Membaca Itu Bukan Hobi

dakwatuna.com – Ketika seseorang ditanya “Apa hobimu?” jawaban mereka akan bermacam-macam. Ada yang menjawab: “Hobi saya berenang, memancing, piknik/jalan-jalan dan lain-lain. Setiap orang memilih hobinya masing-masing, tak jarang hobi yang satu berbeda dengan yang lain. Termasuk kita juga mungkin pernah menemukan ada sebagian orang yang mempunyai hobi membaca.

Hal inilah yang membuat kami heran. Terheran bukan karena alangkah baiknya hobi itu, atau langka sekali orang yang mempunyai hobi seperti itu. Tapi apakah membaca menjadi sebuah hobi. Penulis tertarik dengan ulasan yang diberikan oleh DR. Rajib Al-Sirjany dalam bukunya Al Qira’ah manhajul hayah. Di sana beliau mengungkapkan dapatkah sebuah kegiatan membaca menjadi sebuah hobi. Dengan argumennya yang ringkas ia menjelaskan esensi membaca serta mengupas urgensi membaca dalam Islam dengan menyelipkan sedikit keadaan umat Islam belakangan ini.

Ketika seseorang berkata bahwa hobi saya adalah membaca, bukankah membaca sebuah kebutuhan hidup dan tidak hanya menjadi sebuah hobi. Bisakah seseorang mengatakan bahwa hobinya adalah minum air, contohnya. Bukankah setiap orang juga meminum air. Maka hal ini tidak dapat menjadi sebuah hobi, karena itu merupakan sebuah keniscayaan bukan sebuah hobi. Sama halnya juga ketika seseorang mengatakan: “Hobi saya adalah makan!” Kenapa demikian? Karena makan adalah suatu keniscayaan bukan sebuah hobi, maka setiap orang yang merasa lapar pasti akan makan, mungkin yang berbeda hanyalah macam makanannya, itu wajar-wajar saja. Tetapi ketika engkau dilarang untuk makan, tidur, dan bernafas maka ini dapat menyebabkan kematian, karena semua ini adalah kebutuhan hidup setiap orang. Dan menurut hemat kami, setiap orang haruslah membaca, bukan hanya membaca satu dua buku, sehari sebulan atau setahun saja, tapi membaca haruslah menjadi sebuah “metode hidup” .Janganlah hari-harimu berlalu begitu saja tanpa membaca, yang dimaksud membaca di sini bukan sekedar membaca tetapi membaca sesuatu yang menghasilkan manfaat, bacaan yang membangun bukan menjatuhkan, membawa perubahan bukan menghancurkan. Oleh karena itu membaca bukanlah sebuah hobi.

Sungguh tidak pantas lagi ketika kita mendengar seseorang berkata: “Saya tidak senang membaca, tidak biasa, atau cepat bosan membaca”. Karena hal ini sama seperti seorang berkata: “Saya bosan makan, maka saya tidak akan makan”. Ketika kita perhatikan sejarah Nabi, kita akan menemukan perhatian yang sangat besar terhadap kegiatan membaca. Maka tidaklah heran ketika membaca tidak hanya menjadi hobi tapi sudah menjadi sebuah metode hidup.

Sebagai contoh, Rasulullah SAW meminta pada tahanan musyrik yang ingin menebus dirinya untuk mengajarkan baca dan tulis kepada sepuluh orang Mukmin. Hal ini merupakan suatu yang aneh bukan. Karena kalau kita perhatikan keadaan umat Islam pasca perang Badr lebih membutuhkan harta, atau merawat para tahanan agar dapat memberikan tekanan pada kaum musyrikin atau mungkin dapat ditukar dengan tahanan umat Islam yang ada pada mereka. Tapi Rasul berfikir sesuatu yang lebih penting dari itu, yaitu bagaimana cara mengajarkan umat Islam agar dapat membaca. Apalagi waktu itu buta huruf masih meraja lela. Bukankah kebangkitan, kemajuan dan perkembangan suatu kaum tergantung pada kadar perhatian mereka terhadap baca tulis dan belajarnya kaum tersebut. Karena itu membaca sebuah kebutuhan yang sangat urgent.

Mari kita perhatikan wahyu pertama yang turun kepada Rasulullah SAW melalui Malaikat Jibril as Kalimat “Iqra”, bukankah ini mengundang sebuah perhatian tersendiri. Sebenarnya bisa saja wahyu itu dimulai dengan kata-kata lain, akan tetapi mengapa Al Quran yang diturunkan selama 23 tahun memulai dengan kata ini (Iqra’)? Lalu mengapa kata ini ditujukan pada Nabi bukankah beliau adalah seorang Ummi (tak dapat membaca dan menulis), padahal di sisi lain Beliau memiliki beribu-ribu keutamaan mulia dan perangai terpuji, dimana Al Quran bisa saja memulai dengan kelebihan dan keutamaan itu. Tetapi mengapa wahyu pertama malah memulai titahnya kepada kanjeng Rasul dengan perintah yang jelas, langsung, dan tercakup dalam sebuah kata yang mengandung sebuah metode hidup, membaca.

Keadaan Rasul yang tak tahu bagaimana cara dan apa yang dibaca ketika itu dengan jelas terlihat dari jawaban Beliau: “Ma ana bi qori‘ (Saya tak dapat membaca)”. Bukankah kalimat ini sudah cukup menjadi alasan agar Jibril memilih topik lain, atau menjelaskan maksud yang ia (Jibril) inginkan. Tapi Jibril malah mendekap Nabi dengan sangat keras kemudian ia memerintahkannya dengan perintah yang sama, Iqra‘.

Nabi sendiri tidak tahu apa yang ia inginkan, bahkan ia tak tahu siapa orang yang ada di hadapannya itu dan bagaimana ia bisa datang ke tempat itu. Kejadian ini pun berulang–ulang sampai tiga kali dan akhirnya Jibril melepaskannya seraya membacakan kelima ayat pertama surat Al-’Alaq. Semua kejadian ini sebelum Jibril menyatakan bahwa ia adalah Malaikat utusan Allah, Ia adalah Rasulullah, wahyu itu adalah Al Qur’an, dan agama baru ini adalah Islam. Sebelum adanya semua pernyataan ini ia menyuruh Nabi sebuah perintah yaitu membaca.

Tidakkah cukup hal itu menjadi sebuah bukti kepada Umat Islam akan pentingnya membaca!

Apakah masuk akal jika sebuah awal kata yang diturunkan dalam Al Qur’an merupakan sebuah hobi, yang disenangi sebagian orang dan dijauhi bahkan dibosani sebagian lainnya!

Al Quran terdiri lebih dari 1770 kata, tapi kata iqra (membaca) adalah kata pertama yang diturunkan dalam Al Quran. Ia juga mengandung ribuan kata perintah seperti Shalat (wa aqimus shalah), zakat (wa atuz zakah), jihad dan lain-lain, tapi kata perintah pertama adalah membaca (iqra). Bahkan tidak hanya berhenti di sini, kelima ayat pertama yang diturunkan seluruhnya juga berbicara tentang topik membaca. Kata iqra‘ juga disebut berulang-ulang sebanyak dua kali.

Lalu yang menjadi pertanyaan selanjutnya, mengapa kita harus membaca? apakah ia merupakan sebuah perantara atau tujuan?

Membaca adalah sebuah perantara, kita membaca untuk belajar. Hal ini telah Allah jelaskan pada kelima ayat surat Al-Alaq tadi, “Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. Peran membaca sebagai perantara untuk mencapai sebuah pengetahuan semakin terasa penting terlihat dari ayat di atas. Walau kita tahu bahwa pengetahuan adalah tujuan membaca tetapi Allah tidak memulai Al Quran dengan kata ta’allam (belajarlah) bahkan Ia malah memulai dengan kata iqra‘ (bacalah).

Memang banyak sarana untuk belajar seperti mendengar, melihat, mencari pengalaman, dan bereksperimen. Tapi sarana terbesar untuk belajar adalah membaca. Seakan-akan Allah mengajarkan kita bahwa sekalipun terdapat begitu banyak sarana belajar tapi kita tetap harus membaca. Dari sini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa membaca bukanlah sekedar hobi tapi ia merupakan sebuah metode hidup. Menengok sejenak keadaan umat Islam sekarang ini, kita temukan buta huruf masih merajalela. Sebuah keterpurukan pada umat Al Quran. Umat yang kata pertama dalam pegangan hidupnya adalah membaca. Sungguh amat berbanding terbalik dengan konsep yang diajarkan Islam.

