan air mata bahagia setelah mendengar kabar dari putri bungsunya. Betapa tidak, setelah hampir sepuluh tahun menunggu, akhirnya ia akan segera menimang cucu. “Subhanallah wal hamdulillah. Terima kasih ya Allah, Engkau telah mengabulkan doa dan harapanku,” bergetar ia mengungkapkan kebahagiaan hatinya.

Berbeda dengan yang dialami wanita kedua. Berita yang sampai kepadanya sama dengan yang diterima oleh wanita pertama, tapi berbeda ceritanya. Air mata tiada henti mengalir dari kedua mata sayunya. Bagaimanalah tidak, ia akan mempunyai seorang cucu dari putri tunggalnya yang belum menikah. “Astaghfirulloh! Ampuni anakku ya Allah. Ampuni dia…,” gemetar ia menahan duka dan laranya. Hancur luluh hati dan juga harapannya.

Meski sang laki-laki bersedia bertanggungjawab, namun bukan sekedar itu yang jadi permasalahan. Meski nantinya mereka menikah, tidak lantas selesai semua persoalan. Bayi itu! Bayi yang tak berdosa itu itu akan terlahir sebagai anak yang ‘berayah tapi tak berbapak’.

Secara biologis, laki-laki itu memang ayahnya tapi secara syara’, ia bukan bapaknya. Bayi yang terlahir dari hasil zina tidak mempunyai hubungan nasab, waris, dan nafaqah dengan lelaki yang menyebabkan kelahirannya. Ia hanya mempunyai hubungan itu dengan ibunya dan juga keluarga ibunya.

Dan jika sang bayi nanti lahir berjenis kelamin perempuan, siapa yang akan menjadi wali bila kelak ia menikah? Laki-laki itu tiada sah menjadi wali nikah. Bagaimana menjelaskan padanya, mengapa wali hakim yang menikahkan sedangkan sang ayah masih hidup,sehat dan bahkan dekat di sampingnya. Bagaimana membuat ia mengerti tentang jati dirinya, masa lalu kedua orang tuanya? Haruskah ia berduka disaat yang seharusnya bahagia? Ia memang tak menanggung dosa perbuatan orang tuanya, tapi dia akan merasakan dampak buruk yang ditimbulkannya.

Hanya sebatas itu? Tidak! Kelak bila salah satu dari mereka ( anak atau ayah ) meninggal dunia, mereka tiada saling mewarisi. Bukan tak mendapatkan harta yang menjadi kekhawatiran, tapi bagaimana bila mereka memakan harta yang bukan menjadi haknya?

Dan bila teringat itu semua, semakin hancur luluh hati dan perasaannya. Entah berapa kali sudah wanita malang itu tak sadarkan diri.

Wahai diri, pikirlah seribu kali lagi, bahkan lebih dari itu sebelum bertindak. Manusia memang tiada lepas dari salah dan khilaf, tapi jangan jadikan keduanya sebagai alasan dan pembenaran terhadap setiap dosa yang dilakukan. Benar bahwa Allah Maha Pengampun. Sebesar dan sebanyak apapun dosa dilakukan, asal sungguh-sungguh bertaubat, insya Allah akan dimaafkan. Tapi apakah masih ada kesempatan, itu yang jadi permasalahan?!

Wahai diri, jagalah diri, hati dan terutama iman. Jangan teritpu oleh syetan yang menjerumuskan manusia dengan mengatasnamakan cinta, keindahan dan juga kenikmatan. Dari semua yang setan janjikan, tiada satupun mereka propagandakan kecuali agar manusia mau menemaninya di neraka.

Wahai diri, ingatlah tidak semua dosa akan terbalas di akhirat. Jangan jadikan syetan sebagai kawan, jangan dengarkan bujuk rayunya, jangan turuti tipu dayanya, atau akan kau rasakan betapa panas dan pedihnya siksa neraka, dan bahkan bukan tidak mungkin bila sudah harus kau terima dp nya di dunia.

Ya Allah, bimbinglah aku untuk mendekat pada segala sesuatu yang dapat mendekatkanku kepada Mu. Dan kuatkanlah aku untuk menjauh dari segala sesuatu yang dapat menjauhkanku dari Mu.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/05/20698/berayah-tapi-tak-berbapak/#ixzz1w7mx4vaA