Persentase buta huruf secara kesuluruhan (sama sekali tidak bisa baca atau menulis) pada bangsa Islam mencapai 37 %. Tapi dengan keadaan buta huruf yang sudah sangat kritis ini dunia Islam hanya menganggarkan kurang dari 4% dari income total mereka. Hal ini menunjukkan bahwa masalah ini tidaklah dianggap sebagai sebuah persoalan penting bagi mereka. Dan ini adalah sebuah problem besar yang membutuhkan perhatian lebih. Angka 37% itu hanya buta huruf yang terlihat jelas, belum terhitung buta huruf lainnya yang secara tidak langsung sudah tersebar pada Umat ini. Ternyata tingkatan “buta huruf” juga terdapat pada orang-orang yang dapat membaca dan menulis dengan baik, bahkan mereka pun telah menamatkan jenjang Perguruan Tinggi. Contohnya tak sedikit orang yang telah lama bergelut dalam baca dan tulis, tapi anehnya kadang mereka tidak tahu banyak hal yang sangat penting yang terjadi di dunia ini. Bukankah ini merupakan kebutaan dalam umat kita!

Ada juga orang yang masih awam terhadap agama. Bahkan mungkin kita pernah temui seorang Profesor di sebuah Universitas, seorang dokter spesialis, atau pengacara ulung yang tidak tahu hal-hal sepele dalam agama mereka. Atau mungkin masih ada orang yang belum tahu tentang hal-hal dasar dalam undang-undang dan aturan-aturan hidup mereka.

Kunci tegak dan berdirinya suatu Umat adalah kata “iqra“. Tidak mungkin sebuah umat dapat tegak berdiri tanpa membaca. Oleh karena itu salah seorang “dedengkot” Yahudi pernah berkata: “Kami tak pernah takut dengan bangsa Arab (Islam), karena mereka adalah bangsa yang tak dapat membaca”. Benarlah apa yang dikatakan Yahudi itu walau sebenarnya mereka adalah pembual ulung. Karena Umat yang tidak dapat membaca adalah umat yang tidak memiliki wibawa dan tak perlu disegani.

Mudah-mudahan tulisan ini dapat menggugah dan membawa pencerahan bagi penulis khususnya serta para muslimin umumnya untuk dapat mengaplikasikan titah awal yang diperintahkan pada Umat ini, membaca. Amin. Wallahu wa Rosuluhu ‘Alam.

<a href="http://jmlhopetech.files.wordpress.com/2011/12/kardus.jpg"></a
Trasa baik ketika seseorg m'rindukanmu
Trasa lebih baik lg ketika s'sorg m'yayangimu.
Tetapi yg t'baik adlh ketika s'sorg tak kan pernah melupakanmu…

Istiqamah

Oleh Dian Saputra

Suatu hari dalam wawancara di perusahaan multinasional, pada saat setelah wisuda bachelor degree. “Kenapa kamu memilih penampilan seperti ini?” tanya sang pewawancara kepada seorang fresh graduate yang mengenakan pakaian gamis panjang, berjenggot panjang dan peci selalu menempel di kepala.

“Karena saya cinta kepada Rasul saya,” jawabnya singkat.

“Saya akan memberi kamu pekerjaan dengan gaji 3.000 Dollar perbulan jika kamu mau mengubah penampilan kamu,” tantang si pewawancara.

Dengan santai sang pelamar menjawab, “Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk mengikuti test wawancara ini,” dengan tenang langkah santai dia keluar ruangan wawancara.

Beberapa jam sebelum wawancara di sebuah bus stop depan asrama. Sang Abang, yang kebetulan juga senior aku di sekolah asrama di Jawa Tengah dulu, berkata, “Do’ain Abang ya, mau wawancara nih.”

Waktu itu saya benar-benar kaget, karena latar belakang saya adalah hedonisme, saya langsung bilang, “Please lah Bro, gila aja Abang memilih penampilan seperti ini, bisa-bisa bukannya dapat kerjaan, malah dikira teroris kali.”

Dengan senyum di bibirnya dia menjawab, “Insya Allah, Allah memudahkan.”

Beberapa hari setelah hari wawancara, sang abang menemui saya di Mushala, sambil berkata, “Lagi bingung nih”. Saya dengan santai menjawab, “Ada apa? Dituduh teroris saat wawancara?”

Dengan nada lebih santai dia menjawab, “Alhamdulillah, justru aku bingung harus pilih yang mana, ada beberapa perusahaan multinasional menerima aku, dan professor pembimbing skripsiku juga menawarkan tempat untuk melanjutkan belajar langsung ke jenjang S3.”

Waaakkksss…

“Kuya lu, itu mah masalah yang membahagiakan, bukannya aplikasi program master by research juga diterima?” timpalku, “Alhamdulillah…” jawab dia dengan senyum khasnya. “Kapan makan-makan?” permintaanku pada sang abang. “Insya Allah,” jawab dia.

Sebulan kemudian kami baru bertemu lagi, karena aku mudik ke Indonesia selama liburan semester. Kita janjian di sebuah hawker center di seberang komplek universitas.

“Dua nasi ayam,” kataku pada penjual nasi ayam.

“Minum?” kataku.

“Gah ah, abis gelasnya bekas dipake buat minum bir sih,” jawab dia sambil menunjuk gelas bergambar lambang minuman bir.

“Lah kan dah disucikan make air, airkan mensucikan,” debatku sok pintar.

“Ya udah, aku beli teh hijau kaleng ya,” jawab dia menyudahi perdebatan itu.

Dasar senior aneh, dia tetep tidak memakai gelasnya, dia langsung minum dari kalengnya. “Cape deeehhh…”

“Gimana Bro, jadinya pilih yang mana?” tanyaku penasaran.

“Alhamdulillah, aku pilih melanjutkan belajar di bawah bimbingan professorku,” jawab dia.

“Gila bettt, Abang tidak mau memilih kerjaan yang menawarakan 3.000 Dollar perbulan itu?”

Jawab dia, “Imanku belum siap untuk mendapatkan ujian itu.”

“Cape deeehhh…” sahutku.

Dia melanjutkan ceritanya, “Aku ada cerita buat kamu, temen kita sampai sekarang belum mendapatkan pekerjaan. Yang menarik dari cerita ini, saat wawancara, dia juga menerima tantangan seperti yang aku dapat. Kalo dia mau mencukur jenggotnya, besok datang untuk wawancara terakhir dan lebih dari 3.000 Dollar gaji perbulan bisa dia dapatkan. Mungkin karena dia kurang istiqamah menjalani sunnah yang satu ini, akhirnya dia mencukur jenggot yang telah dia pelihara sejak tingkat satu. Dan apa yang terjadi?”

“Apa?” timpalku sambil tetap menikmati ayam goreng di meja.

“Pada hari berikutnya sang pewawancara berkata, ‘Sungguh picik pemikiran kamu. Kalau masalah agama yang paling mendasar di kehidupan kamu saja kamu kalahkan hanya demi 3.000 Dollar perbulan, lalu apa yang akan terjadi dengan perusahaan saya’.”

“Lho… ” jawabku sambil melongo.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Penampilan sang Abang tetep seperti itu, tak berubah sedikitpun. Aku salut atas istiqamah dia menjalankan sunnah Rasul.

Beberapa tahun kemudian di tempat yang sama, warung nasi ayam, “Bang, kumpeniku butuh domain expert di bidang expertise yang Abang dalami, aku bisa gaji abang $100 perjam sebagai domain expert consultant,” tawarku.

“Or gaji $5.000 perbulan sebagai full time consultant kalo mau cukur itu jenggot,” candaku.

Seperti biasa dia bisa menjawab, “Sejak kapan junior berhak memerintah senior, gini aja, aku bisa bantu kalian untuk mendapatkan pahala, angkat aku jadi CEO di kumpeni kamu, ntar semua profit dari tiap-tiap project akan aku sumbangkan buat masjid-masjid yang masih punya banyak utang kepada bank pemerintah. Gimana?”

“Cape deeehhh…”

“Bang, kapan nikah, sudah dapat kerja yang Alhamdulillah enak, sudah dapat gelar master. Banyak tuh junior-junior kita yang pasti akan menerima Abang kalo Abang mau.”

Dengan ringan sambil bercanda dia menjawab, “Wah, aku ga mau nikah dengan cewek yang kenal dengan kamu.”

“Cape deeehhh…” sahutku.

Alhamdulillah, Allah telah mengantarkan jodoh sesuai dengan yang dia inginkan. Alhamdulillah lagi terakhir dia contact aku, dia berkata, “Do’ain aku nyusul kamu jadi bapak, Isteri dah isi 3 bulan”.

“Gila, akurat juga dikau, bukannya nikahnya juga baru 3 bulan yang lalu?” candaku.

“Cape banget deeehhh…” jawabnya santai.

Ya Allah, aku bersyukur Engkau telah pertemukan hambaMu dengan makhluk yang satu ini, kuatkanlah iman dia untuk istiqamah menjalaninya. (Abu Shafiyya)

http://www.eramuslim.com/oase-iman/istiqamah.htm

Perbaruilah Perahumu, Karena Lautan Itu Sangat Dalam

Kaget, heran dan seakan tak percaya, ketika ada di antara saudara, kawan, sahabat bahkan keluarga kita yang tiba-tiba pergi mendahului kita, ruh diangkat menuju tempat dimana tak ada satupun manusia yang mengetahui. Ya maut, takdir yang Allah gariskan ini tak ada yang tau kapan, bagaimana dan dimana jiwa kita berakhir. Seorang penyair berkata :

Manusia wajib bertobat, namun meninggalkan dosa itu lebih wajib lagi

Sabar dalam menghadapi musibah itu sulit, namun hilangnya pahala sabar itu lebih sulit lagi

Perubahan zaman itu memang sesuatu yang aneh, namun kelalaian manusia itu lebih aneh lagi

Peristiwa yang akan datang terkadang terasa dekat, namun kematian itu lebih dekat lagi.

Hanya memperbaiki dan memperbaiki kulitas hidup yang kita bisa, baik itu yang bersifat horizontal (dunia) apalagi yang bersifat vertical (akhirat).

Sedih yang mendalam rasa inilah yang menyelimuti bagi kita yang ditinggalkan, wajar karena kita adalah insan yang memiliki perasaan saling memiliki dan keterikatan satu sama lain. Baru saja kita bersamanya kemarin bersenda gurau, canda dan tawa.

Tiba-tiba mendengar kabar bahwa dia sudah meninggalkan kita menuju alam yang berbeda dengan kita, alam penantian antara dunia dan akhirat yaitu alam barzakh/kubur.

Ada peringatan dan pesan yang disampaikan untuk kita yang masih diberikan kesempatan usia untuk memperbaiki hidup kita ini.

Seandainya dia yang telah meniggalkan kita dapat berpesan kepada kita yang masih hidup mungkin hadits inilah yang akan disampaikannya, yaitu sabda Rassulullah yang berpesan kepada Abu Dzar Al-Ghiffari. Simaklah dan renungkanlah pesan ini :

Rasulullah saw pernah bersabda kepada Abu Dzar Al-Ghiffari ra. :

“Wahai Abu Dzar,
Perbaruilah perahumu, karena lautan itu sangat dalam;
Carilah perbekalan yang lengkap, karena perjalanan itu sangat jauh;
Kurangilah beban, karena rintangan itu amatlah sulit untuk diatasi dan;
Ikhlaslah dalam beramal, karena yang menilai baik dan buruk adalah Zat Yang Maha Melihat.”

Perbaruilah perahumu senada dengan perbaruilah niat kita hidup di dunia, untuk apa kita berlayar kalau perahu yang kita tunggangi ternyata rusak dan akhirnya bekal yang kita bawa habis tergiling oleh ombak. Setiap amal berbanding lurus dengan niat kita, maka niatkanlah setiap amal hanya semata karena-Nya dan mohonlah keselamatan dari siksa-Nya.

Kehidupan abadi di negeri akhirat itu menempuh perjalanan yang jauh dan rintangan yang amat sulit untuk diatasi seperti laut yang dalam gelap dan membutuhkan bekal yang lengkap dan memadai. Karenanyalah tak mudah kita untuk bisa sampai kepada kebahagiaan akhirat.

Maka dari itulah beban yang ada selama perjalanan haruslah dikurangi, terlalu banyak mengambil keduniaan mengakibatkan perjalanan kita semakin berat dan sulit ketika menghadapi rintangan. Sebagaimana pesan Rasulullah kepada Salman Al-Farisi yang berbunyi, “Hendaklah bagian kalian dari kekayaan dunia ini seperti bekal seorang musafir.”

Oleh karenanya beruntunglah orang yang dalam hidupnya benar-benar hanya mengharap ridha Allah (Abu Sulaiman Ad-Darini). Perkataan Ad-Darini ini mengacu pada sabda Nabi saw yang ditujukan kepada Mu’adz ra :

“Ikhlaskan niat, niscaya engkau akan menerima balasan amalmu meskipun amalmu itu sedikit.”

Hanya niat yang lurus, bekal yang lengkap, dan tidak terlalu banyak mengambil keduniaan yang akan menghantarkan perjalan hidup kita sampai pada kebahagian dan keberuntungan negeri akhirat yang kekal.

Peristiwa yang akan datang terkadang terasa dekat, namun kematian itu lebih dekat lagi.
Wallahu a’lam bishshowwab

http://www.eramuslim.com/oase-iman/muchamad-syihabulhaq-perbaruilah-perahumu-karena-lautan-itu-sangat-dalam.htm

Ketika Sri Sultan Hamengku Buwono IX Ditilang di Pekalongan

Kota batik Pekalongan di pertengahan tahun 1960an menyambut fajar dengan kabut tipis. Pukul setengah enam pagi polisi muda Royadin yang belum genap seminggu mendapatkan kenaikan pangkat dari agen polisi kepala menjadi Brigadir Polisi sudah berdiri di tepi posnya di kawasan Soko dengan gagahnya. Kudapan nasi megono khas Pekalongan pagi itu menyegarkan tubuhnya yang gagah berbalut seragam polisi dengan pangkat brigadir.

Becak dan delman amat dominan masa itu. Persimpangan Soko mulai riuh dengan bunyi kalung kuda yang terangguk-angguk mengikuti ayunan cemeti sang kusir. Dari arah selatan dan membelok ke barat sebuah sedan hitam berplat AB melaju dari arah yang berlawanan dengan arus becak dan delman. Brigadir Royadin memandang dari kejauhan, sementara sedan hitam itu melaju perlahan menuju kearahnya. Dengan sigap ia menyeberang jalan ditepi posnya, ayunan tangan kedepan dengan posisi membentuk sudut sembilan puluh derajat menghentikan laju sedan hitam itu. Sebuah sedan tahun lima puluhan yang amat jarang berlalu di jalanan Pekalongan berhenti dihadapannya.

Saat mobil menepi , brigadir Royadin menghampiri sisi kanan pengemudi dan memberi hormat.

“Selamat pagi!” Brigadir Royadin memberi hormat dengan sikap sempurna. “Boleh ditunjukan rebuwes!”

Ia meminta surat surat mobil berikut surat ijin mengemudi kepada lelaki di balik kaca , jaman itu surat mobil masih diistilahkan rebuwes.

Perlahan , pria berusia sekitar setengah abad menurunkan kaca samping secara penuh.

“Ada apa, Pak Polisi?” tanya pria itu.

Brigadir Royadin tersentak kaget, ia mengenali siapa pria itu.

“Ya Allah…, Sinuwun!” kejutnya dalam hati. Gugup bukan main namun itu hanya berlangsung sedetik, naluri polisinya tetap menopang tubuh gagahnya dalam sikap sempurna.

“Bapak melangar verbodden, tidak boleh lewat sini, ini satu arah…”

Ia memandangi pria itu yang tak lain adalah Sultan Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Dirinya tak habis pikir, orang sebesar Sultan HB IX mengendarai sendiri mobilnya dari Yogyakarta ke Pekalongan yang jauhnya cukup lumayan, entah tujuannya kemana.

Setelah melihat rebuwes, Brigadir Royadin mempersilahkan Sri Sultan untuk mengecek tanda larangan verboden di ujung jalan, namun Sri Sultan menolak.

“Ya.., saya salah, kamu benar. Saya pasti salah!” Sinuwun turun dari sedannya dan menghampiri Brigadir Royadin yang tetap menggengam rebuwes tanpa tahu harus berbuat apa.

“Jadi…?” Sinuwun bertanya, pertanyaan yang singkat namun sulit bagi Brigadir Royadin menjawabnya.

“Em..emm.., Bapak saya tilang, mohon maaf!” Brigadir Royadin heran, Sinuwun tak kunjung menggunakan kekuasaannya untuk paling tidak bernegosiasi dengannya. Jangankan begitu, mengenalkan dirinya sebagai pejabat negara dan raja pun beliau tidak melakukannya.

“Baik, Brigadir. Kamu buatkan surat itu, nanti saya ikuti aturannya. Saya harus segera ke Tegal,” Sinuwun meminta Brigadir Royadin untuk segera membuatkan surat tilang.

Dengan tangan bergetar ia membuatkan surat tilang, ingin rasanya tidak memberikan surat itu tapi tidak tahu kenapa ia sebagai polisi tidak boleh memandang beda pelanggar kesalahan yang terjadi di depan hidungnya. Yang paling membuatnya sedikit tenang adalah tidak sepatah katapun yang keluar dari mulut Sinuwun menyebutkan bahwa dia berhak mendapatkan dispensasi. “Sungguh orang yang besar…!” begitu gumamnya dalam hati.

Surat tilang berpindah tangan. Rebuwes saat itu dalam genggamannya dan ia menghormat pada sinuwun sebelum sinuwun kembali memacu sedan hitamnya menuju ke arah barat, Tegal.

Beberapa menit kemudian Sinuwun melintas di depan Stasiun Pekalongan. Saat itu, barulah Brigadir Royadin menyadari kebodohannya, kekakuannya, dan segala macam pikiran berkecamuk. Ingin ia memacu sepeda ontelnya mengejar sedan hitam itu, tapi manalah mungkin. Nasi sudah menjadi bubur. Dan ketetapan hatinya untuk tetap menegakkan peraturan pada siapapun berhasil menghibur dirinya.

Saat aplusan di sore hari dan kembali ke markas, ia menyerahkan rebuwes kepada petugas jaga untuk diproses hukum lebih lanjut. Ia lalu kembali kerumah dengan sepeda abu-abu tuanya. Saat apel pagi esok harinya, suara amarah meledak di Markas Polisi Pekalongan. Nama Royadin diteriakkan berkali-kali dari ruang komisaris. Beberapa polisi tergopoh-gopoh menghampirinya dan memintanya menghadap Komisaris Polisi selaku kepala kantor.

“Royadin, apa yang kamu lakukan? Sak enake dhewe! Ora mikir! iki sing mbok tangkep sapa, heh? Ngawur..ngawur!”

Komisaris mengumpat dalam Bahasa Jawa. Di tangannya, rebuwes milik Sinuwun Sultan HB IX pindah dari telapak kanan ke kiri bolak-balik.

“Sekarang aku mau tanya. Kenapa kamu tidak lepas saja Sinuwun HB IX? Biarkan lewat, wong kamu tahu siapa beliau! Ngerti nggak kowe sapa Sinuwun?” Komisaris tak menurunkan nada bicaranya.

“Siap, Pak! Beliau tidak bilang beliau itu siapa. Beliau mengaku salah dan memang salah!” Brigadir Royadin menjawab tegas.

“Ya, tapi kan kamu mestinya ngerti siapa beliau . Aja kaku-kaku, kok malah mbok tilang? Ngawur, jan ngawur…. Ini bisa panjang , bisa sampai menteri!” derai komisaris. Saat itu kepala polisi dijabat oleh Menteri Kepolisian Negara.

Brigadir Royadin pasrah , apapun yang dia lakukan dasarnya adalah posisinya sebagai polisi, yang disumpah untuk menegakkan peraturan pada siapa saja. Memang koppeg (keras kepala) kedengarannya.

Kepala Polisi Pekalongan berusaha mencari tahu dimana gerangan Sinuwun Sultan HB IX, masih di Tegal-kah atau sudah ditempat lain? Tujuannya cuma satu , mengembalikan rebuwes. Namun, tidak seperti saat ini yang demikian mudahnya bertukar kabar, keberadaa Sinuwun Sultan HB IX tak kunjung diketahui hingga beberapa hari.

Pada akhirnya Kepala Polisi Pekalongan mengutus beberapa petugas ke Yogyakarta untuk mengembalikan rebuwes tanpa mengikutsertakan Brigadir Royadin.

Usai mendapat marah, Brigadir Royadin bertugas seperti biasa. Satu minggu setelah kejadian penilangan, banyak teman-temannya yang mentertawakan. Bahkan ada isu yang ia dengar dirinya akan dimutasi ke pinggiran kota Pekalongan Selatan.

Suatu sore, saat belum habis jam dinas, seorang kurir datang menghampirinya di Persimpangan Soko yang memintanya untuk segera kembali ke kantor. Sesampai di kantor, beberapa polisi menggiringnya ke ruang Komisaris yang saat itu tengah menggengam selembar surat.

“Royadin, minggu depan kamu diminta pindah!” lemas tubuh Royadin. Ia membayangkan harus menempuh jalan menanjak dipinggir kota Pekalongan setiap hari, karena mutasi ini. Karena ketegasan sikapnya di Persimpangan Soko.

“Siap, Pak..,” Royadin menjawab datar.

“Bersama keluargamu semua, dibawa!”

Pernyataan Komisaris mengejutkan Royadin, untuk apa bawa keluarga ke tepi Pekalongan Selatan. Ini hanya merepotkan diri saja.

“Saya sanggup setiap hari pakai sepeda, Pak Komandan. Semua keluarga biar tetap di rumah sekarang,” Brigadir Royadin menawar.

“Ngawur! Kamu sanggup bersepeda Pekalongan–Jogja? Pindahmu itu ke Jogja, bukan disini. Sinuwun Sultan HB IX yang minta kamu pindah tugas kesana. Pangkatmu mau dinaikkan satu tingkat!” cetus Pak Komisaris, disodorkan surat yang ada digengamannya kepada Brigadir Royadin.

Surat itu berisi permintaan bertuliskan tangan yang intinya, “Mohon dipindahkan Brigadir Royadin ke Jogja sebagai polisi yang tegas. Saya selaku pemimpin Jogjakarta akan menempatkannya di wilayah Jogjakarta bersama keluarganya dengan meminta kepolisian untuk menaikkan pangkatnya satu tingkat.” Ditandatangani Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Tangan Brigadir Royadin bergetar, namun ia segera menemukan jawabannya. Ia tak sanggup menolak permntaan orang besar seperti Sultan HB IX. Namun, dia juga harus mempertimbangkan seluruh hidupnya di Kota Pekalongan. Ia cinta Pekalongan dan tak ingin meninggalkan kota ini.

“Mohon Bapak sampaikan ke Sinuwun, saya berterima kasih, saya tidak bisa pindah dari Pekalongan. Ini tanah kelahiran saya, rumah saya. Sampaikan hormat saya pada beliau, dan sampaikan permintaan maaf saya pada beliau atas kelancangan saya…,” Brigadir Royadin bergetar, ia tak memahami betapa luasnya hati Sinuwun Sultan HB IX. Amarah hanya diperolehnya dari Sang Komisaris, namun penghargaan tinggi justru datang dari orang yang menjadi korban ketegasannya.

July 2010, saat saya mendengar kepergian Purnawirawan Polisi Royadin kepada Sang Khaliq dari keluarga di Pekalongan , saya tak memilki waktu cukup untuk menghantar kepergiannya. Suaranya yang lirih saat mendekati akhir hayat masih saja mengiangkan cerita kebanggaannya ini pada semua sanak famili yang berkumpul. Ia pergi meninggalkan kesederhanaan perilaku dan prinsip kepada keturunannya, sekaligus kepada saya selaku keponakannya. Idealismenya di kepolisian Pekalongan tetap ia jaga sampai akhir masa baktinya. Pangkatnya tak banyak bergeser, terbelenggu idealisme yang selalu dipegangnya erat erat yaitu ketegasan dan kejujuran .

Hormat amat sangat kepadamu Pak Royadin, Sang Polisi sejati. Dan juga kepada pahlawan bangsa. Sultan Hamengku Buwono IX yang keluasan hatinya melebihi wilayah negeri ini, dari Sabang sampai Merauke.

Cukup Allah sebagai Saksi

dakwatuna.com – “Bila ingin hidup ini tenang, tak usah hiraukan ada atau tidak ada orang yang melihat atau menilai amal-amal kita. Wakafaa billahi syahidaa. Cukup Allah yang menjadi saksi.” (QS. Annisa: 79).

Itulah isi SMS taushiyah yang kirimkan oleh Aa Gym. Sangat menyentuh. Untuk kita yang selama ini masih terpaku pada penilaian manusia terhadap segala perbuatan yang kita lakukan. Penilaian manusia tak bisa di jadikan sebagai tolak ukur baik atau tidaknya perbuatan kita. Bisa jadi di mata orang ini kita mendapat pujian tapi di mata yang lain kita di nilai hanya mencari sensasi semata.

Cukuplah Allah menjadi barometer setiap gerak kita. Ke mana kaki hendak melangkah. Ke mana mata hendak memandang. Apa yang ingin telinga dengar. Terlalu melelahkan bila memikirkan apa yang orang lain katakan sedangkan berbeda orang sudah tentu berbeda pendapat. Jika apa yang kita lakukan sudah sesuai syariat, maka abaikan saja penilaian orang lain. Jika memang penilaian itu mengandung sebuah nasihat kebajikan, bukalah lebar-lebar telinga dan mata hati kita. Tapi tulikan telinga kita untuk cacian dan gunjingan mereka. Bukan berarti kita harus tinggi hati jika pujian mengarah pada kita. Hanya kepada Allah, sepatutnya pujian di haturkan. Kita bisa karena Allah. Allah yang menggerakkan hati kita, meringankan langkah dalam berbuat kebaikan.

Cukup Allah menjadi saksi. Karena Allah yang Maha Tahu isi hati kita. Sedihkah atau bahagiakah.

Sebagai contoh dari beberapa berita yang saya baca. Negara Korea menjadi negara dengan tingkat bunuh diri tertinggi di dunia. Menurut Organization of Economic Cooperation and Developmemt, sebanyak 21 orang dari 100 ribu orang Korea melakukan bunuh diri.

Seorang Psikologi dari universitas Yonsei-korea, Hwang Sangmin, mencoba menganalisis fenomena bunuh diri ini. Menurutnya, orang Korea memiliki konsep Yan, dimana setiap orang berusaha bersikap diam dan tabah walaupun dalam keadaan marah. Terutama untuk kaum selebritis, pencitraan melalui konsep Yan amat besar dilaksanakan. Jika sudah di ambang batas, mereka cenderung putus asa dan akhirnya mengambil pilihan drastis untuk bunuh diri.

Itu karena di sana penilaian orang banyak menjadi tolak ukur yang utama. Image mereka ada di tangan orang banyak. Image mereka adalah kehendak orang banyak. Meskipun hal tersebut tak sesuai dengan hati nurani mereka. Terlebih bagi selebritas yang memiliki banyak penggemar. Mereka di tuntut menjadi seorang yang perfeksionis.

Faktor lain, karakter orang korea tergolong tertutup, sehingga para artis akan merasa malu jika ketahuan pergi ke konseling atau sedang depresi. Faktor agama juga tak kalah pentingnya. Hampir setengah warga Korea tidak memiliki agama, sehingga ketika mengalami depresi, penghargaan mereka terhadap kehidupan jadi rendah. Kepercayaan terhadap konsep reinkarnasi juga mendorong orang Korea mengakhiri hidupnya, dengan harapan kehidupan barunya akan lebih baik.

Akhirnya bunuh diri di anggap sebagai jalan keluar untuk menyelesaikan masalahnya. Untuk selebritas, segala perilakunya akan di contoh oleh penggemarnya. Fanatik yang berlebihan dalam mengidolakan seseorang, membuat masyarakat Korea akan mengikuti tiap perilaku yang di lakukan idolanya bahkan jika idolanya bunuh diri maka mereka akan mengikutinya. Para fans seolah terinspirasi, untuk mengakhiri suatu masalah adalah dengan jalan bunuh diri. Melihat permasalahan tersebut pemerintah Korea kini sedang menggalakkan adanya konseling untuk mengurangi populasi bunuh diri. Di harapkan dengan seperti itu masyarakat Korea mau membuka diri guna menceritakan masalahnya.

Bagi kita yang memiliki Allah sebagai penawar hati di kala kesedihan datang, melalui ayat-ayatnya yang berisi kabar gembira bagi orang yang sabar dan selalu menyerahkan segalanya kepada Allah maka tak patut kita berputus asa. Karena sesungguhnya hanya Allah tempat segala curahan rasa. Hanya Allah sebaik-baik tempat mengadu. Hanya Allah sebaik-baik saksi dari perilaku kita.

Fenomena yang terjadi Korea bisa di ambil hikmahnya, membuka diri kepada seseorang yang di percaya untuk bertukar pikiran. Bukan berarti membuka aib atau mengabaikan Allah sebagai tempat mengadu. Tentu jika hal itu di lakukan dengan pertimbangan, bahwa kita melakukan ikhtiar dengan mencari perantara Allah untuk mencarikan jalan keluar dan tanpa berlebihan.

Semoga kita menjadi hamba yang selalu mengandalkan Allah dalam tiap gerak kita. MenjadikanNya sebagai saksi utama. KarenaNya kita berlaku bukan karena yang lainnya. Merasakan Allah selalu hadir lebih dekat dari urat nadi. Aamiin.

“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya.” (QS. Fathiir: 10)

Mencari kemuliaan dan kebahagiaan dengan harta benda dan penilaian manusia pasti tak akan pernah di dapat, hanya melelahkan batin dan semu belaka. Carilah kemuliaan di sisi Allah, di jamin bahagia, mulia yang asli dan kekal. (Aa Gym)

Allahua’lam

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/12/16683/cukup-allah-sebagai-saksi/#ixzz1gZaipyd6

Tatacara Shalat Gerhana

Tidak ada satu kejadian di antara sekian banyak kejadian yang ditampakkan Allah Subhanahu wa Ta’ala di hadapan hamba-Nya, melainkan agar kita bisa mengambil pelajaran dan hikmah dari kekuasaan yang Allah ‘Azza wa Jalla tampakkan tersebut. Yang pada akhirnya, kita dituntut untuk selalu mawas diri dan melakukan muhasabah.

Di antara bukti kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala itu, ialah terjadinya gerhana. Sebuah kejadian besar yang banyak dianggap remeh manusia. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam justru memperingatkan umatnya untuk kembali ingat dan segera menegakkan shalat, memperbanyak dzikir, istighfar, doa, sedekah, dan amal shalih tatkala terjadi peristiwa gerhana. Dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam sabdanya:

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah bukti tanda-tanda kekuasaan Allah. Sesungguhnya keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang, dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah.” (Muttafaqun ‘alaihi)

PENGERTIAN GERHANA

Dalam istilah fuqaha dinamakan kusûf. Yaitu hilangnya cahaya matahari atau bulan atau hilang sebagiannya, dan perubahan cahaya yang mengarah ke warna hitam atau gelap. Kalimat khusûf semakna dengan kusûf. Ada pula yang mengatakan kusûf adalah gerhana matahari, sedangkan khusûf adalah gerhana bulan. Pemilahan ini lebih masyhur menurut bahasa. [1] Jadi, shalat gerhana, ialah shalat yang dikerjakan dengan tata cara dan gerakan tertentu, ketika hilang cahaya matahari atau bulan atau hilang sebagiannya.

HUKUM SHALAT GERHANA

Jumhur ulama’ berpendapat, shalat gerhana hukumnya sunnah muakkadah. Abu ‘Awanah Rahimahullah menegaskan wajibnya shalat gerhana matahari. Demikian pula riwayat dari Abu Hanifah Rahimahullah, beliau memiliki pendapat yang sama. Diriwayatkan dari Imam Malik, bahwa beliau menempatkannya seperti shalat Jum’at. Demikian pula Ibnu Qudamah Rahimahullah berpendapat, bahwa shalat gerhana hukumnya sunnah muakkadah. [2]

Adapun yang lebih kuat, ialah pendapat yang mengatakan wajib, berdasarkan perintah yang datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Imam asy-Syaukani juga menguatkan pendapat ini. Demikian pula Shiddiq Hasan Khân Rahimahullah dan Syaikh al-Albâni Rahimahullah. [3] Dan Syaikh Muhammad bin Shâlih ‘Utsaimin Rahimahullah berkata: “Sebagian ulama berpendapat, shalat gerhana wajib hukumnya, berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam (jika kalian melihat, maka shalatlah—muttafaqun ‘alaih).

Sesungguhnya, gerhana merupakan peristiwa yang menakutkan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkhutbah dengan khutbah yang agung, menjelaskan tentang surga dan neraka. Semua itu menjadi satu alasan kuat wajibnya perkara ini, kalaupun kita katakan hukumnya sunnah tatkala kita melihat banyak orang yang meninggalkannya, sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sangat menekankan tentang kejadian ini, kemudian tidak ada dosa sama sekali tatkala orang lain mulai berani meninggalkannya. Maka, pendapat ini perlu ditilik ulang, bagaimana bisa dikatakan sesuatu yang menakutkan kemudian dengan sengaja kita meninggalkannya? Bahkan seolah hanya kejadian biasa saja? Dimanakah rasa takut?

Dengan demikian, pendapat yang mengatakan wajib, memiliki argumen sangat kuat. Sehingga jika ada manusia yang melihat gerhana matahari atau bulan, lalu tidak peduli sama sekali, masing-masing sibuk dengan dagangannya, masing-masing sibuk dengan hal sia-sia, sibuk di ladang; semua itu dikhawatirkan menjadi sebab turunnya adzab Allah, yang kita diperintahkan untuk mewaspdainya. Maka pendapat yang mengatakan wajib memiliki argumen lebih kuat daripada yang mengatakan sunnah. [4]

Dan Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin pun menyatakan, “Jika kita mengatakan hukumnya wajib, maka yang nampak wajibnya adalah wajib kifayah.”

Adapun shalat gerhana bulan, terdapat dua pendapat yang berbeda dari kalangan ulama.

Pendapat pertama. Sunnah muakkadah, dan dilakukan secara berjama’ah seperti halnya shalat gerhana matahari. Demikian ini pendapat Imam asy- Syâfi’i, Ahmad, Dawud Ibnu Hazm. Dan pendapat senada juga datang dari ‘Atha, Hasan, an-Nakha`i, Ishâq dan riwayat dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu’anhu. [5] Dalil mereka:

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah bukti tanda-tanda kekuasaan Allah. Sesungguhnya, keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang, dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah dan shalatlah sampai terang kembali.” (Muttafqun ‘alaihi).

Pendapat kedua. Tidak dilakukan secara berjama’ah. Demikian ini pendapat Imam Abu Hanifah dan Mâlik. [6] Dalilnya, bahwa pada umumnya, pelaksanaan shalat gerhana bulan pada malam hari lebih berat dari pada pelaksanaannya saat siang hari. Sementara itu belum ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menunaikannya secara berjama’ah, padahal kejadian gerhana bulan lebih sering dari pada kejadian gerhana matahari.

Manakah pendapat yang kuat? Dalam hal ini, ialah pendapat pertama, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan kepada umatnya untuk menunaikan keduanya tanpa ada pengecualian antara yang satu dengan lainnya (gerhana matahari dan bulan). [7]

Sebagaimana di dalam hadits disebutkan, “Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam keluar menuju masjid, kemudian beliau berdiri, selanjutnya bertakbir dan sahabat berdiri dalam shaf di belakangya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Ibnu Qudamah Rahimahullah juga berkata, “Sunnah yang diajarkan, ialah menunaikan shalat gerhana berjama’ah di masjid sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, walaupun boleh juga dilakukan sendiri-sendiri,namun pelaksanaannya dengan berjama’ah lebih afdhal (lebih baik). Karena yang dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ialah dengan berjama’ah. Sehingga, dengan demikian, sunnah yang telah diajarkan ialah menunaikannya di masjid.” [8]

WAKTU SHALAT GERHANA

Shalat dimulai dari awal gerhana matahari atau bulan sampai gerhana tersebut berakhir. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, “Oleh karena itu, bila kalian melihatnya, maka berdoalah kepada Allah dan shalatlah sampai kembali terang.” (Muttafaqun ‘alaihi).

KAPAN GERHANA DIANGGAP USAI?

Shalat gerhana matahari tidak ditunaikan jika telah muncul dua perkara, yaitu (1) terang seperti sediakala, dan (2) gerhana terjadi tatkala matahari terbenam. Demikian pula halnya dengan shalat gerhana bulan, tidak ditunaikan jika telah muncul dua perkara, yaitu (1) terang seperti sediakala, dan (2) saat terbit matahari. [9]

AMALAN YANG DIKERJAKAN KETIKA TERJADI GERHANA

Memperbanyak dzikir, istighfar, takbir, sedekah dan amal shalih. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,“Oleh karena itu, bila kaliannya melihat, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalat dan bersedekahlah.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Keluar menuju masjid untuk menunaikan shalat gerhana berjama’ah, sebagaimana disebutkan dalam hadits,“Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam keluar menuju masjid, kemudian beliau berdiri, selanjutnya bertakbir dan sahabat berdiri dalam shaf di belakangnya.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Wanita keluar untuk ikut serta menunaikan shalat gerhana, sebagaimana dalam hadits Asma’ binti Abu Bakr Radhiallahu’anhuma berkata,“Aku mendatangi ‘Aisyah istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tatkala terjadi gerhana matahari. Aku melihat orang-orang berdiri menunaikan shalat, demikian pula ‘Aisyah aku melihatnya shalat.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Jika dikhawatirkan akan terjadi fitnah, maka hendaknya para wanita mengerjakan shalat gerhana ini sendiri-sendiri di rumah mereka berdasarkan keumuman perintah mengerjakan shalat gerhana.
Shalat gerhana (matahari dan bulan) tanpa adzan dan iqamah, akan tetapi diseru untuk shalat pada malam dan siang dengan ucapan “ash-shalâtu jâmi’ah” (shalat akan didirikan), sebagaimana disebutkan dalam hadits Abdullah bin ‘Amr Radhiallahu’anhuma, ia berkata: Ketika terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam diserukan “ash-shalatu jâmi’ah” (sesungguhnya shalat akan didirikan). (HR Bukhâri)
Khutbah setelah shalat, sebagaimana disebutkan dalam hadits, ‘Aisyah Radhiallahu’anha berkata: Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, tatkala selesai shalat, dia berdiri menghadap manusia lalu berkhutbah. (HR Bukhâri)

TATA CARA SHALAT GERHANA

Tidak ada perbedaan di kalangan ulama, bahwa shalat gerhana dua raka’at. Hanya saja, para ulama berbeda pendapat dalam hal tata cara pelaksanaannya. Dalam masalah ini terdapat dua pendapat yang berbeda.

Pendapat pertama. Imam Mâlik, Syâfi’i, dan Ahmad, mereka berpendapat bahwa shalat gerhana ialah dua raka’at. Pada setiap raka’at ada dua kali berdiri, dua kali membaca, dua ruku’ dan dua sujud. Pendapat ini berdasarkan beberapa hadits, di antaranya hadits Ibnu ‘Abbas Radhiallahu’anhu, ia berkata, “Telah terjadi gerhana matahari pada zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam , maka beliau shalat dan orang-orang ikut shalat bersamanya. Beliau berdiri sangat lama (seperti) membaca surat al-Baqarah, kemudian ruku’ dan sangat lama ruku’nya, lalu berdiri, lama sekali berdirinya namun berdiri yang kedua lebih pendek dari berdiri yang pertama, kemudian ruku’, lama sekali ruku’nya namun ruku’ kedua lebih pendek dari ruku’ pertama.” (Muttafaqun ‘alaihi).

Hadits kedua, dari ‘Aisyah Radhiallahu’anha, ia berkata, “Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah melaksanakan shalat ketika terjadi gerhana matahari. Rasulullah berdiri kemudian bertakbir kemudian membaca, panjang sekali bacaannya, kemudian ruku’ dan panjang sekali ruku’nya, kemudian mengangkat kepalanya (i’tidal) seraya mengucapkan: “Sami’allahu liman hamidah,” kemudian berdiri sebagaimana berdiri yang pertama, kemudian membaca, panjang sekali bacaannya namun bacaan yang kedua lebih pendek dari bacaan yang pertama, kemudian ruku’ dan panjang sekali ruku’nya, namun lebih pendek dari ruku’ yang pertama, kemudian sujud, panjang sekali sujudnya, kemudian dia berbuat pada raka’at yang kedua sebagimana yang dilakukan pada raka’at pertama, kemudian salam…” (Muttafaqun ‘alaihi).

Pendapat kedua. Abu Hanifah berpendapat bahwa shalat gerhana ialah dua raka’at, dan setiap raka’at satu kali berdiri, satu ruku dan dua sujud seperti halnya shalat sunnah lainnya. Dalil yang disebutkan Abu Hanifah dan yang senada dengannya, ialah hadits Abu Bakrah, ia berkata:

“Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam , maka Rasulullah keluar dari rumahnya seraya menyeret selendangnya sampai akhirnya tiba di masjid. Orang-orang pun ikut melakukan apa yang dilakukannya, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam shalat bersama mereka dua raka’at.” (HR Bukhâri, an-Nasâ‘i)

Dari pendapat di atas, pendapat yang kuat ialah pendapat pertama (jumhur ulama’), berdasarkan beberapa hadits shahih yang menjelaskan hal itu. Karena pendapat Abu Hanifah Rahimahullah dan orang-orang yang sependapat dengannya, riwayat yang mereka sebutkan bersifat mutlak (umum), sedangkan riwayat yang dijadikan dalil oleh jumhur (mayoritas) ulama adalah muqayyad. [10]

Syaikh al-Albâni Rahimahullah berkata, [11] “Ringkas kata, dalam masalah cara shalat gerhana yang benar ialah dua raka’at, yang pada setiap raka’at terdapat dua ruku’, sebagaimana diriwayatkan oleh sekelompok sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dengan riwayat yang shahih”. Wallahu a’lam.

Ringkasan tata cara shalat gerhana sebagai berikut.

Bertakbir, membaca doa iftitah, ta’awudz, membaca surat al-Fâtihah, dan membaca surat panjang, seperti al-Baqarah.
Ruku’ dengan ruku’ yang panjang.
Bangkit dari ruku’ (i’tidal) seraya mengucapkan: sami’allhu liman hamidah.
Tidak sujud (setelah bangkit dari ruku’), akan tetapi membaca surat al-Fatihah dan surat yang lebih ringan dari yang pertama.
Kemudian ruku’ lagi dengan ruku’ yang panjang, hanya saja lebih ringan dari ruku’ yang pertama.
Bangkit dari ruku’ (i’tidal) seraya mengucapkan: sami’allahu liman hamidah.
Kemudian sujud, lalu duduk antara dua sujud, lalu sujud lagi.
Kemudian berdiri ke raka’at kedua, dan selanjutnya melakukan seperti yang dilakukan pada raka’at pertama.

Demikian secara ringkas penjelasan tentang shalat gerhana, semoga bermanfaat.

Washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala ‘alihi washahbihi ajma’in.

Marâji’:

Al-Mughni.
Ar-Raudhah an-Nadiyah.
Asy-Syarhul-Mumti’.
Bidayatul-Mujtahid.
Irwâ‘ul Ghalil.
Raudhatuth-Thalibin.
Shahîh Fiqih Sunnah.
Tamamul-Minnah, dan lain-lain.

Catatan Kaki:

Lisanul-‘Arab, Kasyful Qanna’, 2/60.
Al- Mughni, Ibnu Qudamah, 3/330.
Fathul-Bâri (2/612), Tamamul-Minnah (261), ar-Raudhah an-Nadiyah (156).
Syarhul-Mumti’, 5/237-240.
Al- Umm (1/214), al- Mughni (2/420), al- Inshaf (2/442), Bida yatul- Mujtahid (1/160), danMuhalla (5/95).
Ibnu Abidin (2/183) dan Bidayatul-Mujtahid (1/312).
Shahîh Fiqih Sunnah, 1/433.
Al-Mughni, 3/323.
Al-Mughni (3/427), Raudhatuth-Thalibin (2/87).
Shahîh Fiqih Sunnah, 1/437.
Irwâ‘ul Ghalil, 3/132

Perjalanan Taubatnya 3 Wanita Syi’ah

Bismillahirrahmaanirrahiem, semoga shalawat dan salam tercurah atas Nabi dan Rasul termulia, junjungan kami Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Ya Allah, kepada-Mu kami berlindung, kepada-Mu kami memohon pertolongan dan kepada-Mu kami bertawakkal. Engkaulah Yang Memulai dan Mengulangi, Ya Allah kami berlindung dari kejahatan perbuatan kami dan minta tolong kepada-Mu untuk selalu menaati-Mu, dan kepada-Mu lah kami bertawakkal atas setiap urusan kami.

Semenjak lahir, yang kutahu dari akidahku hanyalah ghuluw (berlebihan) dalam mencintai Ahlul bait. Kami dahulu memohon pertolongan kepada mereka, bersumpah atas nama mereka dan kembali kepada mereka tiap menghadapi bencana. Aku dan kedua saudariku telah benar-benar meresapi akidah ini sejak kanak-kanak.

Kami memang berasal dari keluarga syi’ah asli. Kami tidak mengenal tentang mazhab ahlussunnah wal jama’ah kecuali bahwa mereka adalah musuh-musuh ahlulbait Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Merekalah yang merampas kekhalifahan dari tangan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu, dan merekalah yang membunuh Husain.

Akidah ini semakin tertanam kuat dalam diri kami lewat hari-hari “Tahrim”, yaitu hari berkabung atas ahlul bait, demikian pula apa yang diucapkan oleh syaikh kami dalam perayaan Husainiyyah dan kaset-kaset ratapan yang memenuhi laciku.

Aku tak mengetahui tentang akidah mereka (ahlussunnah) sedikitpun. Semua yang kuketahui tentang mereka hanyalah bahwa mereka orang-orang munafik yang ingin menyudutkan ahlul bait yang mulia.

Faktor-faktor di atas sudah cukup untuk menyebabkan timbulnya kebencian yang mendalam terhadap penganut mazhab itu, mazhab ahlussunnah wal jama’ah.

Benar… Aku membenci mereka sebesar kecintaanku kepada para Imam. Aku membenci mereka sesuai dengan anggapan syi’ah sebagai pihak yang terzhalimi.

Keterkejutan pertama

Ketika itu Aku sedang duduk di sekolah dasar. Di sekolah aku mendengar penjelasan Bu Guru tentang mata pelajaran tauhid. Beliau berbicara tentang syirik, dan mengatakan bahwa menyeru selain Allah termasuk bentuk menyekutukan Allah. Contohnya seperti ketika seseorang berkata dalam doanya: “Hai Fulan, selamatkan Aku dari bencana… tolonglah Aku” lanjut Bu Guru. Maka kukatakan kepadanya: “Bu, kami mengatakan “Ya Ali”, apakah itu juga termasuk syirik?” Sejenak kulihat beliau terdiam… seluruh murid di sekolahku, dan sebagian besar guru-gurunya memang menganut mazhab syi’ah… kemudian Bu Guru berkata dengan nada yakin: “Iya, itu syirik” kemudian langsung melontarkan sebuah pertanyaan kepadaku:

“Bukankah doa adalah ibadah?”

“Tidak tahu”, jawabku.

“Coba perhatikan, apa yang Allah katakan tentang doa berikut”, lanjutnya seraya membaca firman Allah:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina” (Ghaafir: 60).

“Bukankah dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa berdoa adalah ibadah, lalu mengancam orang yang enggan dan takabbur terhadap ibadah tersebut dengan Neraka?” tanyanya.

Setelah mendengar pertanyaan tersebut, aku merasakan suatu kejanggalan… aku merasa kecewa… segudang perasaan menggelayuti benakku tanpa bisa kuungkapkan. Saat itu aku berangan-angan andaikan aku tak pernah menanyakan hal itu kepadanya. Lalu kutatap dia untuk kedua kalinya… ia tetap tegar laksana gunung.

Waktu pulang kutunggu dengan penuh kesabaran, Aku berharap barangkali ayah dapat memberi solusi atas permasalahanku ini… maka sepulangku dari sekolah, kutanya ayahku tentang apa yang dikatakan oleh Bu Guru tadi.

Ayah serta merta mengatakan bahwa Bu Guru itu termasuk yang membenci Imam Ali. Ia mengatakan bahwa kami tidaklah menyembah Amirul Mukminin, kami tidak mengatakan bahwa dia adalah Allah sehingga Gurumu bisa menuduh kami telah berbuat syirik… jelas ayah.

Sebenarnya aku tidak puas dengan jawaban ayahku, sebab Bu Guru berdalil dengan firman Allah. Ayah lalu berusaha menjelaskan kepadaku kesalahan mazhab sunni hingga kebencianku semakin bertambah, dan aku semakin yakin akan batilnya mazhab mereka.

Aku pun tetap memegangi mazhabku, mazhab syi’ah; hingga adik perempuanku melanjutkan karirnya sebagai pegawai di Departemen Kesehatan.

Sekarang, biarlah adikku yang melanjutkan ceritanya…

Setelah masuk ke dunia kerja, aku berkenalan dengan seorang akhwat ahlussunnah wal jama’ah. Ia seorang akhwat yang multazimah (taat) dan berakhlak mulia. Ia disukai oleh semua golongan, baik sunni maupun syi’ah. Aku pun demikian mencintainya, dan berangan-angan andai saja dia bermazhab syi’ah.

Saking cintanya, aku sampai berusaha agar jam kerjaku bertepatan dengan jam kerjanya, dan aku sering kali bicara lewat telepon dengannya usai jam kerja.

Ibu dan saudara-saudaraku tahu betapa erat kaitanku dengannya, sebab itu aku tak pernah berterus terang kepada mereka tentang akidah sahabatku ini, namun kukatakan kepada mereka bahwa dia seorang syi’ah, tak lain agar mereka tidak mengganggu hubunganku dengannya.

Permulaan hidayah

Hari ini, aku dan sahabatku berada pada shift yang sama. Kutanya dia: “Mengapa di sana ada sunni dan syi’ah, dan mengapa terjadi perpecahan ini?” Ia pun menjawab dengan lembut:

“Ukhti, sebelumnya maafkan aku atas apa yang akan kuucapkan… sebenarnya kalianlah yang memisahkan diri dari agama, kalian yang memisahkan diri dari Al Qur’an dan kalian yang memisahkan diri dari tauhid!!”

Kata-katanya terdengar laksana halilintar yang menembus hati dan pikiranku. Aku memang orang yang paling sedikit mempelajari mazhab di antara saudari-saudariku. Ia kemudian berkata:

“Tahukah kamu bahwa ulama-ulama kalian meyakini bahwa Al Qur’an telah dirubah-rubah, meyakini bahwa segala sesuatu ada di tangan Imam, mereka menyekutukan Allah, dan seterusnya…?” sembari menyebut sejumlah masalah yang kuharap agar ia diam karena aku tidak mempercayai semua itu.

Menjelang berakhirnya jam kerja, sahabatku mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tasnya seraya mengatakan bahwa itu adalah tulisan saudaranya, berkenaan dengan haramnya berdoa kepada selain Allah. Kuambil lembaran-lembaran tersebut, dan dalam perjalanan pulang aku meraba-rabanya sambil merenungkan ucapan sahabatku tadi.

Aku masuk ke rumah dan kukunci pintu kamarku. Lalu mulailah kubaca tulisan tersebut. Memang, hal ini menarik perhatianku dan membuatku sering merenungkannya.

Pada hari berikutnya, sahabatku memberiku sebuah buku berjudul “Lillaah, tsumma littaariekh” (Karena Allah, kemudian karena sejarah). Sumpah demi Allah, berulang kali aku tersentak membaca apa yang tertulis di dalamnya. Inikah agama kita orang syi’ah? Inikah keyakinan kita?!!

Sahabatku pun semakin akrab kepadaku. Ia menjelaskan hakikat banyak hal kepadaku. Ia mengatakan bahwa ahlussunnah mencintai Amirul Mukminin dan keluarganya.

Benar… aku pun beralih menganut mazhab ahlussunnah tanpa diketahui oleh seorang pun dari keluargaku. Sahabatku ini selalu menghubungiku lewat telepon. Bahkan saking seringnya, ia sempat berkenalan dengan kakak perempuanku.

Sekarang, biarlah kakakku yang melanjutkan ceritanya…

Aku mulai berkenalan dengan akhwat yang baik ini. Sungguh demi Allah, aku jadi cinta kepadanya karena demikian sering mendengar cerita adikku tentangnya. Maka begitu mendengar langsung kata-katanya, aku semakin cinta kepadanya…

Permulaan hidayah

Hari itu, aku sedang membersihkan rumah dan adikku sedang bekerja di kantor. Aku menemukan sebuah buku bergambar yang berjudul: “Lillaah, tsumma littaariekh”.

Aku pun membukanya lalu membacanya… sungguh demi Allah, belum genap sepuluh halaman, aku merasa lemas dan tak sanggup merampungkan tugasku membersihkan rumah. Coba bayangkan, dalam sekejap, akidah yang ditanamkan kepadaku selama lebih dari 20 tahun hancur lebur seketika.

Aku menunggu-nunggu kembalinya adikku dari kantornya. Lalu kutanya dia: “Buku apa ini?”

“Itu pemberian salah seorang suster di rumah sakit”, jawabnya.

“Kau sudah membacanya?” tanyaku.

“Iya, aku sudah membacanya dan aku yakin bahwa mazhab kita keliru”, jawabnya.

“Bagaimana denganmu?” tanyanya.

“Baru beberapa halaman” jawabku.

“Bagaimana pendapatmu tentangnya?” tukasnya.

“Kurasa ini semua dusta, sebab kalau benar berarti kita betul-betul sesat dong”, sahutku.

“Mengapa tidak kita tanyakan saja isinya kepada Syaikh?” pintaku.

“Wah, ide bagus” katanya.

Buku itu lantas kukirimkan kepada Syaikh melalui adik laki-lakiku. Kuminta agar ia menanyakan kepada Syaikh apakah yang tertulis di dalamnya benar, ataukah sekedar kebohongan dan omong kosong?

Adikku mendatangi Syaikh tersebut dan memberinya buku itu. Maka Syaikh bertanya kepadanya: “Dari mana kau dapat buku ini?”

“Itu pemberian salah seorang suster kepada kakakku” jawabnya.

“Biarlah kubaca dulu” kata Syaikh, sembari aku berharap dalam hati agar kelak ia mengatakan bahwa semuanya merupakan kebohongan atas kaum syi’ah. Akan tetapi, jauh panggang dari api! Kebatilan pastilah akan sirna…

Aku terus menunggu jawaban dari Syaikh selama sepuluh hari. Harapanku tetap sama, barang kali aku mendapatkan sesuatu darinya yang melegakan hati.

Namun selama sepuluh hari tadi, aku telah mengalami banyak perubahan. Kini sahabat adikku sering berbicara panjang lebar denganku lewat telepon, bahkan ia seakan lupa kalau mulanya ia ingin bicara dengan adikku. Kami bicara panjang lebar tentang berabagai masalah.

Pernah suatu ketika ia menanyaiku: “Apa kau puas dengan apa yang kita amalkan sebagai orang syi’ah selama ini?”. Aku mengira bahwa dia adalah syi’ah, dan dia tahu akan hal itu…

“Kurasa apa kita berada di atas jalan yang benar”, jawabku.

“Lalu apa pendapatmu terhadap buku milik adikmu?” tukasnya. Akupun terdiam sejenak… lalu kataku:

“Buku itu telah kuberikan ke salah seorang Syaikh agar ia menjelaskan hakikat buku itu sebenarnya”.

“Kurasa ia takkan memberimu jawaban yang bermanfaat, aku telah membacanya sebelummu berulang kali dan kuselidiki kebenaran isinya… ternyata apa yang dikandungnya memang sebuah kebenaran yang pahit”, jelasnya.

“Aku pun menjadi yakin bahwa apa yang kita yakini selama ini adalah batil” lanjutnya.

Kami terus berbincang lewat telepon dan sebagian besar perbincangan itu mengenai masalah tauhid, ibadah kepada Allah dan kepercayaan kaum syi’ah yang keliru. Tiap hari bersamaan dengan kepulangan adikku dari kantor, ia menitipkan beberapa lembar brosur tentang akidah syi’ah, dan selama itu aku berada dalam kebingungan…

Aku teringat kembali akan perkataan Bu Guru yang selama ini terlupakan. Kuutus adik lelakiku untuk menemui Syaikh dan meminta kembali kitab tersebut beserta bantahannya. Akan tetapi sumpah demi Allah, lagi-lagi Syaikh ini mengelak untuk bertemu dengan adikku. Padahal sebelumnya ia selalu mencari adikku, dan kini adikku yang justru menelponnya. Namun keluarga Syaikh mengatakan bahwa dia tidak ada, dan ketika adikku bertemu dengannya dalam acara Husainiyyah dan menanyakan kitab tersebut; Syaikh hanya mengatakan: “Nanti”, demikian seterusnya selama dua bulan.

Selama itu, hubunganku dengan sahabat adikku lewat telepon semakin sering, dan disela-selanya ia menjelaskan kepadaku bahwa dirinya seorang sunni, alias ahlussunnah wal jama’ah. Dia berkata kepadaku:

“Jujur saja, apa yang membuat kalian membenci Ahlussunnah wal Jama’ah?”

Aku sempat ragu sejenak, namun kujawab: “Karena kebencian mereka terhadap Ahlulbait”.

“Hai Ukhti, Ahlussunnah justeru mencintai mereka”, jawabnya.

Kemudian ia menerangkan panjang lebar tentang kecintaan Ahlussunnah terhadap seluruh keluarga Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, beda dengan Syi’ah Rafidhah yang justeru membenci sebagian ahlul bait seperti isteri-isteri Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Benar, kini aku tahu tentang akidah Ahlussunnah wa Jama’ah dan aku mulai mencintai akidah yang sesuai dengan fitrah dan jauh dari sikap ghuluw (ekstrim)… jauh dari syirik… dan jauh dari kedustaan.

Kebenaran yang sesungguhnya mulai tampak bagiku, dan aku pun bingung apakah aku harus meninggalkan agama nenek moyang dan keluargaku? Ataukah meninggalkan agama yang murni, ridha Allah dan Jannah-Nya??

Ya, akhirnya kupilih yang kedua dan aku menjadi seorang ahlussunnah wal jama’ah. Aku kemudian menghubungi akhwat yang shalihah tadi dan kunyatakan kepadanya bahwa hari ini aku ‘terlahir kembali’.

Aku seorang sunni, alias Ahlussunnah wal Jama’ah.

Akhwat tersebut mengucapkan takbir lewat telepon, maka seketika itu meleleh lah air mataku… air mata yang membersihkan sanubari dari peninggalan akidah syi’ah yang sarat dengan syirik, bid’ah dan khurafat…

Demikianlah… dan tak lama setelah kami mendapat hidayah, adik kami yang paling kecil serta salah seorang sahabatku juga mendapat hidayah atas karunia Allah.

____

(Saudari-saudari kalian yang telah bertaubat)

Sumber: http://basweidan.wordpress.com

Seribu Manfaat Jambu Biji, Dari Penangkal Flu hingga Cegah Kanker

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Jambu biji memang tidak sepopuler jeruk atau semahal apel. Jika Anda berpikir jeruk adalah yang terbaik untuk vitamin C, Anda perlu mencoba jambu biji.

Satu jambu biji memiliki 165 miligram (mg) vitamin C. Sementara, satu jeruk hanya mengandung 69 mg saja. Kandungan vitamin C pada jambu biji ini efektif dalam mengobati infertilitas pria.

Di bawah kulitnya yang hijau, jambu biji memiliki banyak manfaat yang ditawarkan. Satu buah jambu sehari berguna mengurangi resiko penyakit mulai dari flu biasa, gusi bengkak, tekanan darah tinggi, obesitas, diabetes sampai kanker.

Jambu biji memiliki serat makanan berlimpah sehingga baik dikonsumsi bagi yang mengalami sembelit. Bagi yang sedang mencoba untuk menurunkan berat badan, tingginya kandungan serat jambu biji juga sangat bermanfaat.

Buah ini kaya vitamin, serat dan mineral. Jika dijadikan bagian dari makanan sehari-hari, penelitian menunjukkan jambu biji sangat efektif mencegah kanker dan penyakit jantung. Buah yang memiliki nama latin Psidium guajava ini membantu tubuh memerangi radikal bebas yang dihasilkan selama metabolisme.

Para peneliti bekerja untuk departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) telah menemukan bahwa jambu biji mungkin di antara buah terkaya antioksidan. Buah yang lezat ini juga memiliki beta karoten, kalium dan serat larut.

Jambu biji dapat meningkatkan kesehatan jantung dengan mengendalikan tekanan darah dan kolesterol. Kemampuan jambu biji untuk menurunkan tekanan darah disebabkan adanya kandungan kalium. Kalium merupakan elektrolit yang penting untuk reaksi listrik dalam tubuh termasuk pada jantung.

Buah ini juga dikenal bisa menyembuhkan luka eksternal serta mengobati pendarahan hidung dan gusi. Buah yang hidup di daerah tropis ini bisa juga mencegah penyakit ‘orang tua’ seperti pikun dan katarak. Adanya karbohidrat kompleks dan kandungan serat yang tinggi bisa bermanfaat untuk menurunkan kadar kolesterol dan gula darah.

Makan satu jambu biji untuk sarapan memberikan dosis harian yang sangat dibutuhkan seperti zat besi, asam folat, kalsium, serat, protein, karbohidrat, vitamin A, B dan banyak vitamin C. Kandungan lemak total satu jambu biji sekitar 0,9 gram atau 84 kalori. Dibandingkan dengan apel, buah ini memiliki 38 persen lemak dan 42 persen kalori yang lebih sedikit